Click Your Heart

Click Your Heart
Part 61


__ADS_3

Cindy tiba di rumah Celine. "Assalamu'alaikum mbak," sapa Cindy sambil mencium pipi kanan dan kiri kakak iparnya itu.


"Tumben main kesini."


"Iya mbak sebenarnya aku ingin curhat sama Mbak Celine," kata Cindy dengan jujur.


"Ada masalah apa? masuk dulu yuk!"


"Jaden, Julian titip adik Cello ya sebentar," perintah Celine pada kedua putranya.


"Memangnya mommy mau kemana?" Tanya Jaden.


"Mommy di sini saja tapi ada yang mau mommy bicarakan dengan tante Cindy, sebentar saja," kata Celine.


"Baik, mom," jawab kedua putranya. Celine mengajak Cindy duduk di ruang tengah.


"Bicaralah!" Perintah Celine pada Cindy.


"Siska menitipkan anaknya di rumah kami mbak selama dua minggu ke depan." Cindy mulai bercerita.


"Apa? Apa dia sudah gila menitipkan anak pada orang lain yang bukan kerabatnya?" Sungut Celine.


"Entahlah dia tiba-tiba mengantarkan anaknya ke rumah lalu pergi begitu saja dan meninggalkan anaknya di depan rumah kami mbak."


"Lalu apa anaknya membuat masalah?" Tanya Celine.


"Ya mbak, hari ini dia membuat masalah di sekolah karena berkelahi dengan temannya, kepala sekolahnya bilang dia harus mendapat skors selama dua hari tidak diperbolehkan masuk ke sekolah," terang Cindy panjang lebar.


"Apa yang dilakukan suamimu, seenaknya saja mengiyakan permintaan mantan pacarnya itu?" Celine ikut emosi mendengar cerita Cindy.


"Entahlah mas Devon mau saja gitu menerima Ruby, mungkin karena dulu mereka sudah dekat oleh sebab itu ia sudah menganggap Ruby sebagai anaknya," kata Cindy dengan wajah sendu.


"Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan menunjukkan kemarahanmu di depan Devon, itu akan membuatmu terkesan buruk dimata Devon dan dia akan lebih memperhatikan Ruby daripada dirimu," kata Celine.


"Lalu bagaimana mbak?" Tanya Cindy tidak mengerti.


"Berdamailah dengan Ruby, ambil hatinya agar dia tunduk sama kamu, kamu bisa mulai menyiapkan makanan untuknya atau apa saja yang sekiranya dia sukai, jadilah temannya, mungkin dengan begitu hati kamu akan dominan sayang daripada cemburu," Celine mencoba memberi saran.


"Mbak tahu kamu pasti cemburu dengan Siska yang mengirim anaknya ke rumahmu, taklukan anaknya maka dialah yang akan membelamu jika suatu hari ibunya menyakiti kamu." Cindy berusaha mencerna omongan kakak iparnya.

__ADS_1


Lalu ia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Hampir petang, aku sebaiknya pulang sebelum mas Devon pulang bekerja, semoga anak itu tidak membuat ulah lagi setelah ini," kata Cindy setelah itu ia mengambil Cello di kamar Jaden dan Julian.


"Dia tertidur setelah kuberikan susu tante," lapor Julian.


"Terima kasih sayang telah menjaga Cello dengan baik," kata Cindy.


"Oh iya kapan-kapan mainlah ke tempat tante, tante akan buatkan kue spesial untuk kalian," kata Cindy mengiming-imingi kedua ponakannya.


"Wah sepertinya menarik," kata Julian yang tertarik.


"Tante pamit ya."


...***...


Cindy tiba di rumahnya sekitar pukul tujuh malam. Saat itu Devon belum pulang. Namun, ia mengecek keadaan Ruby. "Mbak Ruby ada di kamarnya kan?" tanya Cindy pada Sari.


"Ada bu," jawab Sari.


"Tolong siapkan makan malam, aku akan mengajak Ruby makan bersama," kata Cindy.


Cindy menaruh Cello di box bayi lalu ia pergi ke kamar Ruby. Betapa terkejutnya ketika ia tidak menemukan Ruby di kamarnya. Cindy melihat ke dalam kamar mandi tapi ia juga tak menemukannya.


"Mbak Sari kemana perginya Ruby?" Tanya Cindy yang panik karena anak itu hilang entah kemana.


