Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 177


__ADS_3

Anwar datang pagi-pagi sekali dia lupa tanya jam buka tempat cucian motor itu. Terlebih dia tidak sekolah jadi sedari tadi dia menunggu di luar tempat cucian motor dan mobil itu. Sembari menunggu dia melihat orang berlalu lalang di jalan raya.


Ketika melihat satpol PP dia menutup wajahnya dan bersembunyi. Jangan sampai dia ditangkap satpol PP. Anwar pun bersembunyi di balik jaketnya.


Pada jam delapan pemilik cucian motor dan pegawai lainnya baru sampai. "Lho kamu kok sudah datang?" Tanya pemilik cucian motor itu.


"Saya tidak hari ini ke sekolah karena diskors dua hari," akunya. Pegawai lain yang mendengarnya menertawakan Anwar.


"Baiklah, mulai besok kamu datang jam delapan saja," Anwar mengangguk.


Dia mengganti baju seragamnya. Lalu ada pelanggan pertama yang datang. "Anwar kamu cuci mobil itu. Sabun dan lapnya ada di sana," ucap pegawai lain yang memerintah Anwar. Anwar pun menurut.


Lalu Anwar mengambil sabun dan lap untuk mencuci mobil itu. Mobil itu tak lain milik Devon. Devon mengamati anak yang akan mencuci mobilnya. "Kamu kerja di sini?" Tanya Devon yang heran ketika melihat seorang anak yang seusianya bekerja di saat anak seusianya bersekolah.


"Iya, pak," jawab Anwar.


"Siapa nama kamu?" Tanya Devon penasaran.


"Anwar, pak."


"Nama itu aku seperti familiar tapi dengar dimana ya?" Batin Devon.


"Saya mau nyuci dulu pak." Devon mengangguk. Dia memperhatikan Anwar. Lalu dia teringat saat Cello menyebut nama teman yang dia bantu beberapa hari lalu.


"Apa dia teman Cello? Tapi kenapa dia tidak sekolah," gumam Devon.


"Sudah selesai pak," lapor Anwar pada Devon.


"Ini tips buat kamu," Devon memberikan uang seratus ribu untuk Anwar.


"Terima kasih pak." Anwar tidak mau menolak karena dia butuh uang.


"Saya suka hasil kerja kamu, lain kali saya akan mencuci mobil di sini lagi." Anwar senang mendengar pujian dari laki-laki dewasa yang tak lain dari ayah temannya itu.


Setelah Devon pergi, teman Anwar yang merupakan pegawai cuci di sana ingin merebut uang tips yang diberikan Devon.


"Bagi uangnya." Laki-laki itu merebut uang Anwar.


"Kembalikan Bang. Saya mohon."


"Bagus ya, anak baru langsung dapat tips kita aja tidak pernah."


"Itu karena kerja saya memuaskan bang. Tolong kembalikan Bang saya butuh uang."

__ADS_1


"Enak saja,"


"Heh ada apa ini ribut-ribut, kembali bekerja." Mereka pun bubar sedangkan Anwar terlihat sedih karena mereka tidak mengembalikan uang pemberian Devon


Anwar bekerja seharian jam empat sore dia baru pulang. Perutnya terasa sangat lapar karena dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Setelah itu saat kembali ke rumah Anwar langsung mengambil nasi dari magiccom.


"Ikut ektra apa sih kok akhir-akhir ini kamu pulang sore terus."


"Nanti aja buk ceritanya, perutku lapar. Besok aku bawa bekal dari rumah ya Bu biar nggak kelaparan lagi." Ibunya menggeleng-gelengkan kepala.


Badan Anwar terasa sangat pegal seperti habis dipukuli. "Ya Allah begini rasanya baru kerja sehari saja aku hampir tidak kuat apalagi kalau kerja sebulan. Semoga aku kuat sampai mendapatkan uang yang cukup untuk melunasi hutang Cello." Anwar menyemangati dirinya sendiri.


Keesokan harinya Anwar kembali berangkat pagi-pagi. "Ini sudah siapin bekal untuk kamu, air minumnya juga," kata ibunya.


"Terima kasih banyak Bu." Anwar memasukkan bekalnya ke dalam tas.


