
Tommy dan Maya terkejut saat Dokter bilang kalau keadaan Cindy sedang kritis. Maya menangis karena dia merasa sedih. "Ini semua salah mama, seandainya saja Cindy tidak menolong mama waktu itu, dia pasti tidak akan kritis seperti sekarang ini," ucap Maya sambil terisak.
"Ma, jangan menyalahkan diri sendiri! Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita di masa depan," Tommy berusaha menghibur ibunya.
"Sebaiknya kita lihat anaknya dulu." Tommy mengajak ibunya menengok bayi Cindy yang ada di ruang khusus perawatan bayi.
Mereka melihat dari luar ruangan melalui kaca jendela. "Apakah aku harus memberitahu Devon tentang keadaan Cindy saat ini?" Batin Tommy yang merasa dilema.
Di satu sisi ia tidak mau kehilangan Cindy apabila Devon mengetahui kalau anak yang dilahirkan oleh Cindy adalah darah dagingnya. Namun, di sisi lain Tommy tidak mau egois. Bayi itu juga berhak untuk mendapat kasih sayang dari ayahnya.
"Aku antar Mama pulang sekarang," ajak Tommy.
"Tapi bagaimana dengan Cindy dan anaknya?" Tanya Maya.
"Mama tenang saja ada suster yang akan merawat mereka di sini." Tommy berusaha membujuk ibunya agar mau pulang. Akhirnya Maya menurut perkataan putranya itu.
Usai mengantarkan ibunya sampai ke rumah dengan selamat, Tommy memutuskan untuk menghampiri Devon ke kantornya. saat ini menunjukkan pukul 02.00 siang, dia yakin jam segini pasti Devon masih berada di kantor.
Tommy majukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama ia sampai ke hotel di mana Devon bekerja. Tommy langsung naik ke atas menuju ke ruangan Devon.
"Pak apa yang membuat anda..." Tommy tidak menghiraukan pertanyaan dari Bayu. Pemuda itu melewati Bayu begitu saja.
Brak
Tommy membuka pintu ruangan Devon dengan kasar. Devon terkejut ketika melihat Tommy masuk secara tiba-tiba ke dalam ruangannya.
"Ada apa ini?" pertanyaan Devon dijawab oleh Tom dengan sebuah pukulan di wajahnya.
Bug
"Breng*sek, Sudah lama aku ingin melakukan ini padamu," ucap Tommy dengan geram.
"Pak, tolong lepaskan Pak Devon!" Pinta Bayu pada Tommy yang sedang mencengkeram kerah Devon.
"Seharusnya aku yang berhak memukulmu karena kamu telah berselingkuh dengan wanitaku," ucap Devon membela diri.
__ADS_1
Bug
Tommy kembali memberikan sebuah pukulan di wajah Devon. "Dasar laki-laki tidak tahu diri, seenaknya saja kamu membuang Cindy setelah kamu menghamilinya," bentak Tommy.
Devon seakan tersambar petir di siang bolong. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan Tommy. Bayu juga tidak kalah kaget mendengar bahwa atasannya itu telah mneghamili Cindy di luar nikah.
"Apa yang kamu omongkan?" Devon merasa bingung. Dia Cindy tengah mengandung darah daging Tommy. Ternyata dia salah.
"Jadi kamu tidak ingat telah melakukannya? Dasar laki-laki breng*sek." Tommy maju dan hendak memukul depan untuk kesaktian kali tapi Bayu berhasil mencegahnya. "Tolong kendalikan diri anda!" Pinta Bayu dengan tegas pada Tommy. Tommy pun menurunkan tangannya.
"Datanglah ke rumah sakit untuk menjenguk bayimu, Cindy sudah melahirkan." Tommy berkata dengan nada yang bergetar. Dia seolah tidak rela mengatakan kejujuran yang sebenarnya pada laki-laki yang telah dipukulinya itu.
Mata Devon membelalak mendengar ucapan Tommy. Ia berjalan ke arah Tommy dan mencengkeram kerahnya. "Katakan di rumah sakit mana Cindy melahirkan?"
"Di Rumah sakit Permata Hati," jawab Tommy. Dia berusaha melapangkan dadanya.
Devon bergegas menuju rumah sakit yang Tommy sebutkan. Sesampainya di sana Devon bertanya kepada resepsionis rumah sakit tersebut. "Tolong katakan di mana ruangan pasien atas nama Cindy yang baru saja melahirkan?" Tanya Devon dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari.
