
Tangisan Cindy pecah ketika ia baru keluar dari rumah sakit. Rasa sesak di dadanya tak tertahan lagi ketika melihat seorang wanita mengungkapkan perasaannya secara gamblang di depan suaminya apalagi disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
"Tuhan, kenapa kau berikan aku cobaan yang tak ada hentinya?" Ia berucap sambil memegangi dadanya yang sesak.
Dengan langkah gontai dan deraian air mata Cindy berjalan untuk menemukan taksi meskipun belum jelas ke mana ia akan pergi setelah ini.
Seberapa pun besarnya cinta Cindy pada suaminya, bila mengingat kejadian tadi dirinya merasa terpukul. Dia heran mengapa rumah tangganya selalu dihadapkan dengan masalah yang datang dan pergi.
Langit seakan mengerti kondisi hati Cindy sekarang. Hujan yang turun awalnya hanya gerimis kini menjadi hujan lebat yang sangat deras. Namun, tak satupun taksi yang berhenti di depannya.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil yang perlahan terbuka menampakan wajah Devon. Cindy pura-pura tidak melihat dan membuang mukanya.
"Sayang ayo masuk dulu di luar hujan lebat nanti kamu sakit," bujuk Devon.
Cindy pura-pura tuli. Merasa tak mendapatkan tanggapan dari istrinya Devon terpaksa turun dari mobil menghampiri Cindy.
"Ku mohon sayang masuklah dulu ke mobil kita bicara baik-baik." Devon masih berusaha membujuk istrinya.
"Tolong biarkan aku sendiri dulu." Berhadapan dengan suaminya saat ini hanya membuat hati sendiri semakin terluka.
"Mana mungkin aku membiarkan istriku sendirian di tengah hujan lebat seperti ini? Aku sangat mencintaimu sayang tidak pernah ada wanita lain dalam hatiku selain kamu."
Cindy malah berjalan menjauhi Devan Devan sudah tidak punya cara lain untuk membujuk istrinya akhirnya ia terpaksa menggendong Cindy dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Setelah menutup pintu mobil untuk Cindy, ia berjalan menuju ke belakang kursi kendali. Kini ia mulai menginjak pedal gas mobil dan melajukan kuda besi itu dengan kencang.
"Mas, kamu mau kita mati?" Teriak Cindy yang ketakutan. Devon hanya menoleh sekilas ke arah istrinya lalu ia kembali fokus ke jalanan yang tertutup gerimis.
Jalanan sangat licin dan berbahaya. Cindy berkali-kali merapalkan dia memohon keselamatan kepada Tuhan.
Setelah sampai di kediamannya Devon memaksa Cindy turun. "Ayo turun!" Cindy masih terpaku di kursinya.
Devon merasa tak sabar hingga dia mengangkat tubuh Cindy lalu membawanya masuk ke dalam. Meski Cindy memberontak Devon tak menghiraukannya.
Ia masuk ke dalam kamar mandi lalu menyalakan air hangat. Ia membantu istrinya mandi.
Devon memberikan kecupan manis di bibir istrinya. Namun, Cindy tak membalas. Ia masih dilingkupi rasa kecewa pada suaminya. Devon menyadari hal itu.
__ADS_1
Sungguh kini ia ingin melepaskan rindu karena telah lama tak melakukannya. Tapi Devon menahan diri agar ia tak menerkam istrinya kali ini.
Ia hanya mencium bibir dan ceruk lehernya. Itu saja telah membuat miliknya bangun. Tapi lagi-lagi Devon harus menahan diri. Cindy masih dalam masa penyembuhan. Luka di perutnya yang bekas operasi seharusnya tak terkena air. Namun, luka itu jadi basah ketika Cindy kehujanan tadi.
Usai mandi Cindy masih saja cemberut. "Harusnya kau biarkan saja aku pergi."
Devon mendekat ke arah istrinya. "Hanya karena pengakuan seorang wanita padaku kamu semarah ini?"
Cindy tak menyangka Devon menanggapinya dengan santai. "Mana ada istri yang tidak marah kalau suaminya dicintai wanita lain?"
Devon memijit pangkal hidungnya. "Tapi aku tidak mencintainya sayang. Kamu juga lihat sendiri kalau aku juga tidak menjawab ungkapan cintanya bukan?"
