
...Ketika dua orang yang sedang menjalin hubungan saling peduli satu sama lain, mereka akan menemukan cara untuk membuat hubungan berjalan dengan baik....
Devon sangat lelah. Ia merebahkan diri di sofa yang panjang. Cindy mulai sadar dari pingsannya. Lalu ia menoleh ke sekitar. Ia ingin minum tapi tangannya tak sampai. Devon sedang tertidur Cindy tak tega membangunkannya.
Cindy masih berusaha meraih gelas itu tapi ia malah terjatuh. Cindy meringis kesakitan. Mendengar suara Cindy, Devon terbangun. Ia dengan cepat menggendong istrinya itu ke atas brankar.
"Sayang, kamu mau apa? Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Devon dengan lembut.
"Aku hanya ingin mengambil air minum, aku haus," akunya. Wajahnya masih terlihat pucat.
Lalu Devon mengambil gelas baru dari laci mejanya karena gelas yang terjatuh tadi pecah. "Jangan turun, biar OB yang bersihkan pecahan ini," kata Devon.
Devon menyodorkan gelas tangan sudah diisi dengan air putih kepada istrinya. "Terima kasih," kata Cindy sambil tersenyum.
Seusai minum ia meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping ranjang yang ia tempati.
"Kapan aku akan pulang?" Tanya Cindy. sebenarnya dia tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit karena memikirkan putranya.
"Jangan khawatirkan Cello. Aku meminta Celine menemaninya saat ini," kata Devon ke seolah bisa menebak pikiran Cindy.
"Syukurlah." Cindy merasa lega. "Maaf ya mas aku selalu merepotkan dirimu." Cindy menatap Devon dengan berkaca-kaca.
"Sayang, kamu ngomong apa sih? Aku ini pasangan kamu sudah sepantasnya aku menemani kamu saat kamu butuh." Devon membelai lembut pipi sang istri. Lalu ia memegang dagunya.
Cup
Devon memberikan kecupan sekilas pada istrinya. "Aku merindukanmu, cepatlah sembuh," kata Devon dengan lembut.
Wajah Cindy merah merona karena malu. "Dasar gombal, di rumah sakit saja kau bisa menggombal seperti itu," kata Cindy mencebik kesal. Entah kenapa Cindy agak kecewa karena ia hanya menciumnya sekilas. Ia berharap lebih pada suaminya.
Devon menarik ujung bibirnya. Ia merapatkan bibirnya kembali ke bibir sang istri. Cindy mengalungkan tangannya ke leher Devon lalu membalas ciuman itu.
"Ehem," suara itu datang dari arah pintu.
Devon dan Cindy terkejut saat melihat perawat memergoki mereka ketika sedang ciuman.
"Maaf mengganggu waktu kalian. Saya hanya ingin memeriksa Bu Cindy dan memberi obat," kata perawat tersebut.
"Silakan sus," kata Devon. Dia memilih keluar karena malu dengan perbuatannya. Ia seperti terpergok melakukan kejahatan. Padahal sebenarnya sah-sah saja karena Cindy istrinya. Tapi sayang, tempatnya yang salah.
__ADS_1
"Kapan saya boleh pulang sus?" Tanya Cindy.
"Nanti saya tanyakan pada dokter ya Bu," jawabnya. Usai menyuntikkan obat ke selang infus Cindy, perawat itu keluar dari ruangannya.
"Untung saja yang memergoki mereka bukan dokter, bisa syok kalau dokter sampai melihat mereka sedang melakukan perbuatan mesum," gumam suster yang baru keluar dari ruangan Cindy sambil terkikis sendiri.
"Hei, kamu kaya orang gila, belajar gila ya senyum-senyum sendiri," ledek temannya. Sedangkan orang yang dipukul bahunya secara tiba-tiba malah tidak terkejut.
"Itu tadi aku masuk kamar VVIP lihat adegan dewasa."
"Apa? Mereka ciuman? Atau sedang uh ah?"
"Ehem," Devon berdehem keras untuk memberitahu keberadaan dirinya pada kedua suster yang menggunjingnya.
Keduanya tampak kikuk saat Devon melirik dengan ekor matanya sekilas. Setelah itu Devon keluar untuk mencari sesuatu di mobilnya.
"Dev," panggil seseorang yang Devon kenal.
