
Devon merasa gelisah sudah dua jam di ruang operasi Alma belum juga keluar untuk menyampaikan kabar tentang istrinya.
Devon duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar dia duduk lalu berdiri. Berjalan mondar-mandir karena gelisah.
Tak lama kemudian Alma keluar dari ruang operasi. Devon segera menghampiri Alma. "Bagaimana keadaan istriku?"
Alma melepas sarung tangan yang ia pakai lalu menurunkan maskernya. "Operasinya berjalan lancar," jawab Alma.
"Terima kasih Alma." Tanpa sadar Devon menggenggam tangan Alma saking bahagianya.
Alma jadi baper. Jantungnya berdegup kencang karena laki-laki yang dia sukai memegang tangannya.
"Devon, apa yang kamu lakukan padaku? Aku semakin tidak bisa melupakanmu, bodoh," umpat Alma dalam hatinya.
Sesaat kemudian Devon menyadari ekspresi wajah Alma yang tidak bisa diartikan.
Devon melepas pegangan tangannya.
"Ehem, maaf." Devon berusaha menetralkan diri.
"Apakah aku sudah bisa menemuinya?" Tanya Devon tidak sabar.
Alma mencebik. "Nanti saja setelah dipindahkan ke ruang perawatan. Oh ya, istrimu itu apa pernah melakukan operasi selain sesar? Aku lihat sebuah jahitan di perutnya tapi bukan di bagian yang digunakan untuk operasi sesar." Tanya Alma penasaran.
Devon menghela nafas. "Ya, dulu dia pernah ditusuk oleh orang jahat." Devon sebenarnya tak ingin mengingat masa lalunya.
Alma tak menyangka Cindy pernah mengalami hal semengerikan itu. "Lukanya cukup dalam kalau ku perkirakan." Devon mengangguk membenarkan. Devon terlihat sendu.
"Ya sudah aku permisi," pamit Alma.
Devon mengangguk. "Terima kasih." Alma tak sengaja menatap mata Devon jantungnya semakin berdegup kencang. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya.
"Ah sepertinya aku akan periksa jantung," gumam Alma lirih sambil berjalan meninggalkan Devon.
Sejam kemudian Cindy dipindahkan ke ruang perawatan pasien. Devon mengikuti istrinya yang sedang didorong oleh perawat. Mereka masuk ke ruang VVIP.
"Saya tinggal dulu Pak. Seandainya butuh bantuan anda bisa memencet tombol itu." Tunjuk perawat itu pada sebuah tombol warna merah yang menempel di dinding. Devon mengangguk paham.
Devon duduk di samping istrinya yang masih belum sadarkan diri. Dia menggenggam tangan Cindy dan sesekali mengecupnya. "Cepatlah sembuh, Cello membutuhkanmu."
Setelah itu Devon mengirim pesan pada Bayu kalau istrinya habis dioperasi. Lalu ia beralih menelepon asisten rumah tangganya agar menjaga Cello selama ia menjaga Cindy di rumah sakit.
...***...
Cello pulang ke rumah dalam keadaan sepi. Mbak Nana, pengasuhnya sudah diberitahu oleh Mbok Nah kalau majikan mereka masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Ya ampun kasian sekali Bu Cindy," kata Nana yang terkejut.
"Jangan keras-keras nanti den Cello sedih kalau mendengarnya," kata Mbok Nah sambil berbisik.
Cello berlari kesana kemari mencari ibunya. "Mbak, mama belum pulang ya? Cello kangen."
Ikatan ibu dan anak memang kuat. Sedari tadi Cello nampak gelisah dan selalu menanyakan ibunya. Mbak Nana dan Mbok Nah bingung harus menjawab apa.
"Nanti juga pulang. Bagaimana kalau kita main di kamar? Cello mau mbak buatin susu?" Tanya Mbak Nana.
Cello menggeleng. "Cello mau ditemenin sama mama," rengeknya. Cello mulai menangis. Makin lama tangisannya makin kencang.
Mbak Nana kewalahan mengasuh anak kecil itu. Cello menangis tanpa bisa ditenangkan padahal mereka sudah berusaha membujuk Cello dengan berbagai cara. Karena merasa semua cara sudah dicoba, Mbok Nah memberanikan diri untuk menelepon ayah Cello.
