
"Apa kau punya waktu malam ini?" Tanya Arya sedikit berbisik ke telinga Lisa. Lisa mendongak dan tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan Arya.
Arya menggandeng tangan Lisa yang ia duga sebagai wanita penghibur itu. Karena dalam sekali tawaran wanita itu langsung mau. Lisa tersenyum tipis karena Arya masuk perangkapnya.
Arya memanggil layanan hotel untuk menyiapkan hidangan makan malam ke dalam kamarnya. Rupanya dia telah memboking sebuah kamar untuk tinggal hari ini.
"Apa kau tinggal di sini?" Tanya Lisa yang heran saat Arya membawanya masuk ke sebuah kamar begitu saja.
Arya tersenyum. "Ini bukan hotelku tapi aku akan menguasainya sebentar lagi. Aku hanya menyewa kamar sehari saja," ucapnya seraya tersenyum menyeringai mengingat Ruby masih menjadi tawanannya.
Ia hampir saja lupa mengubungi anak buahnya. Lalu Arya mengambil telepon genggam yang yang ada di atas nakas.
"Kamu mandilah dulu!" Perintah Arya pada Lisa.
Lisa benar-benar merasa direndahkan. "Sial dia mengira aku wanita penghibur sungguhan. Jadi dia sengaja menyewa kamar ini untuk bersenang-senang dengan wanita penghibur." Lisa membatin sambil mengamati Arya yang sedang menelepon. Ia jadi penasaran apa yang sedang dibicarakan dengan anak buahnya sampai dia harus menjauh.
Usai menelepon Arya menoleh ke arah Lisa. "Kamu tidak mandi?" Tanya Arya yang heran sejak tadi Lisa hanya bergeming.
"Aku menunggumu tapi sepertinya kau sibuk dengan urusanmu," goda Lisa dengan suara yang dibuat-buat. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Arya.
Arya tersenyum lebar mendengar penuturan Lisa. Dengan sekali angkat, Arya membawa tubuh Lisa dalam gendongannya. Lisa tersentak kaget. Ia refleks mengalungkan tangannya ke leher Arya.
"Sial, dia benar-benar mesum. Bayu kau harus membayar mahal untuk ini," batin Lisa geram. Meski begitu ia mencoba tersenyum di depan Arya.
"Kau terburu-buru, Mas. Belum ada satu jam kita berkenalan kamu sudah semesum ini," cibir Lisa.
Arya menarik ujung bibirnya. "Bukankah ini pekerjaanmu? Lebih cepat lebih baik bukan? Aku akan membayarmu mahal." Arya memberikan penawaran.
"Berapa yang kau berikan untuk membayar harga diriku ini?" Tanya Lisa sambil tersenyum licik. Jari telunjuknya menyusuri bagian dada Arya.
Arya mulai meremang. "Sebutkan saja berapa yang kau inginkan?" Tantang Arya.
"Serahkan semua hartamu!" Jawab Lisa.
"Hahaha," Arya tertawa nyaring. "Aku suka wanita serakah sepertimu. Tapi penuhi dulu keinginanku."
Arya membawa Lisa masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan mengajak Lisa bermain di dalam sana. Suara-suara yang keluar dari mulut Lisa memenuhi seluruh ruangan kamar mandi.
Satu jam cukup untuk melakukan pergulatan di kamar mandi. Keduanya keluar dalam keadaan basah.
"Kau sungguh menawan sayang, aku sangat menyukai permainanmu," puji Arya seraya membelai pipi Lisa.
__ADS_1
"Ingat janjimu, Mas. Aku akan mengejarmu ke ujung dunia kalau sampai kau membohongiku," ancam Lisa. Arya malah tertawa mendengar ucapannya.
"Kau meragukanku? Aku ini akan mewarisi seluruh kekayaan yang ditinggalkan oleh seorang janda kaya." Arya mulai bercerita. Lisa harus segera mengorek informasi darinya.
"Oh ya?" Lisa pura-pura terkejut mendengarnya.
"Ya, aku telah menculik seseorang yang bisa kujadikan jaminan agar seluruh kekayaannya bisa kukuasai," jawab Arya sambil memakai kemejanya.
Di saat Arya berdiri membelakangi Lisa, wanita itu memasukkan bubuk ke minuman Arya.
"Wah wah kau nekad sekali." Lisa mengelus dada bidang Arya. "Apa aku perlu membantumu?" Tanya Lisa berpura-pura kooperatif.
Arya menyukai sikap Lisa yang terbilang nakal. "Kau hanya perlu memuaskanku di ranjang," bisik Arya ke telinga Lisa.
