Click Your Heart

Click Your Heart
Part 38


__ADS_3

"Ren elo udah siap kan?' Tanya Alan yang sudah berada di atas motornya.


"Iya, jangan lupa kita mampir ke tukang martabak dulu, kita beli martabak spesial buat dimakan di apartemennya mami Cindy, oke?" Tanya Irene meminta dukungan pada sahabatnya itu. Alan mengacungkan jempolnya.


Lalu ia menuju ke tukang martabak di pinggir jalan yang lumayan terkenal di daerah itu. "Telornya tiga, Bang. Dagingnya tambahin!" Perintah Irene.


"Matap Ren," puji Alan.


"Jangan lupa ntar kita patungan bayarnya," ketus Irene berbicara pada Alan.


"Iya," jawab Alan malas. Setelah itu ia ngedumel tak jelas di belakang Irene.


Seusai martabaknya jadi mereka pun menuju ke apartemen milik sahabatnya itu. "Kira-kira dia sudah makan apa belum ya? Nanti kalau udah makan kan sayang martabaknya, sayang duitnya juga," kata Irene.


"Ya elah punya temen orang pelit kaya elo mah erhitungan mulu ya," cibir Alan.


"elo sih udah dibilangin berangkat sorean malah jam segini baru dateng," protes Irene opada alna.


"Ya maaf gue ketiduran."


Ting


Setelah lift terbuka keduanya keluar. Alan menekan bel yang ada di depan rumah Cindy. Tak lama kemudian seorang laki-laki yang mereka kenal membukakan pintu.


"Eh, Tuan," kata Alan.


"Masuklah!" Ajak Devon.


"Siapa, Mas?" Tanya Cindy.


"Irene, Alan. Ada apa kalian ke sini?" Tanya Cindy yang heboh dengan kedatangan sahabatnya.


"Kami cuma mau ngasih ini," Irene menunjukkan martabak yang ia bawa.


"Kalau gitu kita makan bareng-bareng yuk di sini," ajak Cindy tapi Irene menolak.


"Ah, Tidak. Kami langsung pulang lagipula ini sudah malam."

__ADS_1


"Tapi, Ren..." belum selesai Alan berbicara kakinya sudah diinjak oleh Irene.


"Kami permisi," pamit Alan dan Irene.


"Eh tunggu." Cindy coba mencegahnya tapi mereka tetap pergi dengan tergesa-gesa.


"Kenapa mereka langsung pulang, padahal pengen banget ngobrol sama mereka," gumam Cindy sedikit kecewa.


"Non," panggil Bi Mona.


"Saya mau izin buat pulang beberapa hari. Anak saya sakit," kata Bi Mona.


"Tapi ini sudah malam, Bi. Tidak bisakah bibi pulang besok pagi?" Cindy terlihat khawatir.


"Jangan khawatir, Non. Saya sudah pesan taksi online," kata Bi Mona.


"Ambillah uang ini, semoga cukup untuk biaya perawatan anak bibi." Devon menyerahkan sejumlah uang untuk Bi Mona.


Bi Mona menerima dengan tangan bergetar. "Terima kasih banyak, Tuan." Devon mengangguk.


"Hati-hati ya, Bi." Cindy memeluk asisten rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai keluarganya itu.


"Iya, Mas. Hati-ha..." Tiba-tiba lampu mati.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba lampu padam." Devon panik. Ia pun merogoh ponselnya dan menyalakan handhphonenya guna menghubungi petugas keamanan apartemen.


"Sial ini mungkin karena jaringan listriknya terputus jadi sinyalnya tidak ada," gumam Devon.


Tiba-iba terdengar suara tangisan di dalam ruangan tersebut. "Kenapa akau jadi merindng gini ya." Devon mengusap-usap lengannya karena bergidik ngeri.


Namun, ia baru sadar telah melupakan seseorang. "Cindy, dimana dia?" Gumam Devon.


