Click Your Heart

Click Your Heart
Part 68


__ADS_3

Malam ini hujan sangat lebat. Cindy sedang menunggu suaminya di ruang tamu setelah menidurkan putranya. Cindy khawatir karena Devon tidak pulang sampai larut malam. "Kemana perginya Mas Devon?" Batin Cindy sambil meremas tangannya karena cemas.


Cindy mencoba menghubungi ponsel suaminya. Tapi tidak ada respon. "Apa mungkin karena cuaca buruk jadi sinyalnya jelek?" Gumam Cindy seorang diri.


Lalu ia putuskan untuk menghubungi Bayu. "Bayu kamu ada di mana?" Tanya Cindy pada asisten pribadi suaminya itu.


"Saya sedang di luar kota," jawab Bayu. Tanpa banyak tanya Cindy pun berpikir jika suaminya sedang ada di luar kota bersamanya.


Kemudian Cindy berlalu ke kamar putranya. Ia tidur di kamar Cello.


...***...


Devon mengerjapkan matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam kamar hotel itu. Ia melihat badannya polos tertutup selimut. Lalu saat ia menoleh, Lisa sudah ada di bawah ketiaknya.


Devon sanga terkejut. Ia berusaha mengingat-ingat kembali kejadian semalam tapi tak ada sedikitpun yang dia ingat.


Ia merasa pusing ketika memaksakan diri untuk mengingatnya. Devon memutuskan untuk bangun dan memunguti pakaiannya yang berserakan. Setelah itu ia berlalu ke kamar mandi.


Usai keluar dari kamar mandi, ia melihat Lisa yang duduk bersandar di kepala ranjang. Wanita itu sedang menangis. Devon bingung harus berbuat apa pada tunangan Bayu tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam, jadi lupakanlah aku akan memberimu uang berapa pun yang kau minta," kata Devon dengan nada dingin.


Lisa diam-diam mengulas senyum liciknya. "Bagaimana bisa keperawananku kau tukar dengan uangmu, aku bukan wanita murahan," kilah Lisa. Padahal dia sudah tidak perawan lagi. Tapi dia yakin Devon tidak mengingat kejadian semalam.


Devon meremas rambutnya fruatasi. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Tentu saja menikahiku, bagaimana kalau aku hamil di luar nikah?" Tanya Lisa. Wanita licik itu ingin menjebak Devon. Meski tak mendapatkan Tommy tapi dia mendapatkan mangsa yang lebih besar.


Devon membelalak ketika mendengar kata-kata Lisa. "Jangan gila! Aku suda beristri dan kau juga sudah bertunangan dengan Bayu."


Lisa mulai terisak. "Aku tidak tahu apakah Bayu akan menerimaku dengan keadaan sudah tak perawan lagi," ucap Lisa sambil menatap tajam ke arah Devon.


Devon membuang muka dia tak mau menatap wanita yang masih setengah telan*jang itu. "Pakailah pakaianmu akan ku antarkan pulang sekarang, sebaiknya kita bahas lagi lain kali, aku sudah tidak pulang semalaman Cindy pasti khawatir," pinta Devon. Dia merasa bersalah pada wanita yang telah bercinta dengannya semalam.


Lisa menuruti perintah Devon, ia berjalan sambil menyeret selimut yang menutupi tubuh polosnya lalu memunguti pakaiannya yang berserakan. "Sial," Devon mengumpat saat ia melihat Lisa berjalan.

__ADS_1


"Akan ku tunngu kau di bawah," ucapnya lalu melenggang pergi. Sedangkan Lisa menarik ujung bibirnya karena ia telah berhasil membodohi Devon. "Dasar laki-laki naif, kau begitu polos mau-maunya percaya pada wanita sepertiku," gumam Lisa kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.


Hampir satu jam lamanya Devon menunggu Lisa, iasudah mulai gusar. Beberapa kali Devon melihat jam tangan mewah yang melingkar di tangannya.


Sesaat kemudian Devon melihat Lisa dari kejauhan. Karena tidak mau ada yang memergokinya, Devon memberi kode pada Lisa agar mengikutinya tapi dengan menjaga jarak.


Sesampainya di tempat parkir Lisa masuk ke dalam mobil mewah milik Devon. "Beritahu alamat rumahmu akan ku antarkan kau pulang," ucap Devon dengan ekspresi wajah datar. Lisa hanya mengangguk menjawab perintah laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


Devon mulai menyalakan mesin lalu ia melaju cukup kencang ketika mengandarai mobilnya.


...***...


