
"Pak anda terlihat lelah pagi ini," kata Tania seraya meletakkan secangkir kopi di meja atasannya itu. Sejak tadi Tania memperhatikan Tommy yang menguap beberapa kali.
"Apa anda begadang semalaman? Anda terlihat seperti kurang tidur, mata anda sedikit hitam, Pak," ungkap Tania.
"Ah, tidak," sangkal Tommy. "Oh iya Tan, apakah kamu tahu tempat tinggal seperti rumah kontrakan yang kosong, saya ingin kamu menemukan satu untuk saya," kata Tommy pada sekretarisnya.
"Akan saya carikan untuk anda, Pak. Tapi kalau boleh saya tahu untuk apa?" Tanya Tania yang penasaran dibuatnya.
"Kerjakan saja apa yang aku perintahkan padamu," jawab Tommy. Tania pun tidak mau berdebat dengan atasannya itu.
Beberapa jam kemudian Tania berhasil mendapatkan sebuah rumah untuk Tommy. "Kerja bagus Tan. Kamu memang paling bisa diandalkan," puji Tommy pada sekretarisnya.
Setelah itu, Tommy pulang lebih awal dari biasanya. "Cindy," teriak Tommy ketika masuk ke dalam rumahnya. Tak ada jawaban dari orang yang ia panggil. Ketika ia mengedarkan pandangannya terlihat Cindy sedang tertidur di atas sofa dengan posisi terduduk.
Tommy duduk dengan perlahan di samping Cindy. Ia mengamati wajah cantik itu dengan seksama. Mata yang memiliki buku mata lentik, hidung macung meskipun pipinya sedikit cabi tapi tak mengurangi kecantikan Cindy. Lalu pandangan Tommy berakhir di bibir merah milik wanita yang sedang tertidur itu. Ingin sekali ia mengecupnya tapi Tommy tidak mau kehilangan kepercayaan Cindy. Ia sadar sudah tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan oleh wanita itu.
Ia harus bisa memperoleh kepercayaan Cindy agar Cindy tetap bertahan di sisinya. Lalu tak ingin larut dalam keinginannya menguasai Cindy, Tommy memilih membangunkan wanita itu.
__ADS_1
"Cin, bangun!" Tommy membangunkan secara perlahan dengan menggoyang lengan Cindy. "Eh, maaf aku ketiduran," kata Cindy yang terbangun.
"Tidak apa, sepertinya kamu lelah setelah membereskan kekacauan rumahku," kata Tommy setelah memperhatikan kondisi rumahnya yang berubah menjadi sangat rapi dan bersih.
"Terima kasih," ucap Tommy dengan tulus.
"Sudah seharusnya aku membalas kebaikanmu, maaf hanya ini yang bisa aku lakukan."
"Kamu bukan asisten rumah tanggaku jadi jangan bersikap seperti ini lagi, oh iya aku sudah menemukan tempat tinggal untukmu, ikutlah denganku, akan aku bawakan barang-barangmu sekalian," kata Tommy dengan antusias.
Lalu mereka menuju ke sebuah perumahan yang tidak terlalu luas tapi letaknya sangat strategis dan mudah dalam mencari kendaraan.
"Berapa biaya sewa per bulannya?" Tanya Cindy. Ia takut tak mampu membayar sewa per tahunnya mengingat dirinya yang tak memiliki pekerjaan saat ini.
"Jangan pikirkan itu, sekarang pikirkan dirimu, pikirkan bagaimana kamu melalui hari-harimu di saat kamu sedang berbadan dua," kata Tommy.
"Apa anak itu anak Devon?" Tanya Tommy kemudian. Ia sebenarnya tak mampu mendengar kenyataan jika benar itu adalah anak dari Devon. Tapi ia juga tidak bisa mengubah kenyataan yang telah terjadi.
__ADS_1
Cindy mengangguk pelan. Rasanya malu sekali mengakui dirinya hamil di luar nikah. "Maaf, aku banyak merepotkanmu, itulah alasan kenapa aku tidak menjawab lamaranmu, aku ini sudah tidak perawan lagi." Cindy menundukkan wajahnya. Ia tak mampu memandang Tommy dengan kedua matanya.
Tommy mengangkat dagu Cindy. "Apa aku perlu minta pertanggungjawaban darinya agar dia mau mengakui darah dagingnya?" Tanya Tommy dengan nada bergetar.
Cindy menggeleng. "Hubunganku dan Mas Devon sudah berakhir, aku tidak mungkin meminta pertanggungjawaban darinya, dia bahkan tak mau bicara denganku. Aku harap kamu merahasiakan kondisi kehamilanku saat ini dari siapa pun, terutama Mas Devon. Aku ingin melupakannya, aku yakin aku mampu membesarkan anak ini sendirian."
Air mata Cindy sempat menetes tapi cepat-cepat ia menyekanya. Tommy memandang sendu pada wanita yang berusaha tegar yang kini duduk di sampingnya itu.
"Aku harap kamu pikirkan tawaranku kembali," pinta Tommy tapi tidak memaksa Cindy untuk menerimanya.
"Entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu saat ini, tapi ingatkan aku untuk membalasnya suatu saat nanti jika aku lupa," kata Cindy.
"Kau tak perlu membalas apapun yang kulakukan untukmu adalah tulus. Aku memang memiliki perasaan padamu tapi aku lebih mementingkan sikap kemanusiaanku dari pada egoku."
Mulai saat itu, Cindy tinggal seorang diri. Berbekal ketrampilannya membuat kue, Cindy menjual kue ulang tahun sesuai pesanan.
Tommy pernah memberikan sejumlah uang padanya tapi Cindy menolak. Tommy juga menawari pekerjaan di salah satu bagian kantornya, Cindy juga menolak. Ia tak mau bergantung pada Tommy.
__ADS_1
Beruntung dia hanya hidup seorang diri jadi uang yang didapat dari hasil berjualan kue cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Jualannya yang laris membuat Cindy bisa menabung untuk kebutuhan lahirannya nanti.