
Tommy berkunjung lagi kali ini dia membawa ibunya. "Maaf baru mengunjungimu," kata Maya ketika baru sampai di rumah sakit.
"Tidak apa-apa Tante." Wajah Cindy terlihat pucat. Selain kurang tidur dia juga jarang makan. Karena sudah beberapa hari Sari tak mengirim makanan padanya.
"Cin, kamu baik-baik saja nak?" Tanya Maya yang cemas. Karena saat menyentuh lengan wanita itu, suhu badannya terasa panas.
"Saya tidak apa-apa tante." Kata Cindy tapi nyatanya dia tumbang setelah menjaga Cello seminggu lamanya.
Beruntung Tommy segera menangkapnya. Lalu Tommy memanggil perawat agar dia diperiksa.
"Saya rasa Nyonya Cindy kecapekan dan kurang tidur, itu terlihat dari lingkar matanya yang menghitam," terang Dokter.
"Saya akan memberikan obat sementara waktu biar dia istirahat di sini," imbuhnya lagi.
Baik, Dok. Terima kasih," kata Tommy sebelum dokter itu keluar dari ruangan.
Tomny menatap kasian pada Cindy. "Ma, tolong jaga Cindy sebentar aku mau lihat keadaan Cello," kata Tommy.
"Biar mama saja yang ke ruangan Cello," kata Maya.
"Tidak ma, kalau aku yang menunggui Cindy orang lain akan berpikiran buruk padaku." Penjelasan Tommy membuat Maya mengerti.
Lalu Tomny beranjak ke ruangan Cello. Di sana ia melihat Devon yang membawa sebuket bunga.
Tommy mempercepat langkahnya. Ia langsung memukul wajah Devon ketika ia sampai di depan ruangan Cello.
"Apa-apaan kau ini?" Tanya Devon yang terjatuh di lantai.
"Itu pantas buatmu. Kamu tega membiarkan Cindy menjaga Cello sendirian sampai dia pingsan," geram Tommy.
"Apa? Dia pingsan? Di mana dia sekarang?" Cecar Devon.
"Tutup mulutmu!" Tommy mencengkeram kerah baju Devon.
"Sudah kuperingatkan padamu, perlakukan Cindy dengan baik atau aku akan merebutnya kembali," ancam Tommy.
Lalu ia bangun. "Temui dia di ruangan sebelah. Dia sedang di rawat di sana. Ada ibuku yang menemani Cindy," terang Tommy.
Devon berlari ke ruangan dimana Cindy dirawat.
__ADS_1
Brak
Devon membuka pintu dengan kasar. Ia berlari dan memeluk Cindy yang kini sudah sadar. "Maafkan aku sayang," ucapnya sambil memeluk sang istri.
"Mas, malu ada tante Maya," kata Cindy agar Devon melepas pelukannya.
Devon pun melepas pelukannya. Dia menoleh ke arah Maya sejenak lalu menganggukkan kepala sebagai bentuk hormat.
"Mas mukamu kenapa?" Cindy memegang wajah suaminya bekas pukulan Tommy.
"Tidak apa-apa." Devon tidak menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia tidak mau Cindy khawatir.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" Tanya Devon posesif.
Cindy mengulas senyum, sepertinya suaminya sudah kembali peduli dengannya. "Tidak ada aku hanya pusing dan kelelahan," jawab Cindy dengan lemah.
"Maafkan aku," ucap Devon dengan penuh penyesalan.
"Sementara kamu istirahat saja biar aku yang jaga Cello," kata Devon.
"Tapi mas..."
Maya merasa tidak enak berada di ruangan itu. "Kalau begitu tante permisi ya Cindy. Cepat sembuh karena Cello butuh kamu," pesan Maya.
"Iya tante. Terima kasih sudah berkunjung. Sampaikan terima kasihku pada Tommy juga," kata Cindy sambil tersenyum ramah pada Maya.
"Iya." Maya pun keluar dari sana.
"Mas sebaiknya kamu tunggui Cello di ruangannya. Nanti dia akan menangis jika tidak ada yang menunggui." Pinta Cindy pada suaminya.