Di kediaman Devon


"Kenapa perasaanku tidak enak ya, tidak biasanya aku mengkhawatirkan mas Devon," ujar Cindy bergumam seorang diri.


Lalu ia kembali menghubungi nomor ponsel milik suaminya.


Saat ini Devon baru saja sampai di ruang kerjanya. Ia sedang mengecharge handphonenya. "Aku akan menghidupkannya agar Cindy bisa menghubungiku," gumam Devon.


Belum sempat Devon menjawab pertanyaan dari asisten pribadinya itu, teleponnya berbunyi. Ia melihat nama yang tertulis di layar handphonenya itu adalah nama sang istri.


Devon memijit pangkal hidungnya sambil mengangkat telepon dari istrinya. Sebenarnya dia sangat bingung saat menjawab pertanyaan Cindy nanti.


"Hallo mas, aku sangat mengkhawatirkanmu, kenapa semalam handphonemu tidak aktif? Untungnya aku menelepon Bayu dan memberi tahu kalau kau sedang berada di luar kota," ucap Cindy panjang lebar.


"Ah iya sayang, maaf semalam handphone ku lowbat, aku lupa mengisi dayanya," jawab Devon.


"Kapan pulangnya Mas?" Tanya Cindy yang merindukan suaminya.


"Hari ini aku pulang sayang," jawab Devon lalu ia mengakhiri panggilan telepon dari istrinya itu.


Devon bernapas lega setelah menutup teleponnya. Bayu sejak tadi berdiri di depan Devon sambil mendengarkan atasannya menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada Cindy semalam, yang jelas itu sangat membantuku, terima kasih banyak Bay."

__ADS_1


Meskipun Bayu tidak mengerti apa yang sedang dimaksud sang atasan, tapi ia tetap mengangguk.


Setelah seharian bekerja Devon kembali ke kediamannya. "Sayang, papa pulang," teriak Devon memanggil sang anak.


Lalu Ciny keluar setelah mendengar suara suaminya sambil menggendong Cello. "Papa kangen nak," Devon hendak memeluk anaknya tapi Cindy tidak memperbolehkan suaminya.


"Baru pulang cuci tangan dulu papa," kata Cindy menirukan suara anak-anak.


"Ah nanti sajalah, papa kangen berat sehari tidak bertemu dengan anak papa yang ganteng ini," rengek Devon agar Cindy memperbolehkannya memluk sang anak.


"Nggak boleh gitu papa, nanti kalau dedek Ello sakit bagaimana?" tambah Cindy.


Akhirnya Devon menurut omongan sang istri. Ia pun mulai menaiki tangga menuju ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah satu jam berlalu Cindy dan putranya menunggu di meja makan. Cindy mendudukkan anaknya di kursi khusus makan bayi.


Setelah Devon duduk, Cindy mengambilkan piring yang telah diisi dengan nasi beserta lauk-pauknya. "Segini cukup?' Tanya Cindy sambil memperlihatkan nasi yang ia ambil untuk suaminya itu. Devon mengangguk pelan.


"Bagiaman pekerjaan kemaren, Mas?" Tanya Cindy membuka obrolan di antara keduanya.


Devon tiba-tiba tersedak makanan yang sedang ia kunyah. "Ba-baik," jawabnya sambil gugup.


"Hati-hati mas makannya jangan terlalu terburu-buru ketika mengunyah," ucap Cindy sambil memebrikan suaminya segelas air putih.


"Oh iya nanti ajaklah Cello bermain, sepertinya dia ingin main dengan papanya," kata Cindy.


"Oke, baiklah," jawab Devon antusias.


Selama ini ia jarang bermain dengan putranya sebab ia berangkat sebelum Cello bangun dan pulang ketika putranya sudah tertidur.


Sementara itu Cindy naik untuk membereskan pakaian yang telah dipakai suaminya. Ia mengambil kemeja suaminya agar asisten rumah tangganya mencucinya di bawah.


Ia merogoh saku kemeja suaminya barangkali ada barang penting seperti flashdisk yang kemungkinan ditaruh di dalam saku. Namun, betapa terkejutnya Cindy ketika membalik kemeja suaminya itu. Ia melihat lipstik wanita menempel di bagian bahu kemeja itu.


Sesaat kemudian mata Cindy menghangat. Dadanya menjadi sesak setelah melihat bekas bibir itu. Ia meremas kemeja suaminya. "Apa kau mulai bermain api dneganku mas?" gumam Cindy dengan nada bergetar.

__ADS_1


__ADS_2