"Aku berangkat dulu ya Bu." Anwar meraih tangan sang ibu untuk dicium. "Doakan anakmu ini Bu agar mampu bekerja seharian tanpa mengeluh," doanya dalam hati.


Anwar tiba di tempatnya bekerja. Seperti biasa dia di sana menunggu sendirian.


"Pak bos,"


"Saya sengaja datang pagi karena saya yakin kamu akan menunggu seperti kemaren."


"Ayo kita buka lebih awal hari ini, saya akan memberimu uang lebih karena terhitung lembur."


"Baik, pak bos." Anwar sangat bersemangat.


"Oh ya, besok saya mulai sekolah lagi bisakah saya kerja setelah sepulang sekolah?" Tanya Anwar meminta izin.


"Ya boleh, tapi di hari Minggu kamu harus bekerja seperti biasa. Tidak ada libur di cucian motor ini jika kamu tidak masuk harus bilang ke saya. Catat nomor saya."


"Saya tidak memiliki handphone." Anwar menunduk.


"Ya sudah kumpulkan uang yang banyak agar kamu bisa membeli handphone."


"Tidak pak, saya mau ngumpulin uang untuk melunasi hutang-hutang ibu saya."


Pemilik cucian itu merasa terharu dengan pengakuan Anwar. "Ya sudah mulai bekerja. Oh ya setiap pagi buatkan saya kopi dengan satu sendok makan gula."


"Baik pak bos."


Bos pemilik cucian tersebut mengamati kerja Anwar. Di antara pegawai lainnya Anwar yang paling rajin.

__ADS_1


"Wah dia jadi anak kesayangan bos," gumam teman kerja Anwar membicarakannya di belakang.


"Iya kamu benar. Ini tidak adil bukan? Masak dia bisa kerja setengah hari doang," timpal yang lainnya.


Dari awal mereka tidak menyukai Anwar. Lalu seusai bekerja mereka mengerjai Anwar dengan mengempesi ban sepedanya.


"Bannya kenapa?" Tanya teman kerja Anwar diiringi tawa mengejek.


Anwar tak meladeni omongan mereka. Meski agak jauh tapi dia mendorong sepedanya sekuat tenaga. Beruntung hari ini dia membawa bekal sehingga dirinya tak kelaparan seperti kemaren.


Tak disangka Cello melihat Anwar mendorong sepedanya. Lalu dia menyuruh sopirnya untuk berhenti. "Anwar sepeda kamu kenapa?" Tanya Cello sembari memindai penampilan Anwar.


"Bannya kempes."


"Jam segini kok masih pakai seragam sekolah, kamu darimna saja?"


"Aku...aku" Anwar bingung mau menjawab apa.


"Mau aku temani?" Anwar menggeleng.


"Tidak kamu naik mobilmu saja. Aku ada urusan lain setelah menambal ban," bohongnya dia tidak mau merepotkan Cello lagi.


"Baiklah jika butuh bantuan kabari aku ya,"


"Kabari pakai apa, handphone saja tidak punya," gerutu Anwar sambil melihat kepergian Cello.


Anwar akhirnya menemukan bengkel sepeda. "Maaf kita sudah tutup, besok pagi saja."


"Yagh sebentar saja pak, tolong."


"Tidak bisa anak saya menunggu di rumah."


Dia terpaksa mendorong sepedanya sampai ke rumah. Sungguh hari-harinya dijalani dengan berat. Selalu ada saja cobaan yang dia hadapi setiap hari.


"Nak, kok kamu pulang telat sekali?" Tanya Murni pada anak lelakinya.


"Ban sepedaku kempes Bu, tidak ada tukang tambal ban yang buka jadi aku pulang jalan kaki."


"Kamu kan bisa tinggalkan sepeda itu di sekolah."


"Aku pikir ada bengkel yang buka ternyata sudah pada tutup aku pulangnya kesorean."


"Memang ekstrakurikuler yang kamu ikuti itu setiap hari jadwalnya?" Anwar mengangguk. Dia terus menerus membohongi ibunya. Dia merasa bersalah membohongi ibunya tapi jika ibunya tahu dia bekerja pada ibunya sedih.

__ADS_1


__ADS_2