"Oh, dia masih di ruang ICU Pak." Devon mengerutkan keningnya. "Kenapa belum dipindahkan ke ruang perawatan?" Tanya Devon yang bingung.
Ia meraup mukanya kasar. Bayu yang baru datang menyusul melihat Devon dengan wajah frustasi. "Ada apa Pak?" Tanya Bayu.
"Cindy kritis," kata Devon lirih.
"Lalu bagaimana dengan keadaan bayinya?" Pertanyaan dari Bayu membuatnya ingat. "Ah kau benar." Ia pun kembali bertanya pada perawat di mana bayi yang telah dilahirkan Cindy. Perawat menunjukkan ruang bayi.
"Bayi nyonya Cindy terletak di box paling ujung, Pak. Jenis kelaminnya laki-laki," kata perawat itu.
"Sus, Apakah bayinya sudah diazani?" Tanya Devon pada suster itu.
"Sepertinya belum Pak karena tidak ada keluarganya yang datang kemari kecuali orang yang mengantarkan nyonya Cindy ke rumah sakit ini," ungkap perawat wanita tersebut.
"Izinkan saya mengazdaninya," ucapan Devon membuat suster bingung. "Saya ayahnya," terang Devon.
Kemudian suster mengambil bayi laki-laki yang sedang tertidur itu. Ia memberikannya pada Devon. Mata Devon menjadi berkaca-kaca ketika menggendong bayi beberapa saat lalu baru dilahirkan.
__ADS_1
Devon mulai mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil tersebut. Setelah itu ia mengembalikan bayi itu ke ruangan bayi.
"Kapan saya boleh mengambilnya?" Tanya Devon
"Bayi ini hanya boleh dibawa pulang oleh keluarganya pak," terang perawat tersebut.
Devon bingung tidak ada bukti yang bisa menyatakan kalau dia adalah ayah dari bayi kecil itu. "Bayu tolong urus prosesnya agar aku bisa membawa pulang bayiku," pintanya pada asisten pribadinya.
"Baik, Pak. Saya akan menghubungi pengacara agar anda bisa membawa pulang bayi ini dengan surat kuasa yang dilegalkan oleh pengacara," kata Bayu.
Devon kembali memandang bayi itu melalui kaca jendela. "Aku akan menyiapkan nama untukmu, bersabarlah nak," gumam Devon.
...***...
Di apartemennya, Tommy merasa risau. Ingin sekali ia berkunjung ke rumah sakit untuk menengok Cindy dan juga anaknya. Tapi urung ia lakukan karena ia sadar Devon berada di sana. Laki-laki itu lebih berhak ketimbang dirinya.
"Apakah aku harus merelakanmu Cindy?" Gumam Tommy yang merasa kecewa.
Ia tak ingin egois mungkin Cindy memang bukan jodohnya. Tommy pun menyambar kunci mobilnya. Ia sangat ingin mengetahui keadaan Cindy.
Sesampainya di rumah sakit, Tommy bertemu dengan Devon. Laki-laki itu terlihat berantakan. "Apa kau sudah melihat Cindy?" Tanya Tommy.
"Ya, aku tidak mengira dia mengalami masa sulit seperti ini." Devon mencoba tegar.
"Dev, aku memang mencintai Cindy bahkan sangat mencintainya, tapi aku sadar kalau Cindy lebih membutuhkanmu."
Devon menoleh ketika mendengar ucapan Tommy. "Kau memang tak seharusnya merebutnya dariku," kata Devon dengan nada yang dingin.
"Aku akan mencoba merelakan Cindy untukmu, aku hanya ingin dia berada di samping orang yang tepat," kata Tommy dengan bijak. Ia berusaha menata hatinya yang hancur.
Devon tidak menyangka Tommy akan berkata demikian. "Terima kasih telah menjaga Cindy selama ini, aku berhutang banyak padamu," kata Devon. Ia pun merangkul Tommy. Tommy membalasnya meski yang dirasakan hatinya saat ini sungguh sakit bagai dihujam tombak.
...***...
...Level tertinggi mencintai adalah merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama dengan orang yang ia cintai....
__ADS_1
...Pengorbanan dalam cinta itu biasa. Bukan berarti sia-sia namun tanpa sadar kita telah berjasa padanya....