Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 189


__ADS_3

Waktu pertemuan Tania yang dijadwalkan oleh ibunya akhirnya tiba. "Awas saja kalau ibu ngenalin aku sama orang yang tampangnya jelek," gerutu Tania sebelum masuk ke dalam restoran.


Alan sudah menunggu ibunya Tania lima menit sebelumnya. "Mas Alan?" Tunjuk Tania.


"Lho kamu datang sendiri?" Tanya Alan yang tak melihat ibu dari wanita yang ada di hadapannya kini.


Tania menggeleng. "Ibu berhalangan jadi dia tidak ikut," jawabnya. Tania bingung sebenarnya dengan sikap Alan, dia seolah tak mengerti maksud sang ibu yang menjodohkan dirinya dengan Tania.


Sesaat kemudian seorang pelayan toko datang untuk memberikan menu. "Mau pesan apa?" Tanyanya.


Alan sedang membaca menu. Diam-diam Tania memperhatikan Alan. "Kalau dilihat-lihat dia tidak jelek. Tapi apa dia mau sama janda seperti aku?" Tanya Tania dalam hati.


"Tania kamu pesan apa?" Pertanyaan Alan membuyarkan lamunan Tania.


"Oh samain aja," ucapnya sambil memberikan buku menu kepada pelayan tersebut.


"Sebenarnya ibu bilang apa waktu ngajak makan di sini?" Tanya Tania penasaran.


Alan tersenyum. "Dia bilang akan mentraktir aku," jawab Alan apa adanya.


Tania mencebikkan bibirnya. "Jangan khawatir biar saya yang bayar tagihannya nanti," ucap Alan saat melihat ekspresi wajah Tania.


"Oh nggak perlu mas. Biar aku aja," tolak Tania. Alan tersenyum.


"Oh ya, bagaimana dengan kerusakan mobil anda. Berapa uang yang perlu saya keluarkan untuk mengganti rugi kerusakan itu?"


"Apa dia mampu membayar biaya bengkel mobilku?" Tania meremehkan Alan dalam hatinya. Dia ragu karena dia mengira gaji Alan sebagai pelayan toko pasti tidak seberapa terlebih uangnya sudah habis untuk membeli rumah.


"Ah tidak perlu saya masih bisa membayar bengkel mobil itu sendiri kok," tolak Tania. Dia tidak mau merepotkan Alan.


Alan tersenyum. "Apa kamu mengira uang saya sudah habis setelah saya membeli rumah kamu?" Tebak Alan. Tania hanya nyengir kuda.


Makanan mereka pun tiba. Keduanya menikmati makanan tanpa berbicara sepatah kata pun. Suasana amat canggung. Tania bingung apa yang harus dilakukan setelah selesai makan.


"Mas Alan," panggil Tania


"Mbak," panggil Alan.


Mereka memanggil secara bersamaan. "Anda dulu," kata Alan.


"Anda saja," lempar Tania.


"Bagaimana kalau kita pulang saja?" Alan sebenarnya ingin mengobrol lebih lama dengan Tania tapi dia merasa canggung. Tania mengangguk dengan cepat.


Ketika Tania berdiri kakinya tersandung kursi. Tania hampir saja terjatuh jika Alan tidak menangkapnya dengan sigap.

__ADS_1


Jantungnya terasa berdebar kencang ketika bersentuhan dengan laki-laki itu. Begitupun dengan Alan, dia merasakan hal yang sama. Alan membantunya bangun.


"Maaf," ucap Tania.


Setelah itu Alan berjalan beriringan bersama Tania sampai ke tempat parkir.


"Terima kasih telah mentraktir saya makan malam hari ini," ucap Tania sebelum pergi. Alan mengangguk tak lupa dia melempar senyum ke arah Tania.


Di sana mereka berpisah karena mengendarai kendaraan masing-masing. Tania memakai mobil sedangkan Alan mengendarai motor maticnya.


*


*


*


"Bagaimana acara kencanmu tadi Tan?" Tanya ibunya yang antusias menunggu jawaban Tania.


"Ibu, ibu bilang ke Mas Alan kalau ibu yang mau traktir makan?" Ibunya mengangguk. "Cuma itu?" Ibunya mengangguk lagi.


"Ibu tidak enak kalau bilang mau menjodohkan kalian."


