Click Your Heart

Click Your Heart
Part 136


__ADS_3

"Hua..." Bayu menguap dan merenggangkan badannya. Badannya terasa pegal karena ia harus tidur hanya beralaskan tikar.


"Alhamdulillah sudah pagi, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Devon tak sabaran.


"Pamit dululah sama kepala dusun setempat," kata Tommy memberi saran.


Lalu mertua Tommy datang mendekat. "Ibu tahu darimana kami menginap di sini?" Tanya Tommy sambil menyalami ibu mertuanya.


"Tadi pagi-pagi sekali Irene menghubungi ibu, katanya saat dia menelepon dirimu tidak tersambung," terang ibunya Irene.


"Oh iya, Bu. Handphone saya kehabisan daya. Saya tidak persiapan sebelumnya karena kita tidak berencana untuk menginap," akunya.


"Oh syukurlah, dia terdengar cemas memikirkan suaminya yang tidak memberi kabar," sambung ibu mertua Tommy.


"Kami berencana pulang sekarang. Maaf tidak bisa berlama-lama di sini," pamit Tommy pada semua orang yang ada di sana.


Kemudian Devon dan Bayu mengikuti Tommy yang masuk ke dalam mobil.


"Hah, pengalaman yang tak bisa dilupakan," gumam Devon.


"Benar apalagi mengingat kita semalam tidak bisa tidur karena gangguan nyamuk," sahut Tommy sambil terkekeh.


"Saya semalam tidak merasa kalau di sekitar saya banyak nyamuk, Pak," sambung Bayu.


"Kau itu memang suka lupa daratan kalau sudah tertidur," ledek Devon. Bayu menggaruk tengkuknya yang gatal.


Di perjalanan Tommy dan Devon menghabiskan waktunya untuk tidur. sedangkan Bayu ia masih tetap terjaga karena semalam dia yang paling bisa tertidur dengan pulas.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka berhenti di rumah masing-masing. Devon turun lebih dulu.


"Apa kalian ingin mampir?" Tanya Devon sekedar basa-basi. Ia yakin kedua orang itu merindukan istri-istrinya sehingga berharap segera sampai di rumah.


"Tidak, terima kasih," jawab Tommy malas.


Ketika sampai di rumah Devon dikejutkan dengan keadaan rumah yang berantakan. "Ada apa ini?" Tanya Devon pada orang-orang di rumahnya yang tak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


"Mas, kamu sudah sampai?" Tanya Cindy yang berjalan mendekat ke arah suaminya.


"Ya, sebenarnya apa yang terjadi ketika aku tidak ada di rumah?" Tanya Devon curiga.


"Semalam ada pencuri yang mencoba masuk ke dalam rumah," jawab Cindy.


"Apa?" Bagaimana bisa?" Devon terkejut mendengar penuturan istrinya.


"Kejadiannya sangat cepat semalam sempat mati lampu lalu pencuri masuk. Mereka juga hendak melukai Ruby. Untung saja ada Irma yang memukul pencuri itu," terang Cindy menceritakan kejadian semalam.


Devon memegang kedua bahu istrinya. "Tidak ada yang terluka kan sayang?" Tanya Devon cemas. Ia takut istrinya yang sedang hamil kenapa-kenapa.


"Tidak, Mas."


"Anak-anak kemana?" Tanya Devon yang tak melihat Cello dan Ruby.


"Mereka belum pulang. Cello pulang agak telat karena ada acara makan bersama siang ini di sekolahnya. Ruby kalau jam segini tentu belum pulang. Oh ya, Mas aku buatkan teh hangat untukmu pasti kamu capek. Kamu seperti kurang tidur lingkar matamu hitam," ucap Cindy ketika memperhatikan wajah tampan suaminya.


"Kamu benar sayang, aku berharap semalam ditemani olehmu tapi sayang nyamuk lebih gatal dari pada janda yang haus akan belaian laki-laki," batin Devon mengumpat.


"Ini mas tehnya." Cindy menyuguhkan teh pada suaminya. Devon menyeruput teh itu, menikmati teh manis buatan sang istri yang ia rindukan. Sehari saja berpisah dengannya terasa begitu berat.