"Baru mau pulang?" Tanya Devon pada Alma. Alma mengangguk.
"Kamu juga mau pulang?" Tanya Alma balik.
Devon menggeleng. "Aku hanya ingin mengambil powerbank ku yang ketinggalan di dalam mobil."
Devon tampak ragu. "Ah aku hanya ingin memanggilmu secara langsung ketika aku perlu menjelaskan mengenai kondisi istrimu," kilah Alma yang hanya mencari alasan.
Tanpa curiga Devon mengambil sebuah kartu nama di dalam saku jasnya. Lalu ia memberikan kartu nama itu pada Alma. "Ingat, hanya masalah kesehatan Cindy, bukan yang lain," Devon memperingatkan. Alma mengangguk paham. Diam-diam ia mengulas senyum tipis hingga Devon tak dapat melihatnya.
Kita tinggalkan Devon beralih ke Tommy.
Tommy merasa hubungannya dengan Irene patut diperjuangkan mengingat mereka pacaran sudah dua tahun. Tommy yang sedang berada di dalam kamarnya benar-benar merindukan Irene saat ini.
...Kadang, kita harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari betapa berartinya dia dalam hidupmu....
Tommy memandang keluar jendela. "Kamu sedang apa saat ini?" Tommy bermonolog sambil membayangkan wajah Irene yang selalu ceria
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu membuat Tommy melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu.
__ADS_1
"Ada apa Ma?" Tanya Tommy.
"Mama cuma mau ngajak ku ngobrol," kata Maya.
Mendengar kata 'ngobrol' Tommy jadi malas. Pasti ibunya itu mau membicarakan tentang jodohnya.
"Ma, ini sudah malam. Besok pagi-pagi sekali Tommy ada meeting di luar kota," usir Tommy secara halus. Maya tak bicara banyak ketika Tommy tiba-tiba menutup pintunya.
"Anak itu selalu menghindar kalau kuajak bicara," gerutu Maya.
"Ada apa sih Ma?" Tanya sang suami tanpa melihat istrinya karena sedang sibuk membaca koran.
"Itu anak bungsumu, sudah berumur belum juga kawin-kawin," kata Maya dengan ketus.
"Kok kawin sih Ma kata kucing," protes sang suami.
"Pa, apa papa punya kolega bisnis yang punya anak perempuan?"
"Memangnya kenapa?" Kini suami Maya melirik sekilas.
"Jodohkan dengan Tommy. Aku merasa prihatin pada nasib anakku itu."
Suami Maya menghentikan aktivitasnya lalu melipat koran yang ia baca. "Bukannya beberapa waktu lalu Tommy jalan sama perempuan yang bernama Irene ya?"
"Mereka hanya berteman," sangkal Maya.
"Tommy bercerita pada papa kalau hubungan mereka lebih dari sekedar teman Ma."
Maya melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Meskipun Maya tahu kalau Tommy berpacaran dengan Irene bahkan dia tahun lamanya, Maya tetap menolak kehadiran Irene sebagai pacar putra bungsunya itu.
"Mama kurang suka dengan gadis itu Pa."
"Kenapa Ma? Apa karena status sosialnya?" Tebak sang suami.
"Nggak hanya itu, banyak pertimbangan mama yang membuat mama sulit merestui hubungan mereka." Sang suami hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu mau dapat menantu, jadilah calon ibu mertua yang baik. Terima setiap pasangan yang sedang dekat dengan anakmu itu. Kalau kau terus saja menolak bukan tidak mungkin Tommy menjadi perjaka tua, mau?"
"Idih, papa jangan ngadi-ngadi deh. Tommy kan cakep, mapan kurang apa lagi. Cewek mana yang tidak mau dijadikan istrinya?" Tanya Maya menyombongkan anaknya itu.
__ADS_1
"Ma menikah itu tidak hanya dengan pasangannya tapi dengan keluarganya bukan? Kalau mama belum jadi ibu mertua beneran saja udah menunjukkan rasa tidak suka pada pasangan Tommy, mereka pun akan berpikir ulang untuk menikah dengan Tommy." Ayah Tommy menasehati istrinya panjang lebar.
Maya sedikit berpikir meski apa yang dikatakan suaminya itu benar, tapi ia malas mengakuinya. "Terserah papa," kata Maya cuek.