
Hari ini pihak kepolisian mendatangi rumah sakit guna memeriksa Angga yang diduga sebagai penyebab terjadinya kebakaran di tempat kerjanya.
Sebelum melakukan penyelidikan pihak polisi meminta izin kepada dokter yang merawat Angga. "Saudara Angga kami akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda terkait musibah kebakaran yang terjadi di hotel tempat anda bekerja." Angga mengangguk pasrah. Dia sudah tahu dirinya akan ditetapkan sebagai tersangka.
"Silakan, pak."
"Saudara Angga apa saat kejadian anda sedang mabuk? Karena usai pemadaman berlangsung ditemukan kaleng bekas minuman beralkohol.
"Tidak, pak. Saya tidak mabuk saat itu. Saya hanya minum sedikit tapi tidak sampai mabuk," jawab Angga dengan jujur.
"Kenapa anda minum di tempat kerja?" Tanya polisi tersebut lebih lanjut.
"Supaya saya bisa lembur pak. Jadi saya membeli minuman kaleng itu."
"Kenapa anda tidak membeli kopi saja?"
"Kopi tidak mempan mengusir ngantuk saya pak. Jadi saya minum minuman beralkohol sedikit." Selama menjawab pertanyaan Angga selalu jujur. Ia sudah berfikir akan lebih baik dia dipenjara daripada harus mengganti uang yang selamanya tak akan bisa dilunasi.
"Jadi anda mengakui kalau kaleng tersebut milik anda?" Angga mengangguk lemah. Berbohong pun percuma karena jelas sekali peraturan kantor tidak memperbolehkan membawa minuman keras ke ruangannya.
"Pak apa hukuman saya berat?" Angga penasaran dengan sanksi yang akan dia terima.
"Kami belum tahu, tapi jika anda ingin bebas dalam waktu cepat, bersikaplah kooperatif pada polisi. Sementara itu saja dari kami. Persiapkan diri anda setelah sembuh nanti karena kami akan membawa anda untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anda," ucap salah seorang polisi itu dengan tegas.
Pandangan Angga tiba-tiba kosong. Ia tak tahu bagaimana reaksi keluarganya di kampung jika dirinya akan dipenjara gara-gara membakar gedung hotel milik Devon. Angga pun memikirkan biaya yang harus dikeluarkan olehnya untuk membayar perawatan rumah sakitnya.
Tak
Tak
Tak
Suara sepatu yang semakin terdengar jelas itu akhirnya memasuki ruang rawatnya. Angga tiba-tiba menangis setelah melihat kedatangan Devon.
__ADS_1
"Angga kenapa kamu menangis?" Tanya Devon penasaran. Jujur dia iba pada anak magangnya itu.
"Saya minta maaf, Pak. Saya sudah membuat hotel bapak terbakar."
"Saya tahu itu. Saya ke sini untuk bilang pada kamu tidak usah memikirkan biaya perawatan rumah sakit kamu. Karena saya yang menanggung semua biaya perawatan rumah sakit korban kebakaran beberapa waktu lalu."
Angga semakin menjadi. "Tapi saya hanya pegawai magang apa saya juga berhak mendapatkan bantuan dari bapak?"
"Tentu saja, Tapi kamu akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatan kamu meski kamu bilang tidak sengaja. Karena kasus ini ditangani oleh pihak kepolisian. Saya bisa saja menolong kamu, tapi kerugian yang saya alami begitu besar dan perusahaan saya tidak bisa melakukan klaim asuransi karena alasan kelalaian manusia. Jadi saya harap kamu bisa memahami semua yang terjadi pada saya."
"Maafkan saya pak. Saya bersedia masuk bui karena saya tidak akan mampu mengganti seluruh kerugian yang bapak alami," ucap Angga dengan penuh penyesalan.
"Saya tahu. Lalu kenapa sampai sekarang tidak ada satupun pihak keluargamu yang datang untuk menjenguk mu?" Tanya Devon heran. Lalu ia melirik pada Bayu.
"Pak, saat itu kami mencoba menghubungi keluarga Angga tapi ketika saya menyuruh orang untuk datang langsung ke alamatnya ternyata mereka tidak ada di rumahnya." Terang Bayu panjang lebar.
