
Ketika jam istirahat Alan menceritakan pada Irene kalau diriya habis dibully oleh karyawan senior yang ada di bagian dapur.
"Ya ampun kasian banget si lu Lan," Irene ikut bersimpati.
"Tapi elo harus bisa bertahan Lan. Ingat kita butuh duit untuk hidup di kota ini. Kamu nggak mau kan mengecewakan keluargamu yang ada di kampung?" Alan menggeleng. "Dulu aja kita kekeh ke kota. Lalu apa reaksi mereka kalau kita pulang hanya membawa tangan kosong?"
Alan merenungkan omongan Irene. "Iya, kamu bener Ren. Orang seperti kita tidak boleh menyerah. Gue juga akan cari pekerjaan sambilan deh. Kali-kali gue nggak betah di sana gue nggak perlu repot-repot cari kera lain," kata alan.
"Tapi kamu juga harus inget balas budi, Lan. Mami Cindy udah baik hati meminta sama pacarnya buat menerima kita bkerja di sana apa kamu tega membuat mereka kecewa."
Kali ini perkataan Irene membuat Alan dilema. "Au agh, gue pusing," rengek Alan.
...***...
Setelah beberapa hari beristirahat di rumah Cindy kembali ke kampus. Ia sudah mulai menyusun bahan skripsinya jadi ia hanya sesekali datang untuk mendapatkan bimbingan dosen.
Ketika Cindy sedang berjalan di koridor kampus, seseorang menyeret Cindy sampai punggungnya membentur tembok. "Ah." Cindy meringis kesakitan.
"Heh, cewek sialan berani-beraninya lo datang ke kampus, temen lo masih punya hutang ya ke gue buat benerin mobil gue yang lecet," ujar Dira.
Cindy menarik ujung bibirnya. "Jelas-jelas elo yang nyerempet mereka, kenapa mereka yang harus ganti kerusakan mobil lo?" Sarkas Cindy yang tak mau kalah.
"Lo, berani melawan gue?" Tantang Dira.
__ADS_1
"Kenapa enggak?" Cindy maju selangkah hingga membuat Dira mundur selangkah.
Dira hendak mendorong Cindy tapi tangannya lebih dulu dicekal. "Gak usah dorong-dorong." Cindy balas mendorong Dira.
"Lo mau diskors lagi gara-gara elo nyelakain gue?"
"Gue nggak takut, gue akan bilang ke dosen kalau elo itu ayam kampus, biar kita sama-sama di DO," tantang Dira.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dira. "Kurang ajar," Dira memegang pipinya yang terasa panas.
"Pegang dia! Buka bajunya, kita lihat seberapa sek*sinya dia sampai banyak om-om yang mengejarnya." Perintah Dira pada dua temannya yang ada di belakang sedangkan dirinya akan merekam Dira.
"Lepasin nggak?" Dira memegang rambutnya yang dijambak. "Jangan coba-coba melecehkan gue, lain kali kalau mau eksekusi lihat-lihat dulu korbannya." ancam Cindy.
"Oke, oke tapi lepasin dulu rambut gue!" Dira memohon karena dirinya hampir menangis karena merasakan sakit di bagian kepalanya.
Sedangkan salah satu temannya merekam kejadian ketika Cindy sedang menjambak Dira. Cindy melirik ke arah teman Dira. Ia melepas rambut Dira dan beralih ke temannya. Cindy meraih ponsel tersebut cepat lalu membantingnya.
Ponsel tersebut pecah berkeping-keping. Cinsy membantingnya dengan sangat keras. "Ups, pecah. Maaf ya, sengaja," ledek Cindy.
Lalu seorang dosen lewat di sana. Dira melirik ke arahnya. "Pak tolong Cindy tiba-tiba membanting handphone saya tanpa alasan yang jelas." Adu Dira pada dosen berkepala botak tersebut.
__ADS_1
Dosen bernama Pak Bakri itu pun mendekati Cindy dan menyuruhnya ke ruang dosen. "Sebenarnya alasan kamu apa membanting handphone Dira?" Tanya Pak Bakri dengan suara yang nyaring di telinga.
"Bapak percaya kalau dia mau melecehkan saya?" Cindy menjawab pertanyaan Pak Bakri dengan pertanyaan.
"Melecehkan bagaimana?"
"Dia ingin merekam saya dengan handphonenya, lalu menyebarkan ke internet." Pak Bakri beralih memberikan tatapan tajam pada Dira dan teman-temannya. "Apa benar yang dikatakan Cindy, Dira?"
"Mana mungkin saya berbuat serendah itu, Pak. Dia hanya tidak suka ketika saya menagih uang ganti rugi pada temannya yang telah menyerempet mobil saya, Pak. Makanya dia melempar handphone saya." Dia berbohong.
"Lalu siapa yang berbohong? kalau kalian sama-sama menuduh," Tanya Pak Bakri bingung.
"Begini saja, Pak. Saya akan memaafkan Cindy. Tapi dia harus mengganti handphone yang dia rusakkan, bagaimana Pak?" Dira memberi usulan.
"Enak aja, kalau elo nggak cari masalah sama gue, gue nggak akan banting handphone lo," sahut Cindy tak terima.
"Sudah-sudah, Cindy kamu harus mengganti handphone Dira karena kamu merusakkan handphonenya. Saya melihatnya sendiri, jadi kamu tidak bisa membantah."
"Baik, Pak. Tapi saya cicil," lalu ia beralih pada Dira. "Gue bayar dua ribu per hari," ledek Cindy dengan menjulurkan lidah. Lalu ia keluar dari ruangan dosen.
"Sialan lo pikir gue tukang parkir," sungut Dira. Dia dan kedua orang pengikutnya keluar juga tanpa pamit pada dosen.
"Dasar anak-anak tidak tahu sopan santun," umpat Pak Bakri sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1