Lisa pura-pura mendorong dada Arya. "Apa kau tidak haus. Aku ambilkan minum untukmu," Lisa menyodorkan segelas air putih kepada Arya.
"Terima kasih kau sangat pengertian. Aku rasa kau pantas mendampingiku?" Arya menerima air minum pemberian Lisa. Ia meminum air itu hingga tandas.
Tak butuh waktu lama Arya mulai mengantuk. Ia bahkan tergeletak di atas ranjang begitu saja. Ini kesempatan Lisa untuk melihat isi handphone pria itu selama dia tertidur.
"Sial handphonenya dikunci, sebaiknya aku bawa saja handphone ini agar Bayu yang memeriksanya langsung," gumam Lisa.
Setelah itu Lisa berencana keluar dari kamar hotel. Tak lupa dia menguras isi dompet Arya.
Seseorang menghubungi Devon melalui ponselnya. "Hallo," jawab Devon saat mengangkat nomor telepon yang tidak tercatat dalam kontaknya.
"Om, om Devon," teriak Ruby melalui sambungan telepon.
"Ruby, Ruby," panggil Devon.
"Kau sudah mengenali suara itu bukan? Sekarang turuti apa perintah kami, serahkan semua harta yang kalian miliki atau nyawa gadis ini jadi taruhannya," ancam laki-laki itu.
"Katakan dimana kau sekarang!" Sentak Devon.
"Temui aku besok di tempat yang aku tentukan dengan membawa surat rumah, tanah dan aset-aset yang lainnya. Ingat jangan sampai polisi tahu atau nyawa gadis ini akan melayang begitu saja," ancamnya.
"Hallo, hallo." Devon menjambak rambutnya frustasi saat sambungan teleponnya diputus secara sepihak.
"Bay, apa ada perkembangan?" Tanya Devon pada Bayu.
"Saya sedang meminta bantuan seseorang untuk mencari bukti kejahatan Arya, Pak," jawab Bayu.
__ADS_1
"Meminta bantuan pada siapa Bay?" Tanya Bayu penasaran.
"Mas Bayu," panggil Lisa dengan berteriak.
"Lisa?" Devon menoleh pada Bayu seolah meminta penjelasan pada asisten pribadinya itu.
"Mas," sapa Lisa saat melihat Devon. Devon tak membalas. Tapi Lisa tak ambil pusing.
"Mas Bayu, aku ingin menyerahkan ini padamu." Lisa memberikan sebuah handphone kepada Bayu.
Beberapa saat lalu Bayu memberitahu keberadaannya pada Lisa ketika Lisa mengirim pesan padanya.
"Itu handphone milik Arya, tapi aku tidak bisa membuka kuncinya," imbuh wanita itu.
"Bagaimana bisa kau mendapatkannya?" Tanya Devon tak mengerti.
"Semua ini ide saya, Pak," terang Bayu.
"Dan aku meminta imbalanku, Mas." Lisa menengadahkan tangannya ke arah Devon.
Devon masih bingung dia menatap Bayu seolah meminta penjelasan darinya.
Bayu yang merasa gugup lalu mengalihkan pembicaraan. "Sebaiknya kita cari cara agar handphone ini bisa dibuka, Pak. Saya akan meminta bantuan pada Julian. Sementara itu anda bisa pikirkan cara lain untuk menyergap komplotan mereka." Bayu memberikan saran setelah itu pergi.
Sementara ini Lisa masih berdiri di dekat Devon. "Mas, mana bayaranku?" Tanya Lisa menagih imbalan pada Devon.
"Urusanmu dengan Bahu bukan denganku," tukas Devon sambil berjalan meninggalkan Lisa.
"Ingat Mas, aku bersusah payah mendapatkan bukti itu karena kamu." Teriakan Lisa membuat Devon menghentikan langkahnya.
"Bilang saja berapa yang kau inginkan. Nanti Bayu akan mentransfer uangku padamu," kata Devon dengan penuh penekanan.
Lisa tidak bisa berbuat banyak. Tapi dia yakin Devon bukanlah seorang pembohong. Lisa yakin ia akan mendapatkan imbalannya.
"Meskipun aku akan mendapatkan banyak uang dari Mas Devon, tapi aku belum puas kalau belum mengerjaimu Mas Bayu," gumam Lisa sambil tersenyum penuh arti.
...♥️♥️♥️...
Kira-kira kapan mereka akan menyelamatkan Ruby ya? Ikuti terus jalan ceritanya.
Mampir ke novel teman aku juga ya.
__ADS_1