"Keluarga saya memang hidup berpindah-pindah tempat pak. Kemiskinan membuat kami harus mencari biaya sewa rumah yang murah. Waktu saya mengisi formulir di perusahaan, saya menggunakan alamat sesuai KTP." Angga menjelaskan keadaan hidup keluarganya berharap Devon iba.
"Saya turut prihatin mendengar kisah hidup kamu, hidup memang penuh perjuangan. Setiap orang mengalami nasib yang berbeda-beda asal kamu mau berusaha mengubah nasib kamu, Tuhan pasti akan kasih kamu jalan. Mungkin saat ini kamu tidak bisa membantu keluargamu sementara waktu. Tapi yakinlah jika mereka akan baik-baik saja."
Pembicaraan itu akhirnya berakhir ketika seorang dokter masuk hendak memeriksa keadaan Angga. "Lukanya sudah mulai mengering jangan lupa minum obat secara teratur supaya luka bakarnya tidak bertambah parah." Dokter tersebut mengingatkan.
Devon menuju ke tempat parkir. "Bayu bagaimana persiapan pemindahan karyawan sementara ke kantor cabang?"
"Hampir delapan puluh persen siap pak. Masih ada beberapa orang yang keberatan karena mereka tidak mau tinggal berjauhan dengan keluarga mereka."
"Baiklah, tidak masalah. Pertahankan yang masih mau bekerja dengan kita. Abaikan karyawan yang tidak mau ikut. Kita hanya butuh orang-orang yang setia dan patuh pada perintah atasannya." Devon merasa sedikit geram pada sikap karyawannya.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Setelah itu Bayu menutup pintu mobil. Ia pun masuk ke dalam mobil guna mengemudikan kendaraan yang ia pakai.
"Kita akan kemana, Pak?" Tanya Bayu.
"Ke kantor cabang. Setidaknya aku yang akan bilang pada manager di sana untuk menerima para pegawai dari kantor pusat. Oh ya, bisakah kita mampir ke sebuah restoran aku sangat lapar." Perintah Devon pada Bayu.
__ADS_1
Lalu Bayu melihat papan restoran di depannya. Ia pun menepikan mobilnya di dekat restoran tersebut. Tak di sangka di sana ia bertemu dengan Tommy.
Keduanya saling berjabat tangan. "Apa kabar?" Tanya Tommy. Ia sudah melihat berita mengenai musibah kebakaran yang menimpa hotel milik Devon.
"Bagaimana menurutmu?" Balas Devon. Ia ingin Tommy menebak.
"Aku turut prihatin mengenai musibah kebakaran yang menimpa hotelmu."
"Terima kasih," balas Devon.
"Duduklah kita makan siang bersama," ajak Tommy. Devon mengangguk setuju. Bayu juga ikut duduk di satu meja.
"Apakah kau menerima klaim asuransi? berapa yang kau dapatkan?" Tanya Tommy penasaran dengan jumlah asuransi yang diterima Devon.
"Nol rupiah," jawab Devon.
Brak
Tommy menggebrak meja. "Mana mungkin? Bukankah ini sebuah kecelakaan?"
"Mereka menolak karena mereka menganggap kebakaran itu merupakan ulah manusia."
"Apa maksud kamu?"
"Intinya aku tidak akan dapat uang asuransi." Devon mengalihkan pembicaraan.
"Apa perlu aku pinjamkan dana untuk membangun perusahaanmu kembali?" Tommy menawarkan bantuan.
"Apa yang kau inginkan dariku? Aku tahu tidak ada yang gratis di dunia," cibir Devon.
"Hai, kau selalu berpikiran negatif terhadapku," protes Tommy.
"Lalu apa kau akan meminjamkan uangmu secara cuma-cuma?" Tanya Devon. Tommy mengangguk setuju. Devon malah terkejut.
__ADS_1
"Bukankah selama ini kau menganggapku sainganmu? Kenapa kau malah menolongku? tanya Devon.
"Bagaimana kalau kita lupakan masa lalu. Aku pinjamkan uang untukmu tapi kau harus melunasinya segera. Aku juga butuh uang itu untuk modal perusahaan yang harus berputar setiap harinya agar kita bisa membayar gaji karyawan."