Cindy kemudian mengecek ke balkon kamar tamu itu ternyata Ruby membuat sprei untuk diikatkan ke pagar balkon.


"Anak nakal itu, aku harus segera melapor ke mas Devon, aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya," gumam Cindy.


Kemudian ia menelepon ke ponsel Devon. "Mas Ruby kabur," kata Cindy melalui sambungan telepon.


"Mungkin dia hanya pergi keluar sebentar," jawab Devon.


"Tidak mas, dia kabur lewat jendela menggunakan sprei yang dijadikan sebagai tali," lapor Cindy.


Devon menjadi panik. Ia memijit pangkal hidungnya. Tak banyak berpikir ia pun meminta bantuan pada Bayu untuk mencari keberadaan Ruby.


"Kerahkan anak buahmu untuk mencari keberadaan Ruby!" Perintah Devon pada Bayu.


"Baik, Pak," jawab Bayu mengangguk patuh.

__ADS_1


"Anak itu selalu saja menyusahkan," gerutu Devon.


Setelah itu Devon pulang ke rumah untuk menemui Cindy. Cindy merasa ketakutan ketika melihat suaminya pulang. "Maafkan aku mas aku tidak bisa menjaga Ruby dengan baik," kata Cindy sambil menitikkan air mata.


"Tenanglah, aku sudah meminta Bayu untuk mencarinya, jangan salahkan dirimu, lebih baik kita tunggu kabar dari Bayu.


...***...


"Elo tahu nggak, gue kabur dari rumah mantan pacar nyokap gue," teriak Ruby yang sedang berkata pada temannya di antara musik yang memekakkan telinga.


"Gila ya nyokap lo, masak tega minta mantan pacarnya yang sudah beristri buat ngejaga lo, mungkin nyokap lo sengaja tuh buat ngehancurin tumah tangga mantan pacarnya," kata teman Ruby.


Ruby yang dalam pengaruh minuman beralkohol itu sejenak berpikir. "Nggak mungkinlah nyokap gue kaya gitu," elak Ruby.


"Elo bisa bayangin nggak kalau elo ada di posisi istrinya, masak suaminya mau-maunya gitu disuruh menjaga anak mantan," perkataan temannya itu ada benarnya.


"Elo jangan jelek-jelekin nyokap gue lah," Ruby mulai tersulut emosi.


Temannya itu menepuk bahu Ruby. "Kalau gue jadi elo, gue tahu diri dan nggak akan mau jadi perusak rumah tangga orang." Rupanya kata-kata temannya itu membuat Ruby tersinggung.


Dia pun emnyiramkan minuman ke badan temannya. "Mulut lo pedes banget, emang lo kira gue tahu maksud nyokap gue," bentak Ruby.


"Munafik," cibir temannya.


Ruby dan temannya itu hampir saja berkelahi tapi keamanan diskotik itu menyeret Ruby keluar.


Di saat yang bersamaan, anak buah Bayu menemukan Cindy berada di luar diskotik. "Pak, saya telah menemukannya," lapor anak buah Bayu.


Lalu Bayu segera menuju ke sana. Ruby berjalan sempoyongan. Anak buah Bayu masih mengawasi, mereka tidak mau membuat Ruby ketakutan jadi tidak ada yang berani mendekat.


Tak lama kemudian Bayu menepikan mobilnya di depan Ruby. Ruby menyipitkan matanya. "Om Devon ya," kata Ruby yang berada di bawah pengaruh alkohol.


Bayu tidak menjawab. Ia menarik tangan Ruby kemudian memaksanya masuk ke dalam mobil.


Dari kejauhan Irma melihat laki-laki yang ia kenal menyeret gadis ke dalam mobilnya. "Dasar pedofil, anak kecil saja diembat," geram Irma sambil mengepalkan tangannya.


"Kau melihat apa sayang?" Tanya laki-laki yang sedang digandeng Irma dalam keadaan mabuk.


"Masuklah ke dalam mobil, aku akan mengantarmu pulang," kata Irma sambil membuka taksi yang ia hentikan.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


Terima kasih my beloved readers sudah membuat novel ini masuk rekomendasi. Silakan share ke teman-temannya supaya mau baca novel ini ya. No plagiat. Hargai kerja keras penulis 🙏


__ADS_2