Tania terlihat kecewa. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya. "Kok nggak cerita apa-apa sih?" Gerutu sang ibu.


Sementara itu Alan baru sampai di rumahnya. Dia melepas helm kemudian duduk di teras rumahnya. Alan mengacak rambutnya sendiri. "Bodoh banget sih Lan kamu mendekati wanita saja tidak berani. Bisa melihatnya saja sudah suka, apalagi kalau mampu bersama dengannya dalam suka dan duka. Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah dia dari pikiranku dan dekatkanlah orang yang memang benar jodohku," doa Alan pada Sang Kuasa.


"Eh mau ke mana?" Alan menyapa balik tetangganya.


"Lagi tugas ronda Mas."


"Oh ya silakan dilanjut pak saya masuk dulu," pamit Alan masuk ke dalam rumah.


*


*


*


Suatu hari ketika Alan membeli makanan di warung dia bertemu dengan teman kerjanya dulu.


"Eh bro sekarang kamu tinggal di sini?" Sapa temannya.


"Udah lama tidak bertemu. Kamu apa kabar?" Tanya Alan.


"Baik, baik. Aku lihat kamu sekarang lebih manly daripada dulu bro. Apa ini ada hubungannya dengan usaha mencari jodoh?" Sindir temannya diiringi tawa mengejek.

__ADS_1


Tania tak sengaja mendengar obrolan mereka. Entah kenapa Tania merasa tidak suka orang lain membicarakan tentang kekurangan Alan. Saat itu Tania sengaja membeli lauk di warung yang sama dengan Alan. Karena dulu dia suka sekali makan di pinggir jalan ketika masih tinggal di rumahnya yang lama.


"Saya permisi dulu pamit Alan." Ketika dia berbalik dia tidak melihat kalau ada Tania di belakangnya.


Alan sedikit terkejut tapi dia langsung keluar dari warung makan tersebut. Nathania tidak jadi membeli lauk di sana dia mengejar Alan dan meninggalkan mobilnya di pinggir jalan begitu saja.


"Mas Alan tunggu." Alan malah ketika mendengar panggilan Tania.


"Eh mbak Sania ada apa?" Tanya Alan.


"Apa saya boleh mampir ke tempat kamu?" Alat mengangguk.


Mereka berdua berjalan menuju ke rumah Alan yang hanya tinggal beberapa meter. Namun di sepanjang jalan ibu-ibu yang melihat keduanya berjalan malah menggosipkan mereka.


"Eh itu bukannya Mbak Tania ya kok jalan sama Mas Alan sih? Apa karena dia membeli rumahnya jadi sekarang akrab dengan pemilik rumah yang lama?"


"Mungkin saja Mbak Tania sedang mendekati mas Alan. Lihat saja mereka berjalan ke arah rumahnya Mas Alan."


"Jangan-jangan mereka mau pacaran di sana?"


"Mana mungkin Bu siang bolong gini"


Kali aja Bu namanya juga lagi jatuh cinta.


"Bagaimana kalau kita ikuti saja mereka" semua ibu-ibu yang ada di situ mengangguk setuju.


Alan dan Tania sampai di rumah. Silakan duduk Mbak Tania saya ke belakang dulu untuk menaruh makanan ini.


Tania pun tidak di teras rumah. Namun tiba-tiba terdengar suara pecahan piring dari dalam rumah.


"Mas alan tidak apa-apa?" Tanya Tania khawatir.


"Tidak apa-apa Mbak saya tidak sengaja piring hingga terjatuh." Tania dan Alan sama-sama membereskan pecahan piring tersebut. Tangan Tania tidak sengaja terkena pecah hingga terluka. Alan memegang tangan Tania.


Lalu segerombolan ibu-ibu tiba-tiba datang menyergap mereka.


"Saya bilang juga apa bu. Mereka itu mau berbuat mesum"


"Iya benar," seru ibu- ibu lain.


"Ibu-ibu, ini tidak seperti yang kalian kira," Tania berusaha membela diri.


"Tangannya masih berpegangan kayak gitu masih menyangkal?"


Alan buru-buru melepas tangan Tania yang sempat yang dipegang. "Ini tidak seperti yang kalian kira."

__ADS_1


"Udah bawa aja dia ke kantor desa kita nikahkan saja atau kita arak keliling desa."


Keduanya diseret secara paksa.


__ADS_2