
"Bagaimana keadaannya sekarang dok?" Tanya Devon yang khawatir akan kondisi Cindy.
"Tidak apa saya hanya perlu mengganti perbannya saja," kata dokter muda tersebut.
Devon agak keberatan. Dia membayangkan dokter itu melihat perut mulus kekasihnya itu. "Ah, bolehkah saya aja yang mengganti perbannya?" Tanya Devon.
Cindy justru keberatan. "Tidak, aku lebih percaya pada dokter," tolak Cindy.
Devon mengepalkan tangannya. Bayu mengajaknya keluar sebentar selama dokter itu mengganti perbannya.
Sepuluh menit berlalu. "Kenapa dokter itu lama sekali di dalam? Apa saja yang ia lakukan?" Devon mulai risau. Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tahu atasannya itu sedang cemburu.
"Pak, tenanglah! Dokter tidak akan macam-macam."
Namun, sesaat kemudian Devon dan Bayu mendengar suara jeritan Cindy dari dalam kamar wanita itu. Devon membuka pintu kamar Cindy dengan paksa.
Brak
"Ada apa sayang?"
Dokter dalam posisi menunduk dan memegang perut Cindy. Devon salah paham dibuatnya. Laki-laki itu pun melayangkan bogem mentah kepada dokter tersebut. Dokter tersebut jatuh tersungkur.
"Mas, apa yang mas Devon lakukan?" teriak Cindy histeris.
Napas Devon naik turun karena marah. "Dia menyentuhmu kan?"
"Iya, tapi dokter hanya mengganti perbanku saja."
Devon menoleh ke arah kekasihnya. "Lalu kenapa kamu menjerit?"
Sementara itu Bagus membantu dokter tersebut bangun.
"Bagaimana aku tidak menjerit saat dokter melepas perbanku yang menempel?"
Devon menurunkan tangannya. "Maafkan saya Dok."
"Kalau begitu bapak ganti sendiri saja perbannya." Dokter itu keluar dengan buru-buru. Bayu mencegahnya tapi tidak berhasil.
"Lihat apa yang mas lakukan? Siapa yang akan mengganti perbanku sekarang?" Cindy mencebik kesal.
__ADS_1
"Bayu, panggilkan dokter lain carikan saja yang wanita!" perintah Devon pada asisten pribadinya. Bayu mengangguk paham. Dia pun segera keluar dari apartemen Cindy.
"Sayang, apa masih sakit?" Devon duduk mensejajarkan tingginya dengan Cindy.
"Kamu pikir?" Cindy mengerucutkan bibirnya.
"Maafin aku ya sayang." Devon memohon pada kekasihnya.
Cindy menghela napas panjang. "Mas Devon aku mohon cemburunya ditahan dulu ya, masa iya cemburu sama dokter," cibir Cindy.
"Baru ganti perban aja gak boleh, gimana nanti kalau aku melahirkan?" gumam Cindy dengan lirih. Namun, masih terdengar oleh Devon meski samar-samar. Laki-laki itu pun mengulas senyumnya.
Di luar unit Cindy, Tommy sengaja mondar mandir ke luar unitnya sendiri. Tak lama kemudian dia melihat Bagus kembali bersama dokter tapi kali ini seorang wanita.
Tommy mengerutkan keningnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Dia semakin penasaran.
Bayu masuk ke dalam apartemen Cindy. "Cepatlah dok. Calon istri saya sudah kesakitan." Cindy membelalakkan matanya mendengar dirinya disebut calon istri oleh Devon. Bayu pun demikian.
"Baik, Pak," jawab dokter tersebut.
Devon dan Bayu menunggu di luar. Kali ini mereka tidak harus risau karena yang mengganti perban adalah seorang dokter wanita.
"Baiklah, terima kasih dok sudah membantu." Dokter itu mengangguk kemudian pamit pulang.