"Apa mau mandi sekarang?" Tanya Cindy.


"Nanti saja, temani aku di sini. Aku sangat merindukanmu," goda Devon sehingga membuat wajah Cindy memerah.


"Kamu ini baru sehari saja tidak tidur di rumah sudah sesusah itu. Coba ceritakan padaku kenapa kemaren tidak bisa pulang?" Cindy meminta penjelasan pada suaminya.


"Semalam ketika kita mau pulang hujan sangat lebat sayang. Jalanan terlalu licin dan pandangan kabur jadi berbahaya jika memaksakan pulang. Apalagi kondisi jalan yang gelap karena minimnya penerangan jalan. Jadi kamu bisa mengerti kan?" Devon meminta dukungan pada istrinya.


"Iya, Mas aku mengerti. Beruntung Irma ada di sini membantu menjaga Cello," imbuh Cindy.


Devon tiba-tiba menempelkan telinganya ke perut Cindy. "Hai, apa kabar kamu yang ada di dalam perut mama? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Devon pada jabang bayi yang ada di perut istrinya.


Devon mendongak. "Kenapa tidak merespon?" Tanya Devon tidak mengerti. Yang ia tahu seperti di televisi bisanya bayi akan menendang jika diberi ruang*sangan dari luar.

__ADS_1


"Umurnya belum genap empat bulan Mas. Jadi kalau masih awal semester ya belum bisa menendang. Allah akan memberikan ruh ketika dia berusia empat bulan itu makanya saya kehamilan berumur empat bulan sebaiknya diadakan syukuran. Selain untuk bersyukur diberikan keturunan, kita juga bisa meminta keselamatan untuk ibu dan bayi agar selamat sampai melahirkan nanti," terang Cindy panjang lebar pada suaminya.


"Jadi ayo adakan syukuran empat bulan kehamilanmu!"


...***...


Tepat ketika kehamilan Cindy berusia empat bulan, ia mengadakan syukuran untuk calon anaknya. Semua orang diundang ke acara itu.


"Jadi apa jenis kelamin anak kalian?" Tanya Celine sang kakak ipar.


"Menurut dokter jenis kelamin anak kami perempuan," jawab Cindy.


"Horeee, aku akan punya adik cewek," seru Cello.


"Pasti dia akan cantik sepertimu, nak," ucap Maya yang saat itu ikut hadir ke acara syukuran Cindy. Berkat menantunya yang sabar dan telaten, Maya pulih dengan cepat.


"Terima kasih Tante."


"Doakan agar Tante segera mendapatkan cucu dari Tommy dan Irene ya, Nak," pinta Maya.


"Tentu, mereka pasti akan mendapatkan anak yang cantik dan tampan seperti orang tuanya," balas Cindy.


"Ehem," Devon berdehem ketika istrinya memuji orang lain. Cindy mengulas senyum ketika mengetahui suaminya cemburu.


Malam semakin larut, acara selesai pukul sembilan malam. Cindy mengantarkan tamunya pulang satu per satu sampai ke depan rumah.


"Terima kasih sudah datang," kata Cindy pada Irene. Irene mengangguk. "Aku pamit ya," balas Irene.


Kini di kediaman Devon tampak sepi setelah acara syukuran berakhir. Dari kejauhan tampak seorang pemuda yang mengawasi rumah itu.


"Ruby, padahal aku ingin berpamitan denganmu malam ini karena besok aku akan pindah ke luar kota. Tapi melihat rumahmu yang ramai aku jadi tidak baa menemuimu secara langsung. Aku berharap kita akan berjodoh suatu hari nanti," ucap Dani di belakang pohon yang tak jauh dari kediaman Devon.


Ruby samar-samar melihat seseorang yang melihat ke arah rumahnya. Tapi saat ia mengamati ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Semoga itu bukan orang jahat lagi," gumam Ruby.


"Ruby ayo masuk, di luar sangat dingin nanti kamu masuk angin," perintah Devon pada putri angkatnya itu.

__ADS_1


Ruby mengangguk dan menuruti perintah ayah angkatnya.


__ADS_2