Lalu Devon merasakan celanaanya seperti ada yang menarik. Laki-laki itupun menjerit ketakutan.


"Mas Devon," teriak Cindy pada akhirnya gadi itu bersuara.


Devon mengarahkan sorot lampu handphonenya ke arah Cindy. "Ya ampun kirain siapa," ucap Devon yang merasa lega. Ia pun berjongkok menyamakan tingginya dengan sang kekasih.

__ADS_1


"Kamu ketakutan ya?" Tanya Devon sambil terkekeh.


"Ya iyalah, aku takut gelap," jawab Cindy. Gadis itu pernah menjadi korban penculikan dan disekap di tempat gelap wajar saja ia takut gelap


Lalu lampu di handphone Devon benar-benar mati karena kehabisan daya. "Sial, kenapa harus di saat seperti ini," rutuk Devon.


"Mas, aku benar-benar takut," rengek Cindy.


"Ponsel kamu mana, sayang?" Tanya Devon mungkin masih ada kesempatan mencari lilin apabila handphone Cindy menyala.


"Di dalam kamar," jawab Cindy.


Tak lama kemudian hujan tiba-tiba turun dengan lebat dan menyertakan sambaran kilat dan guntur yang menggelegar. Refleks Cindy memeluk Devon karena ketakutan.


Di tengah kilatan guntur itu Devon dapat melihat wajah Cindy dari dekat. Jika ada dua orang yang berlainan jenis bersama yang ketiga adalah setan. Devon pun terhasut oleh rayuan setan sehingga ia mulai menempelkan bibirnya ke bibir Cindy di tengah hujan yang begitu derasnya di luar sana.


Hawa dingin semakin mendukung kegiatan panas mereka. Cindy membalas ciuman Devon yang lembut itu. Gadis itu mulai terbuai dengan sentuhan kekasihnya. Entah mengapa ia berharap lebih dari sekedar ciuman saat ini.


Cindy mulai terbaring, setelah puas berman-main di bagian bibir, Devon turun ke bagian leher jenjang gadis yang berparas cantik itu. Cindy meremas rambut Devon. Devon menyunggingkan senyumnya. Cindy sepertinya tak menolak ajakan Devon melalui sentuhannya.


Mereka pun melalui malam gelap itu dengan percintaan panas mereka. Ini kali pertama bagi Devon begitu pun bagi Cindy. Meski amatir di sesi pertama, Devon sepertinya mulai menguasai permainan di percintaan selanjutnya. Sungguh, mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan itu dengan kata-kata.


Keesokan harinya, Devon terbangun lebih dulu, ia melihat wajah CIndy yang kelelahan. Laki-laki itu memindai wajah cantik yang rasanya tidak bosan untuk dipandang. Bulu matanya lentik, hidung mancung dan bibir yang kemerahan membuat wajah CIndy sempurna di mata lelaki manapun.


"Terima kasih sayang, aku janji akan segera menikahimu," ucapnya kemudian mengecup kening Cindy agak lama. Cindy menggeliat.


"Mas, kamu sudah bangun rupanya," Tanya Cindy dengan suara paraunya. Devon memeluk Cindy. "Aku harus bekerja apa tidak apa-apa meninggalkanmu sendirian di rumah?" Tanya Devon yang merasa khawatir, apalagi Bi Mona sedang pulang kampung.


"Pergilah!"


Devon pun menelepon Bayu agar membawakan pakain ganti untuknya ke apartemen Cindy.


Sembari menunggu, Devon pun mandi terlebih dulu. Cindy bangun dan membuatkan teh panas untuk Devon. Setengah jam kemudian Devon keluar dengan memakai handuk yang hanya dililitkan di bagian pinggangnya. Cindy menutup wajahnya karena malu.


Devon ingin sekali menggoda wanitanya itu. Ia mencondongkn badannya.


...***...

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya akankah Devon akan melakukan percintaan panasnya di pagi hari bersama Cindy?


__ADS_2