Click Your Heart

Click Your Heart
Part 137


__ADS_3

Mohon dukungannya ya berupa vote, gift, komen atau like supaya othor bersemangat menulis 🙏


Selamat membaca


...♥️♥️♥️...


"Ruby, ada yang ngirim surat buat lo," kata salah seorang siswi yang merupakan teman satu kelas Ruby.


"Surat? Dari siapa?" Tanyanya sambil mengerutkan keningnya. Temannya hanya menggedikkan bahu karena ia tidak tahu siapa yang mengirimnya. Ia hanya diperintahkan oleh penulis surat untuk menyampaikan surat itu untuk Ruby.


Ruby membuka lembaran surat itu kemudian membacanya.


Dear Ruby,


Senang bisa berkenalan denganmu.


Dari pertama kita bertemu di minimarket malam itu aku menaruh hati padamu. Kuharap kamu memiliki perasaan yang sama denganku.


Tapi percuma saja aku harus pindah keluar kota karena ayahku dipindah tugaskan di sana.


Semoga suatu saat kita bisa berjodoh.


Dani


Ruby menyobek kertas itu. "Dasar cowok nggak jelas. Bertemu sehari saja langsung menyatakan cinta," Ruby membuang kertas itu ke dalam sampah.


Lalu ia masuk ke dalam kelas. "Lo kenapa sih bete gitu kelihatannya?" Tanya teman sebangku Ruby.


"Gak apa-apa," elak Ruby. "Eh ntar main ke mall yuk. Temani gue nyari kado," pinta Ruby.


"Emangnya mau beli apa?" Tanya teman Ruby.


"Sesuatu yang spesial buat orang spesial," jawab Ruby sehingga membuat temannya penasaran.


Jam pelajaran pun usai sesuai janji Ruby ia akan membeli kado. "Sebenarnya kita nyari apa sih kesini?" Tanya teman Ruby yang penasaran. Pasalnya Ruby mengajak temannya ke sebuah toko yang menjual peralatan bayi.


"Gue mau beli sesuatu buat calon adik guelah. Mama gue kan sedang hamil." Ruby terlihat bahagia ketika menceritakan keluarganya. Meski tak satupun keluarga kandung yang menemaninya nyatanya Tuhan sangat sayang padanya hingga mempertemukan dirinya dengan orang-orang sebaik Devon dan Cindy yang mau menjadi orang tua angkatnya.


Mereka juga telah mengurus surat-surat yang menyatakan tentang pengadopsian Ruby sebagai anak Devon secara resmi.


"Oh ya? Jadi dia itu mamamu yang mana? Apa dia selingkuhan ayahmu? Aku tahu wanita cantik yang datang terakhir ke sekolah kita waktu itu bukan mamamu kan?" Tebak temannya. Ruby mengangguk.


"Mereka hanya orang tua angkatku tapi kasih sayang yang mereka berikan padaku lebih dari kasih sayang orang tua kandungku. Aku memiliki keluarga lengkap, mama, papa, dan juga adik. Bagaimana aku tidak bahagia meskipun kedua orang tuaku sudah meninggal. Nyatanya aku tidak merasa kesepian karena mereka. Aku bersyukur bertemu om Devon dengan keluarganya meskipun cara kami bertemu agak unik," ucap Ruby panjang lebar menceritakan kisah hidupnya.


"Memangnya bagaimana kalian bertemu?" Tanya teman Ruby yang penasaran. Ia tertarik mendengar cerita Ruby. Sebagai teman sebangku, ia bahkan tak tahu banyak tentang kehidupan Ruby dan keluarganya. Ruby begitu tertutup saat itu. Berbeda dengan sekarang, dia antusias ketika menceritakan keluarga barunya.


"Sudahlah, kalau aku cerita mungkin hari ini tidak cukup waktu. Lain kali pasti akan kuceritakan padamu. Ngomong-ngomong kita beli apa ya buat hadiah ibu yang sedang hamil?" Temannya hanya menggedikkan bahu.


"Aku mana tahu soal begituan. Bagaimana kalau kita lihat-lihat dulu sampai ketemu apa yang ingin kamu beli untuk calon adikmu itu." Ruby mengangguk setuju.


...***...