"Kan ada perawat sayang," tolak Devon.
Cindy mengela nafas. "Mas, perawat hanya lewat saja mereka tidak menunggui. Cello masih anak-anak dia pasti takut jika di ruangan itu sendirian," terang Cindy panjang lebar.
"Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" Tanya Devon yang cemas pada istrinya.
"Tentu saja aku masih bisa mengerjakan sesuatu sendiri, tapi Cello dia tidak bisa apa-apa jika tidak ada orang dewasa yang menemaninya. Oh ya, jangan sesekali membentak dia kalau sedang menangis. Wajar dia menangis bila sedang merasakan sakit. Tenangkan dengan lembut."
Cindy berharap suaminya itu akan ingat pesan yang ia sampaikan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ke ruangan Cello." Setelah mengecup kening Cindy, Devon keluar dari ruangan itu.
Devon kini berada di ruangan Cello. Cello tengah menangis ketika ia baru sampai. "Ada apa sayang kenapa kamu menangis?" Tanya Devon sambil menggendong Cello.
Cello tidak menjawab. Kemungkinan dia takut karena saat ia bangun dia sendirian. Devon masih berusaha mendiamkan anaknya.
"Cello, papa mohon berhentilah menangis!" Pinta Devon dengan lembut. Sebisa mungkin dia menahan emosi agar tidak membentak Cello.
Suara Cello yang terus menangis membuat telinganya hampir pecah. Karena putus asa Devon memanggil perawat.
"Ada apa pak?" Tanya seorang perawat yang masuk.
"Tolong beri obat penenang pada anak saya agar dia berhenti menangis."
Perawat itu terkejut mendengar penuturan Devon. "Apa saya tidak salah dengar? Mana boleh memberi obat penenang pada balita. Obat itu tidak sembarangan diberikan pada pasien. Kenapa pak? Anda kuwalahan mengurus anak anda yang sakit?" Tanya perawat wanita itu. Devon mengangguk.
Perawat itu mendengus. "Belum ada sehari anda menungguinya tapi anda sudah mengeluh. Bagiamana nasib istri anda yang berhari-hari menunggui putra anda. Bahkan seingat saya dia jarang tidur karena anak anda selalu rewel."
Setelah itu perawat tersebut keluar ruangan. Karena dia berpikir tidak ada masalah medis yang perlu ditangani.
Keterangan perawat wanita itu seolah menampar Devon. Selama ini dia tidak menyadari kesulitan yang dialami oleh Cindy ketika merawat Cello yang sedang sakit. Dia malah terus memberikan tekanan padanya.
"Maafkan aku sayang, aku terus menyalahkanmu atas kecelakaan yang menimpa Cello." gumam Devon sambil memeluk Cello.
Cello tiba-tiba tertidur dalam dekapan Devon setelah kelelahan menangis. Devon membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang.
Ia merasa iba dengan putranya. "Kenapa harus kamu yang mengalami semua ini? Kalau bisa dipindahkan, papa rela menanggung sakit yang kamu derita asal kamu bisa ceria kembali, nak." Tak terasa air mata laki-laki itu menetes.
Kini Devon baru menyadari kalau seberat ini menjaga anak yang sedang sakit.
Setelah itu, Devon melepas jasnya. Ia menggulung kemejanya sampai ke siku. Lalu ia mengambil air minum. Dilihatnya persediaan air tinggal sedikit bahkan camilan pun tak ada.
"Bagaimana kamu makan sayang, apa kamu makan teratur?" Gumamnya ketika mengingat Cindy. Kemungkinan Cindy jatuh pingsan karena kelaparan sebab tak sempat membeli makan di luar.
Devon pun memutuskan untuk menghubungi Bayu melalui sambungan telepon.
"Bayu, sementara ini saya akan menjaga Cello di rumah sakit karena Cindy juga dirawat saat ini. Tolong belikan saya air dan makanan juga!" Perintah Devon pada asisten pribadinya
"Baik, pak," jawab Bayu melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Devon tampak tertidur dalam posisi duduk. Ia lumayan kelelahan karena setelah setengah hari bekerja, ia harus menenangkan Cello.