
"Kamu ngaco Tom," kata Cindy tak percaya Tommy melamarny ketika ia sedang berduka.
"Aku serius Cin, sudah lama aku mencintai kamu tapi selama ini aku hanya memendam perasaanku sama kamu karena saat itu kamu sedang memiliki hubungan dengan Devon" Tommy mengungkapkan perasaanya secara langsung.
"Tapi kamu lihat kan situasinya, aku sednag berduka Tom, aku baru saja kehilangan nenekku, orang yang merawat aku sedari kecil," ucap Cindy sambil meneteskan air mata.
Ia sangat kehilangan keluarga satu-satunya. Tidak ada lagi yang ia rindukan. Sejak kecil Cindy tidak pernah menerima kasih sayang orang tua sebab orang tua Cindy meninggal ketika dia masih kecil.
Lalu seorang ibu-ibu yang tak lain ibunda Irene menghampiri Cindy. "Nak, sebaiknya kamu ikut saja ke kota, di sini kamua kan dikucilkan karena kamu..." Ibu itu tidak meneruskan perkataannya. Ia takut meyinggung perasaan Cindy.
Cindy merasa kata-kata ibu itu benar. Di sini Cindy tidak memiliki keluarga apa bedanya kalau dia hidup di kota sendiri. Bahkan ia lebih baik tinggal di sana karena ada Irene dan Alan yang akan menjaganya.
Cindy tak punya pilihan mau tak mau ia menerima tawaran Tommy. Cindy mengangguk setuju.
"Tapi aku sudah tidak punya tempat tinggal di kota," ungkap Cindy. Karena ia sudah keluar dari apartemen yang dibelikan Devon.
"Jangan permasalahkan itu, yang penting kita keluar dari kampung ini dulu," ajak Tommy.
Cindy segera mengemasi barang-barangnya lalu mengikuti Tommy masuk ke dalam mobil. Lima jam perjalanan bukan waktu yang sebentar untuk berkendara di jalan raya.
Malam makin larut dan terhitung hampir pagi. Tommy mulai lelah, ia pun menghentikan mobilnya di tempat pengisian bahan bakar untuk beristirahat sebentar. Sedangkan Cindy sudah tidur sejak tadi.
Tommy pun memejamkan mata hingga matahari menyinari matanya. Ia mengerjakan mata. Cindy tidak ada. "Kemana dia?" Tommy memindai ke sekitar SPBU tersebut. Ia merasa lega ketika melihat Cindy berjalan dari arah lain.
__ADS_1
"Kamu darimana saja?" Tanya Tommy.
"Maaf aku mencari toilet," jawab Cindy.
"Baiklah, sudah pukul enam sebaiknya kita pulang dulu ke apartemenku nanti siang baru kucarikan tempat tinggal untukmu," kata Tommy. Cindy hanya mengangguk setuju. Saat ini ia harus percaya pada Tommy karena tidak ada lagi seseorang yang bisa ia andalkan di dunia ini.
Mereka berdua telah sampai di tempat oarkir di gedung apartemen. "Turunlah, biar aku yang bawa barang-barangmu ke atas."
"Terima kasih," kata Cindy. Pagi ini badannya terasa lemas. Mungkin karena tadi ia merasakan mual tapi ia tahan. Ia tak mau merepotkan Tommy.
"Maaf rumahku berantakan," kata Tommy yang merasa tidak enak karena ia bukanlah orang yang rajin mengurusi hal-hal soal kebersihan. Ia cenderung cuek.
"Cind, kamu bisa pakai kamar itu, di sini ada dua kamar, kamarku di sebelah sana," Tunjuk Tommy.
"Tidak, pergilah, kunci lemarimu jika kau takut aku akan membawa barang-barangmu keluar," pesan Cindy sebelum Tommy pergi.
"Aku tahu kamu bukan maling, kecuali maling hatiku," kata Tommy sambil terkekeh.
"Maaf," Cindy menundukkan kepalanya.
"Untuk apa?" Tawa Tommy menjadi surut ketika Cindy mengucapkan kata maaf.
"Aku belum bisa menjawab lamaranmu kemaren."
__ADS_1
"Tidak usah dipikirkan dulu, aku yang seharusnya minta maaf, melamarmu di saat yang kurang tepat. Ah istirahatlah aku tahu kamu pasti lelah." Tommy sedikit canggung.
Tommy tidak mau menyinggung soal kehamilan Cindy meski ia sempat mendengar tetangganya menyebut bahwa nenek Cindy meninggal karena taju cucunya hamil di kuar nikah. Ia masih ingin menjaga perasaan gadis yang ia cintai. Biarlah untuk sementara waktu begini dulu asal Cindy berada bersamanya, pikir Tommy.
Cindy pun memasuki kamar. Ia melihat ke sekeliling kamar. Nampak berantakan itu kesan pertamanya. Tapi ia tak masalah karena Cindy sadar kalau dia hanya menumpang sebentar.
Tok tok tok
Tommy mengetuk kamar Cindy. Lalu Cindy membukanya. "Aku akan berangkat ke kantor juka butuh apa-apa telepon saja!" Perintah Tommy pada wanita yang ia cintai.
"Hati-hati." Cindy berpesan pada Tommy. Tommy sangat sebang karena baru kali ini ia merasa diperhatikan oleh seorang wanita. Ia tersenyum lebar saat mengingat senyum Cindy yang nampak ceria dari sebelumnya.
Sesuai janji Tommy ia mengirim makanan cepat saji untuk Cindy. Ia tak mau wanita itu kelaparan. "Wah banyak sekali makanannya," kata Cindy pada driver ojek online yang membawa pesanan dari Tommy.
"Iya, bu. Semua dudah dibayar atas nama tuan Tommy," ungkap driver tersebut.
Cindy benar-benar kelaparan. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia memakan makanan itu tapi ia tak serakah. Cindy menyisakan sedikit untuk Tommy.
Setelah selesai makan, Cindy melihat apartemen Tomny sangat berantakan jauh dari kata Rapi. Wanita itu berinisiatif membersihkan unut apartemen milik Tommy. Bagaimana pun ia harus membalas kebaikan laki-laki itu walaupun hanya dengan membersikan apartemennya.
"Ya ampun, sudah berapa tahun tidak dicuci." Keluh Cindy sambil mengambil sprei yang berbau apek di kamar yang ia tempati. Ia pun memasukkan sprei kotor itu ke dalam mesin cuci.
Cindy mulai kelelahan usai membersihkan apartemen Tommy. Ia mengusap peluhnya lalu kemudian tidur karena kelelahan.
__ADS_1
Sore itu Tommy sengaja pulang cepat karena ia janji pada Cindy untuk mencarika tempat tinggal. "Cindy," panggil Tommy.