Hari ini Irma diminta untuk datang ke kantor polisi guna memberikan kesaksian atas dugaan perampokan yang dilakukan oleh dua orang asing yang masuk ke kediaman Cindy.


"Jadi apa saja yang sempat mereka ambil?" salah satu pertanyaan dari beberapa pertanyaan dilontarkan oleh polisi yang bertugas mengintrogasinya.

__ADS_1


"Tidak ada, mereka tidak sempat mengambil barang-barang di rumah itu," jawab Irma dengan jujur.


"Apa ada bagian anggota keluarga yang terluka saat itu?" tanya pak polisi.


"Alhamdulillah tidak ada Pak. Saya keburu memergoki mereka. Tak lama kemudian lampu menyala setelah diperbaiki oleh satpam pemilik rumah," jawab Irma.


"Jadi itu bukan rumah anda?" Irma mengangguk pada polisi tersebut. "Lalu apa hubungan anda dengan pemilik rumah?" tanya polisi.


"Kami bekerja di tempat yang sama. Suami-suami kami sedang pergi keluar kota jadi saya putuskan menginap di tempatnya."


"Baiklah untuk sekarang ini kami rasa cukup. Anda bisa pulang sekarang." Irma mengangguk.


Usai dari kantor polisi Irma pergi ke toko untuk biasanya. Entah kenapa ketika ia sampai di toko, ia merasa mual mencium aroma roti yang baru matang.


Sepanjang jalan menuju ke ruangannya Irma menutup hidung. "Kamu kenapa, Ir?" tanya Irene.


Ya, dia sudah kembali setelah Maya pulih. Tommy tahu kalau Irene ingin kembali bekerja jadi ia memperbolehkan istrinya bekerja tentunya setelah mengurus dirinya dan sang ibu.


"Nggak tahu, Ren. Aku nggak suka bau roti. Aromanya sangat menusuk hidungku membuat aku mual," akunya.


"Apa perlu kubelikan obat untukmu?" Irma menggeleng. "Aku rasa aku hanya masuk angin biasa. Boleh aku minta minyak kayu putih saja?" tanya Irma.


Irene pun mengambilkan minyak yang diminta oleh Irma. Irma tidak bisa memaksakan diri hingga pekerjaan hari ini selesai. Irma izin pada Irene untuk pulang duluan.


"Pulanglah, wajahmu terlihat pucat, aku jadi khawatir padamu," kata Irene.


Lalu Irma memilih meninggalkan mobilnya di toko agar bisa menaiki taksi. Nanti ia akan menyuruh orang untuk mengambilnya.


Sesampainya di apartemen milik Bayu, Irma yang akan menaiki lift terlihat sempoyongan. Hampir saja ia terjatuh jika seseorang tidak menolongnya.


"Terima kasih," ucap Irma menoleh pada orang itu yang tak lain adalah Lisa.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Irma pada Lisa. Ia terlihat heran.


"Aku bekerja sebagai sales marketing di bidang properti. Aku menjual unit apartemen di gedung ini," jawab Lisa. Ia tampak lebih tenang dan tidak memancing keributan.


"Sepertinya kamu sedang sakit, apa perlu aku antar dia ke dokter?" Imbuh Lisa. Irma menggeleng.


"Tidak usah, aku hanya perlu tiduran di rumah untuk menghilangkan rasa mual dan muntah ku," bantah Irma.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa."


"Aku berkali-kali ditolong seharusnya aku tidak menjaga jarak dengannya. Apa kau terlalu keterlaluan." Irma berpikir sejenak lalu ia masuk ke dalam unit apartemennya.


"Tunggu," Irma menghentikan langkahnya sendiri. "Sepertinya ada yang salah denganku," gumamnya.


Lalu Irma menuju ke kamar mandinya. Ia mengetes urinnya hari ini menggunakan alat. "Bukankah kalau hamil akan terlihat dua garis."


Tidak tampak garis dua seperti yang ia harapkan. Meski begitu ia akan memastikan. kalau dia benar hamil di dokter kandungan besok pagi.


Keesokan harinya Irma izin untuk tidak masuk toko dulu. Ia berada di depan ruang praktek dokter kandungannya.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya Irma antusias menunggu jawaban dokternya.


"Selamat, Bu. Anda positif hamil delapan Minggu. Saya akan resepkan obat dan vitamin untuk anda," kata dokter kandungan tersebut.