Cindy nampak berpikir. Devon menggenggam tangan istrinya. "Aku mohon percayalah padaku. Aku tidak ingin menyakitiku. Aku mencintaimu sayang, hanya kamu."
Sejenak pandangan mereka bertemu. Cindy melihat ke dalam mata Devon. Ia melihat keseriusan di matanya. Cindy pun luluh.
"Aku ingin istirahat," ucapnya sambil menaikkan selimut.
Devon mengecup kening istrinya agak lama. "Beristirahatlah!"
Devon memilih keluar. Lalu ia membiarkan Cindy beristirahat.
"Iya boleh. Sekalian siapkan makanan juga untuk istri saya."
"Baik, Pak."
Lalu Devon menelepon Celine. "Aku sudah kembali ke rumah, sopir akan menjemput Cello sebentar lagi," kata Devon pada kakak iparnya melalui sambungan telepon.
Usai mengatakan itu Devon menutup panggilannya secara sepihak.
Celine menjauhkan teleponnya. "Dia kenapa sih ketus banget?"
Celine menatap iba pada Cello. Lalu Cello mendekat ke arahnya. "Aunty, Cello mau pulang?" Rengek Cello sambil menarik-narik ujung baju yang ia pakai.
"Iya, sayang. Nanti sopir mau jemput Cello," kata Celine.
Hujan di luar masih sangat deras. Cello ketakutan ketika mendengar suara petir. Celine memeluk anak itu agar tidak ketakutan lagi.
__ADS_1
"Semoga saja hujannya cepat reda," gumam Celine.
...***...
"Bagaimana ini apa aku harus ke rumah Devon untuk meminta maaf pada Cindy secara langsung?" Alma menjadi gelisah karena merasa bersalah.
"Kamu memang bodoh Alma. Harusnya kamu bisa menahan diri," Alma sibuk bermonolog di dalam kamarnya.
Sungguh ia menyesal membuat hati Cindy terluka. Dia menyadari kalau apa yang dia lakukan itu salah.
Tok tok tok
"Alma boleh mama masuk?" Teriak sang ibu dari luar.
"Masuk, Ma."
"Kamu sedang apa?" Tanya sang mama.
Alma seketika memeluk mamanya. "Ma, Alma sudah melakukan kesalahan besar," ucapnya dengan nada bergetar.
"Apa yang sudah kamu perbuat hingga membuat kamu merasa bersalah seperti ini sayang?"
"Aku telah mengungkapkan perasaanku pada laki-laki yang telah beristri," ucapnya dengan ragu-ragu. Tapi Alma biasa menceritakan apa yang terjadi padanya kepada sang ibu.
"Sayang, itu kesalahan yang fatal. Bagaimana kamu bisa terpikir untuk melakukan itu?"
"Alma salah Ma. Alma pikir dengan mengungkapkan perasaan Alma padanya ia akan menerima Alma. Ternyata dia mempertahankan istrinya Ma."
"Sayang, kamu tidak berniat menjadi orang ketiga kan?" Ibunya sungguh tidak percaya akan perbuatan nekad putrinya.
"Alma khilaf Ma. Alma dibutakan cinta."
"Alma, mencintai itu tidak harus memiliki. Jika kamu tahu dia sudah beristri seharusnya kamu bisa menahan diri. Kamu tahu akibat perbuatanmu itu?" Alma mengangguk.
"Aku telah menyakiti hati istrinya Ma. Aku egois, aku...aku..." Alma menangis tersedu-sedu.
Sang ibu mengelus rambut anaknya dengan sayang. "Alma, mama yakin sudah ada laki-laki yang lebih baik dari dia. Kamu hanya perlu membuka diri untuk laki-laki lain. Tolong jangan merendahkan diri kamu dengan menjadi perusak rumah tangga orang lain," tutur ibunya dengan lembut.
__ADS_1
"Apakah aku harus minta maaf sekarang Ma?"
"Jangan sekarang Nak. Berikan mereka waktu untuk menenangkan diri. Meminta maaf di saat yang tidak tepat hanya akan membuatmu semakin dibenci." Alam mengangguk patuh.