"Ada apa mbok Nah?" Tanya Devon.
"Den Cello rewel Pak. Dia menangis dari tadi minta dipertemukan dengan Bu Cindy."
"Baiklah, nanti aku akan meminta kakak iparku ke sana untuk menemui Cello."
Setelah mengatakan itu. Devon beralih untuk menghubungi Celine. "Celine, aku bisa minta tolong."
"Katakan!"
"Tolong temani Cello, dia menangis menanyakan ibunya."
"Cindy masuk rumah sakit karena operasi usus buntu."
"Apa? Baiklah. Aku akan ke rumahmu sekarang."
Ketika Celine sampai di rumah Devon, Cello tertidur tapi matanya masih terlihat basah karena habis menangis. "Kasian sekali kamu sayang." Celine membelai rambut Cello dengan lembut.
Lalu Celine beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk keponakannya itu.
"Dah selesai," Celine bermonolog ketika sudah selesai menyiapkan makanan untuk Cello.
Lalu suara tangisan Cello kembali terdengar dari kamarnya. Celine melepas celemek yang ia gunakan untuk memasak kemudian berjalan menuju kamar Cello.
"Sayang, rupanya kamu sudah bangun?" Celine membawa Cello dalam pelukannya.
"Mama, mama." Cello meneriaki mamanya.
"Tenang sayang, mama baik-baik saja. Bagaimana kalau kita makan dulu. Aunty sudah masak banyak untuk Cello." Cello digendong oleh Celine sampai ke meja makan.
Cello mulai berhenti menangis ketika melihat banyak makanan enak yang terhidang di meja.
__ADS_1
...***...
Irma mendapatkan kabar dari suaminya kalau Cindy sedang dirawat di rumah sakit. Irma langsung menuju ke rumah sakit setelah menutup toko.
Irma membawa sebuah makanan untuk Devon dan sekeranjang buah untuk Cindy.
Tok tok tok
Devon membukakan pintu. "Kamu istrinya Bayu, kan?" Irma hanya mengangguk menjawab pertanyaan Devon.
"Silakan masuk."
"Bagaimana keadaannya? Oh iya ini saya bawakan makanan untuk bapak. Suami saya yang meminta saya membeli makanan ini," terang Irma agar Devon tidak salah paham.
"Terima kasih. Dia baru saja dioperasi karena mengalami usus buntu," terang Devon.
Tak lama kemudian Devon diminta perawat untuk menemui dokter yang menangani Cindy.
"Tolong jaga dia sebentar!" Irma mengangguk patuh.
Lalu Devon berjalan menuju ke ruangan Alma. Alma yang melihat kedatangan Devon mempersilakan dia duduk.
"Apa ada sesuatu yang serius?" Tanya Devon to the point.
"Aku hanya ingin memberikan saran supaya istrimu menjalani program KB," kata Alma.
"Memangnya kenapa? Kami ingin memiliki banyak anak," kata Devon dengan jumawa.
"Dia sudah tiga kali menjalani operasi di bagian perutnya, jadi aku sarankan untuk menunda kehamilan dulu paling tidak dua tahun dari sekarang. Aku hanya khawatir jika dia hamil akan beresiko membahayakan nyawanya saja."
Devon mencerna omongan dokter wanita itu. "Baiklah, tapi setelah itu dia bisa hamil kan?" tanya Devon.
"Sebaiknya nanti kau konsultasikan dengan dokter kandungan."
"Apa kau sudah menikah?" Tiba-tiba Devon menanyakan hal itu pada Alma.
Alma gugup menjawabnya. "Apa aku harus melapor padamu?" Jawab Alma dengan ketus.
Devon menarik ujung bibirnya. "Segitunya kamu nggak bisa move on dariku, Alma," batin Devon sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah itu Devon keluar dari ruangan dokter itu. "Terima kasih atas bantuannya," ucap Devon diambang pintu.
Irma mengerutkan keningnya ketika Devon terlihat akrab berbicara pada dokter wanita yang lumayan cantik itu.
"Dasar laki-laki dimana-mana sama saja," gerutu Irma lirih.
__ADS_1
Setelah itu dia menghampiri Devon. "Pak, saya mau pamit soalnya takut kemalaman."
"Oh baiklah. Terima kasih sudah menengok istri saya." Irma mengangguk lalu pergi.