__ADS_1


Irma sangat bahagia. Ia bahkan tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat ini. Akhirnya setelah sekian lama menanti, ia dikaruniai anak lagi oleh Tuhan.


...***...


Kehamilan Cindy sudah memasuki bulan terakhir. Perutnya semakin membesar.


"Sayang, entah kenapa aku tidak ingin pergi ke kantor hari ini," kata Devon pada istrinya usai sarapan.


"Mas Devon sedang tidak enak badan?" Tanya Cindy.


"Aku ingin menjagamu di rumah. Bukankah kamu sering mengalami kontraksi palsu beberapa hari terakhir?" Tanya Devon memastikan.


"Iya, tapi mas tenang saja. Prediksi dokter kan kurang dua mingguan," elak Cindy.


"Pak, anda sudah ditunggu pak Bayu," lapor satpam yang bertugas di kediaman Devon.


"Baiklah, aku akan berangkat sekarang," pamit Devon seraya mengecup kening istrinya agak lama.


Ketika Devon baru melangkah beberapa meter dari rumah makan, tiba-tiba Cindy merasa mulas. Ia mengira itu hanya kontraksi palsu. Karena akhir-akhir ini ia sering merasakannya. Tapi yang ia rasakan saat ini semakin lama semakin sakit.


"Mas Devon," teriak Cindy.


Telinga tajam Devon mendengarnya. Ia segera menghampiri istrinya. "Kenapa sayang?" Tanyanya sambil bersimpuh di hadapan sang istri.


"Sepertinya aku ingin melahirkan," teriak Cindy yang merasakan kesakitan yang semakin luar biasa.


Tanpa ba bi Bu Devon menggendong tubuh Cindy lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Pak biar saya yang mengemudi," Devon mengangguk.


Bayu menyetir dengan kecepatan tinggi. Cindy sedari tadi meremas tangan suaminya untuk mengalihkan kesakitan yang ia alami.


"Mas, sakit mas, aku hampir nggak kuat Mas," Cindy menitikkan air mata. Begitu juga dengan Devon, dia tak tahan melihat sang istri tersiksa. Belum lagi membayangkan resiko yang akan dialami oleh istrinya karena Cindy sebelumnya operasi sesar. Akankah dia bisa melahirkan secara normal dan meminimalisir luka robek di bagian perutnya?Kini pikiran Devon benar-benar kalut.


"Mas," teriak Cindy.


"Bay, masih lama?" Tanya Devon khawatir.


"Sudah sampai pak," Bayu berhenti di parkiran mobil. Devon segera turun dan menggendong istrinya meskipun sekarang beratnya makin bertambah tapi tak ia hiraukan.


"Tolong jemput anak-anak di sekolahnya," pesan Devon pada asisten pribadinya itu. Bayu mengangguk patuh.


Devon menemani Cindy di ruang bersalin. "Pak anda yakin mau menemani istri anda?" Tanya perawat memastikan karena tidak semua suami tahan melihat banyak darah ketika melahirkan.


"Mas jangan pergi temani aku," kata Cindy sambil memegang erat tangan suaminya seolah enggan melepas.


"Aku di sini sayang," kata Devon sambil membungkuk. Ia akan melihat detik-detik sang istri berjuang melahirkan putranya.


"Dok apa dia bisa melahirkan secara normal?" Tanya Devon pada dokter yang menangani.


"Bu Cindy sudah pembukaan lima kemungkinan akan melahirkan secara normal pak. Tolong bantu doa dan semangati istrinya," jawab dokter itu.


Kurang dari satu jam Bayu berhasil membawa Ruby dan Cello ke rumah sakit. Semua orang telah menunggu di depan ruang bersalin dalam keadaan cemas. Ketika terdengar suara tangis bayi, semua orang bersorak.


"Selamat Bu, bayi anak cantik seperti ibunya," kata dokter yang tengah menggendong anak yang baru saja dilahirkan oleh Cindy.

__ADS_1


Devon menitikkan air mata haru lalu mencium istrinya berkali-kali. "Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang lengkap untuk keluarga kita," ucapnya pada sang istri yang masih terkulai lemas karena kehabisan tenaga.


...♥️♥️♥️♥️...


__ADS_2