
Tiba-tiba Tommy memiliki ide cemerlang. "Ma seandainya ada wanita yang mengandung anakku apa mama..." Belum selesai Tommy meneruskan perkataannya Maya lebih dulu menyela.
"Dasar anak kurang ajar, wanita mana yang kamu hamili?" Sungut Maya sambil memukuli kepala putranya itu.
"Ampun, Ma. Tommy nggak ngehamilin siapa pun," jawabnya membela diri.
"Apa maksud kata-katamu tadi?"
"Aku hanya bilang seandainya, Ma. Jangan salah paham terlebih dulu.
Maya menghela nafas. "Dasar anak nakal, jantungku hampir saja copot karenamu," geram Maya. "Tidak usah berandai-andai, lebih baik kau segera cari calon istri untuk kau ajak ke acara keluarga minggu depan," tegas Maya.
Tommy mengacak rambutnya frustasi saat Maya meminta dirinya mengajak pasangan ke acara keluarganya. "Aku pasti akan diejek jika tidak membawa pasangan," gumam Tommy.
"Ada apa, Pak?" Tanya Tania sambil menyodorkan berkas ke meja Tommy.
"Mamaku memintaku mengenalkan pasanganku padahal kamu tahu sendiri kalau aku tidak punya pasangan," jawab Tommy dengan fruatasi.
"Sayang sekali kalau saja saya single pasti saya mau diajak ke acara itu, Pak," ledek Tania.
Tania memang belum menikah tapi dia sudah bertunangan dengan seorang pengusaha yang tak mau diungkapkan identitasnya.
"Saya permisi, Pak." Tania keluar dari ruangan atasannya.
Sementara itu di kantor Devon, laki-laki itu masih memikirkan wanita hamil yang diajak oleh Tommy ke dokter kandungan. "Bayu apakah Tommy sudah menikah?" Tanya Devon pada asistennya.
"Setahu saya belum, Pak. Bukankah mereka akan melakukan pesta dan mengundang kita apabila Pak Tommy melangsungkan pernikahan?" Ucapan Bayu ada benarnya juga.
"Lalu siapa yang diajak ke dokter kandungan waktu itu?" Gumam Devon.
"Mungkin kakak iparnya, Pak."
"Ya, bisa jadi, aku tidak melihat jelas wajahnya karena dia menggunakan masker," sahut Devon.
__ADS_1
"Aku harap itu bukan Cindy, ah kenapa aku tiba-tiba memikirkannya," batin Devon.
Seandainya saja ia boleh jujur Devon sangat merindukan mantan kekasihnya itu. Tapi bagaimana ia menghubungi wanita itu bahkan Alan dan Irene tidak tahu dimana keberadaan Cindy.
Di sisi lain Bayu malah memikirkan omongan Devon. Ia juga berpikir sama seperti laki-laki itu. "Apakah wanita yang diajak oleh Tommy itu adalah nona Cindy, tapi mana mungkin? Dia kan pindah ke kampung halamannya kata Irene," gumam Bayu dalam hati.
Bayu pun menemui Alan dan Irene. "Apakah kalian tidak pernah mendengar kabar nona Cindy?"
"Nomornya tidak bisa dihubungi, Pak," jawab Irene.
"Aku sangat mengkhawatirkan dia, bosku itu bodoh sekali sudah menyia-nyiakan wanita sebaik nona Cindy," kata Bayu.
"Saya dengar Pak Devon mencium wanita lain Pak saat itu, mungkin Cindy merasa Pak Devon telah mengkhianati dirinya," Irene berpendapat.
"Ya kau benar, aku juga melihatnya tapi Nyonya Siska yang melakukannya lebih dulu, setahuku Pak Devon sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Nyonya Siska," ungkap Bayu.
...***...
"Cindy," Irma memanggil nama wanita yang ia kenali.
"Kamu agak gemukan, tapi sepertinya kamu..." Irma tidak meneruskan omongannya.
"Maaf aku harus membayar belanjaan ini dulu," Cindy memutar badan. Ia menghindari Irma.
"Totalnya dua ratus ribu kak," kata kasir minimarket tersebut.
"Pakai uangku saja," Irma menyodorkan dua lembar uang merah pada kasir itu.
"Tidak, ambil uangmu kembali aku bisa membayar sendiri," tolak Cindy.
"Tidak apa, bisakah kita mengobrol sebentar," pinta Irma. Cindy mengangguk.
"Apa kabar?" Tanya Irma.
__ADS_1
"Baik, kamu?" Tanya Cindy balik. Kini mereka sedang duduk di depan minimarket.
"Apa kau menikah dengan laki-laki yang tinggal di apartemen itu?" Tanya Irma. Seingatnya Cindy tinggal di apartemen yang pernah ia kunjungi bersama pelanggannya.
Cindy bingung mau menjawabnya. "Kamu tidak perlu tahu privasiku, yang jelas aku bukan wanita penggoda."
"Jangan munafik, tidak mungkin kamu mendadak kaya dan bisa menyewa apartemen mewah jika bukan karena melayani pria hidung belang sepertiku," kata Irma dengan sinis.
"Apa anak itu juga hasil hubunganmu di luar nikah?" Irma semakin mendesak Cindy
"Tutup mulutmu, aku tidak seharusnya menanggapi omonganmu, lebih baik aku pergi," sungut Cindy.
"Tunggu, aku tahu kau akan memerlukan bantuanku, terima ini," Irma memberikan kartu namanya.
"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri," Cindy menepis tangan Irma. Ia pun pergi dan meninggalkan wanita itu.
"Dasar gadis sombong."
Diam-diam Irma mengikuti Cindy dari belakang. "Ikuti tukang ojek itu, Pak," perintah Irma pada driver taksi itu.
Cindy turun di sebuah rumah. "Jadi dia tinggal di sini?" Gumam Irma lalu ia pergi setelah ia mengetahui tempat tinggal Cindy.
...***...
Irene tiba-tiba kangen dengan keluarganya di kampung. Ia mencoba menelepon ibunya. "Apa kabar Bu?"
"Baik, nak. Bagaimana perkerjaanmu yang sekarang? Mudah-mudahan kamu betah ya. Oh ya Cindy kembali ke kota apa kamu bertemu dengannya? Bagaimana kabar kandungannya apa baik-baik saja?"
Deg
Irene meneteskan air mata ketika mendengar Cindy hamil. Bagaimana bisa dia hamil padahal dia belum menikah. "Jangan-jangan itu anak Pak Devon," gumam Irene.
"Gue harus kasih tahu Alan," Irene segera berlari dan meninggalkan handphonenya.
__ADS_1