Devon masuk ke dalam kamar Cindy. "Beristirahatlah sayang. Aku tidak mau mengganggumu semoga kamu cepat sembuh." Devon memberikan kecupan singkat di kening Cindy kemudian pergi.
Tommy yang melihat Devon keluar dari unit Cindy segera masuk ke dalam unitnya. Ia tak mau sampai Devon tahu kalau dia tinggal di sebelah Cindy.
Setelah memastikan kepergian Devon, Tommy mencoba bertamu ke unit sebelah. Ia sangat penasaran benarkah orang yang tinggal di unit tersebut adalah wanita yang ia temui di pesta kakaknya waktu itu."
Ting tong
Tommy mulai menekan bel. "Bolehkah saya bertemu dengan pemilik unit ini?" Tanya Tommy pada seorang wanita yang ia percaya bahwa wanita paruh baya tersebut adalah asisten rumah tangganya.
"Anda Siapa Tuan?" Tanya Bi Mona.
"Saya Tommy, saya tinggal di sebelah unit kalian." Tommy menunjuk ke arah unitnya.
"Owh silakan masuk. Saya panggilkan nona dulu."
__ADS_1
Tommy melihat isi unit tersebut penuh dengan funiture mewah. "Wah, Devon benar-benar memanjakan kekasihnya," gumam Tommy.
"Nona ada yang ingin bertemu dengan anda," lapor Bi Mona.
"Siapa Bi?" Tanya Cindy pasalnya tidak banyak yang tahu bahwa Cindy tinggal di unit ini. Sedangkan kekasihnya dan sang asisten baru saja pergi.
"Namanya Tuan Tommy tetangga sebelah," terang Bi Mona.
Cindy mengerutkan keningnya. Ia seperti pernah mendengar nama itu. "Baiklah saya akan keluar."
Cindy berjalan perlahan. "Mau saya bantu jalan, Non?" Bi Mona menawarkan bantuan.
"Tidak, Bi. Tolong buatkan teh untuk tamu saya." Perintah Cindy pada asisten rumah tangganya. Bi Mona mengangguk paham. Dia pun pergi ke dapur.
"Maaf, anda siapa?" Tanya Cindy pada laki-laki yang berdiri membelakangi dirinya.
Tommy menoleh ketika mendengar suara merdu yang keluar dari mulut Cindy. Laki-laki itu mengulas senyum di wajahnya. Tebakannya ternyata benar. Dia adalah wanita yang ditemuinya pada malam pesta pernikahan kakaknya.
"Nona Cindy, apa anda tidak mengenali saya?" Tanya Tommy. Cindy menggeleng.
"Saya Tommy, laki-laki yang mendekati anda di malam pesta pernikahan yang Pak Devon datangi bersama anda."
Cindy mengingat-ingat kejadian waktu itu. "Oh anda. Maaf saya baru ingat," ucap Cindy kemudian.
"Ada urusan apa anda kemari? Apa anda ingin bertemu dengan Mas Devon?" Tanya Cindy polos.
"Tidak, saya hanya ingin berkenalan dengan tetangga sebelah saya. Ternyata itu anda, saya tidak menyangka Anda pindah kemari."
"Ah iya. Saya baru pindah berapa waktu lalu. Maaf saya belum sempat menyapa tetangga saya."
"Ini tehnya, Tuan. Silakan diminum!"
Merasa situasi yang canggung, Tommy memutuskan untuk keluar dari apartemen Cindy.
"Terima kasih tapi saya rasa saya langsung pulang saja karena ini sudah malam," pamit Tommy setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ah, kapan-kapan anda boleh mampir ke unit saya," imbuh Tommy.
"Baik," jawab Cindy singkat. Ia mengantar sampai ke ambang pintu. Tommy mengangguk hormat. Cindy pun membalasnya lalu menutup pintu.
__ADS_1
"Eh aku lupa bertanya kenapa dia memanggil dokter tadi," gumam Tommy.