Click Your Heart

Click Your Heart
Part 27


__ADS_3

"Selamat siang Pak Devon," sapa Tommy yang baru sampai di restoran Celine bersama sekretarisnya Sinta.


"Silakan duduk," kata Devon. Laki-laki itu tampak memasukkan sesuatu ke dalam sakunya.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Tommy.


Dua jam berlalu, mereka pun saling berpamitan. Sampai Tommy keluar dari restoran tersebut Devon masih berada di dalam. "Apa yang sebenarnya dilakukan oleh laki-laki itu?" Tommy menaruh curiga pada Devon.


...***...


"Celine aku permisi dulu nanti akan kusampaikan pemberianmu pada Cindy."


"Baiklah, lain kali ajak dia kesini," teriak Celine.


"Pak setelah ini anda mau ke mana?" tanya Bayu.


"Saya akan ke apartemen Cindy," kata Devon.


"Dasar bos bucin," batin Bayu.


"Baik, Pak."


"Antarkan saja aku ke sana nanti pulangnya tidak usah kau jemput. Aku akan memerintahkan sopirku untuk mengirim mobilku ke apartemennya."


Mereka pun menuju ke apartemen Cindy. Ketika Devon akan memasuki pintu lift, laki-laki itu berpapasan dengan Tommy.


"Hei, ada apa mencariku sampai kemari?" tanya Tommy pada Devon.


"Kau tidak usah GR, aku kesini bukan untuk menemuimu," jawab Devon dengan ketus.

__ADS_1


"Lalu?"


"Bukan urusanmu," jawab Devon lalu ia naik ke lantai empat dimana unit Cindy berada.


Setelah Devon menutup pintu lift Tommy melihat Devon naik ke lantai empat. Tommy mengerutkan keningnya. "Itu kan unitku berada."


Karena penasaran akhirnya Tommy mengikuti Devon. Saat ia membuka lift ia melihat Devon sekilas masuk ke dalam unit tetangganya. "Sebenarnya siapa yang ada di dalam unit itu?" gumam Tommy.


Ia berpikir sejenak. "Ah tunggu kemaren dua orang mencari seseorang atas nama Cindy, apakah mungkin unit itu milik Cindy? Dasar ba*jing*an. Teenyata dia seorang playboy." Tommy mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang ia lihat. Namun, tidak sesuai kenyataannya.


"Mas Devon, masuk mas!" Ucao Cindy sambil tersenyum ke arah kekasihnya.


"Kata Bayu hari ini kamu pulang ke kosan sebelum pergi ke kampus?" tanya Devon.


"Iya itu benar, aku hanya mengambil barang-barang yang tertinggal di sana," jawab Cindy.


"Aku punya sesuatu untuk kamu." Perkataan Devon membuat Cindy penasaran.


Devon memberikan sebuah kotak kecil untuk Cindy. Cindy membuka kotak tersebut berisikan sebuah kalung yang cantik. "Ini hadiah perkenalan dari kakak iparku."


Devon membantu memasangkan kalung tersebut. Cindy menyibak rambutnya. Sejenak Devon melihat leher kekasihnya yang begitu menggoda. Setelah memasang kalung itu, Devon memeluk Cindy dari belakang. Ia mengecup bahu wanitanya itu. Cinsy meremang.


"Mas..."


Devon memutar badan Cindy dan memegang kedua bahunya. "Aku tidak tahan untuk tidak menciummu," kata Devon.


Ia pun menempelkan bibirnya pada bibir Cindy. Cindy terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba dari Devon. Tidak bisa dipungkiri ia menikmati apa yang laki-laki itu lakukan padanya.


Devon melepas pagutannya ketika melihat Cindy kesulitan bernapas. Ia menempelkan keningnya ke kening Cindy. "I love you Cindy," ucap Devon padanya.

__ADS_1


Cindy mengalungkan tangannya ke leher Devon. "I love you too Mas Devon."


"Permisi tuan, ini minumannya." Bi Mona meletakkan minuman di meja lalu pergi ke belakang.


"Mas aku malu, apa tadi Bi Mona lihat?" Cindy sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, sekalipun dia melihat, dia tidak akan membicarakan kamu." Devon mencolek hidung Cindy.


"Mas benar telah membawaku kesini, aku tidak tahan dengan orang-orang yang selalu menggunjingku, mereka mengira aku ayam kampus karena jalan sama om-om."


Devon sedikit tersinggung mengenai sebutan yang diberikan kekasihnya. "Apa aku kelihatan setua itu?" tanya Devon sambil mencebikkan bibirnya.


"Tidak mas, bahkan kalau mas Devon menyamar sebagai anak muda maka tidak akan ada yang mengetahui kalau usiamu sudah kepala tiga," ledek Cindy membuat Devon tesenyum licik.


"Kamu mulai nakal ya," Devon hendak menggelitik perut Cindy tapi Cindy berteriak. "Mas sakit," erang Cindy.


"Maaf sayang aku lupa kalau lukamu belum sembuh total. Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksamu." kata Devon panik.


Devon mengambil ponselnya lalu ia menelepon Bayu. "Yu, tolong panggilkan dokter ke apartemen Cindy, lukanya terbuka," perintah Devin pada Bayu melalui sambungan telepon.


Devin pun menggendong Cindy sampai ke tempat tidurnya. "Maafkan aku sayang," Devon memegang tangan Cindy ketika ia meminta maaf.


"Iya tapi ini sedikit nyeri," kata Cindy. Air matanya lolos begitu saja karena menahan perih di bagian perutnya.


Penusukan yang dilakukan Dio cukup dalam sehingga Cindy harus menjalani operasi dan butuh waktu yang lama untuk pemulihannya.


Tak lama kemudian Bayu dan seorang dokter memasuki apartemen Cindy. Tommy yang akan keluar dari unitnya melihat Bayu dan seorang laki-laki yang berpakaian dokter memasuki unit Cindy.


"Apa yang terjadi mengapa mereka masuk dengan terburu-buru?'" gumam Tommy.

__ADS_1


Bagaimana keadaan Cindy apakah dia harus dilarikan lagi ke rumah sakit?


Ikuti terus ya ceritanya dijamin seru deh.


__ADS_2