
Hari ini Devon menjemput kekasihnya di rumah sakit. Sudah hampir seminggu Cindy dirawat setelah kejadian itu. Pagi ini dokter memperbolehkannya pulang.
"Kamu sudah siap sayang?" Mendengar kata sayang yang terucap di bibir lelaki itu wajah Cindy memerah karena malu.
"Kenapa wajahmu memerah apa kita tunda dulu kepulanganmu?" tanya Devon seraya mengusap pipi halus kekasihnya.
"Bagaimana tidak kalau kamu terus menggodaku," ucap Cindy sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup
Devon mengecup bibir Cindy singkat. "Jangan suka mancing-mancing," Devon mengerlingkan matanya sebelah.
"Dasar mesum," umpat Cindy diiringi gelak tawa.
Setelah selesai membereskan barang bawaannya, Devon mendorong kursi roda untuk Cindy karena luka di bagian perutnya membuat gadis itu merasa sakit ketika berjalan.
"Terima kasih," ucap Cindy sambil mendongak.
Sesampainya di dekat mobilnya Devon menggendong tubuh Cindy. "Eh mo ngapain?"
Devon tersenyum. "Biar aku gendong."
Devon pun memasukkan tubuh Cindy ke dalam mobil dengan hati-hati. Lalu ia berputar dan menuju ke kursi kendali.
Ia mulai melajukan mobilnya perlahan. Ia takut jika guncangan membuat luka di perut Cindy akan terasa sakit.
"Maaf ya aku jalannya pelan, aku takut perutmu sakit," ucapnya mengkhawatirkan kekasihnya. Cindy mengangguk. Tentu saja ia senang mendapat perhatian dari laki-laki yang dia cintai.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi. "Eh kita dimana?" tanya Cindy yang bingung.
"Ayo ikut masuk." Saat Devon akan menggendongnya untuk kedua kali Cindy menolak.
"Tidak usah mas aku bisa jalan sendiri," tolaknya dengan halus.
"Apa kamu yakin sayang?" Cindy mengangguk. "Aku bantu jalan ya," Devon pun menggandeng tangan Cindy.
__ADS_1
"Mas kenapa tidak mengantarku pulang ke rumah?" tanya Cindy yang baru sadar dia sedang berada di temoat yang belum pernah dia kunjungi.
"Aku membelikan kamu apartemen," ucap Devon. Cindy menganga mendengarnya. "Daebak, eh tapi mas Devon tidak perlu seperti itu, aku kan sudah punya tempat tinggal di kos-kosan aku yang biasanya."
"Tidak apa-apa ini sebagai ucapan terima kasih sudah menolong nyawaku," kata Devon beralasan. Dia tidak mau kekasihnya kekurangan apapun.
"Tapi apa tidak berlebihan mas? Mas sudah membayar biaya perawatan rumah sakitku sekarang membelikanku apartemen, apa tidak ada yang keberatan?" Cindy agak tidak enak.
"Tentu saja tidak, lalu apa kamu tidak capek berdiri terus, sini biar aku gendong." Dengan satu gerakan saja Devon mengangkat tubuh Cindy yang ringan baginya.
"Mas..." Cindy memukul ada bidang Devon lalu keduanya terkekeh.
Devon menggendong Cindy sampai ke lantai empat dengan menaiki lift. "Sudah sampai," kata Devon saat ia berada di depan apartemen milik Cindy.
Ia menurunkan Cindy. "Apa tidak berat?" tanyanya pada sang kekasih.
"Tentu saja tidak badanmu kurus sekali, kamu lihat badanku ini," Devon memamerkan lengannya yang berotot.
"Dih apaan sih?" Cindy mencebik kesal.
"Taraa..." Devon membuka pintu apartemen mewah yang dibelikan untuk Cindy. Cindy menganga tak percaya dengan hadiah yang diberikan Devon kepadanya.
Cindy seketika memeluk Devon. "Terima kasih," ucapnya dengan tulus.
"Terima kasih doang?" Goda Devon.
Cindy mengerutkan keningnya. "Aku harus balas apa?" Tanyanya polos.
Devon mengetuk pipinya dengan jari, mengkode agar Cindy menciumnya. Wajah Cindy memerah. "Ihk apaan sih," ucap Cindy dengan malu lalu membuang mukanya.
Devon mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy. Saat Cindy berbalik bibir mereka bertabrakan. Cindy pun tersentak kaget. Jantungnya berdebar kencang. Lalu memegang bibirnya bekas ciuman Devon. Devon terkekeh melihat wajah yang menggemaskan itu.
"Sayang, kamu mau makan apa? Oh ya, nanti kamu akan ditemani oleh asisten rumah tangga agar kamu tidak banyak berkatifitas dulu sebelum lukamu sembuh," kata Devon.
"Nanti aku pesan delivery order saja mas," tolaknya. Cindy tidak mau banyak merepotkan kekasihnya.
__ADS_1
"Mas Devon kembalilah ke kantor aku tidak apa-apa ditinggal sendiri," kata Cindy.
"Baiklah, nanti kalau kamu butuh sesuatu kamu telepon saja aku, oke," Devon mengecup kening Cindy lalu pergi.
Cindy melambaikan tangan pada kekasihnya.
"Gila belum jadi istrinya aja kau sudah dimanjakan seperti ini, eh tapi gue bukan cewek matre tentu saja aku akan membalasnya nanti," gumam Cindy yang sedang bermonolog.
Ia berjalan perlahan lalu duduk di sofa yang begitu empuk dan mewah pastinya. Ia menyandarkan kepalanya dan mengusap-usap sofa yang terasa halus itu.
Selang beberapa saat seseorang membunyikan bel apartemennya. Cindy berjalan perlahan untuk membuka pintu.
"Cari siapa?" Tanya Cindy saat membuka pintu.
"Eh Pak Bayu, silakan masuk," ajaknya.
"Saya ke sini hanya ingin mengantarkan Bi Mona untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga anda nona," ungkapnya.
Mata Cindy mengarah ke wanita yang tidak terlalu tinggi itu. Lalu wanita itu tersenyum pada Cindy. Diapun membalasnya.
"Silakan masuk," ajak Cindy pada Bi Mona.
"Pak Bayu gak duduk dulu?" Tanya Cindy.
"Saya harus kembali ke kantor nona, Bi Mona akan menemani nona tinggal di sini sampai nona sembuh." Cindy pun mengangguk yang menandakan ia paham dengan apa yang Bayu bicarakan.
...***...
Di tempat lain, Irma dan penghuni kos lain heran karena sudah seminggu Cindy tidak pulang ke kosan.
"Irma kamu tahu kemana perginya Cindy?" tanya Ibu Kos.
"Gak tahu, Bu," jawab Irma cuek.
"Ditanya orang tua kok ketus gitu pantes gak ada laki-laki yang mau sama kamu," cibir Ibu Kos.
__ADS_1
"Eh tu orang ya mulut gak disaring dulu kalau ngomong, bisanya cuma nyibir doang," gumam Irma.
Lalu Irma pun menghubungi ponsel Cindy. "Kok gak aktif sih, kemana tu anak bikin irang khawatir aja," gerutu Irma. Meski setiap kali ia bersama Cindy selalu bertengkar tapi sebenarnya ia peduli dengan tetangga kosnya itu.