Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 197


__ADS_3

Hari-hari Tania begitu menyenangkan setelah menikah dengan Alan. Tania mencoba melayani suaminya dengan baik. Meskipun Tania tidak bisa memasak, Alan memaklumi karena selama ini Tania fokus bekerja. Namun Tania selalu belajar memasak bersama ibu kandungnya ketika hari Minggu.


Hari ini Tania datang ke rumah ibunya untuk belajar memasak.


"Sudah siap memasak hari ini?" Tanya sang ibu pada Tania. Dia begitu antusias mengajari anaknya.


"Sudah Bu."


"Kamu potong bawang ya, itu ambil di sana," tunjuk wanita yang berusia kurang lebih lima puluh tahunan itu.


Lalu Tania mulai memotong bawang. Namun, perutnya tiba-tiba mual ketika mencium bau bawang. Ia pun berlari ke toilet. Sang ibu menjadi panik.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya wanita itu yang melihat anaknya lemas setelah memuntahkan isi perut.


"Mual bu, kepalaku juga pusing," kata Tania Sang ibu pun memapah anaknya sampai di sofa.


"Ibu ambilin minum ya," Tania mengangguk lemah.


"Coba makan camilan dulu barang kali perut kamu kosong." Sang ibu menyodori makanan.


"huekk, hueekk," Tania berlari secepat mungkin ke toilet.


Lalu Alan ditelepon oleh ibu mertuanya. Alan bergegas pulang ke rumah. "Kamu nggak apa-apa sayang?" Tanya Alan pada Tania ketika dia sedang berbaring di kamar. Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya sesekali mencium punggung tangannya.


"Aku nggak apa-apa cuma mual muntah aja, paling masuk angin," jawabnya.


"Kita periksa ke dokter ya sayang," bujuk Alan.


"Nggak usah beli obat apotek saja. Nyium bau kamu udah bikin mualku reda."


Sang ibu yang mendengar itu jadi curiga. "Tunggu tunggu jangan-jangan anakku...." ibunya Tania tak meneruskan kata-katanya. Ia malah terlihat bahagia.


"Aku mau punya cucu," teriak Sang ibu kegirangan sambil berjalan keluar.


Alan dan Tania terkejut mendengar suara ibunya. Mereka saling pandang. "Memang bener kamu hamil?" Tanya Alan pada Tania.


"Aku nggak tahu," jawab Tania.


"Kita periksa ya ke dokter," bujuk Alan untuk kesekian kali.


"Ya sudah ayo." Tania bersiap bangun. Tapi kepalanya terlalu pusing. Alan yang tak tega pun menggendongnya.


Alan membawa istrinya ke dalam mobil. "Bu aku antar Tania periksa ke dokter ya," izin Alan.


"Hati-hati ya nak bawa mobilnya," pesan ibu mertuanya. Alan mengangguk paham.


Tania mulai diperiksa sesampainya di klinik yang tak jauh dari rumah. Kebetulan saat itu pasien yang mengantri hanya sedikit.


"Seperti dugaan saya, selamat Bu anda hamil," kata dokter yang memeriksa. Tania dan Alan tampak bahagia mendengarnya.


"Untuk lebih pastinya besok anda bisa langsung ke dokter kandungan ya untuk mencari tahu usia kandungan dan kesehatannya," saran dokter itu.

__ADS_1


"Sementara saya kasih vitamin ya untuk meredakan mual muntahnya," imbuhnya lagi.


"Iya, Dok."


Alan menuntun Tania saat akan menuju parkiran. "Aku bisa jalan sendiri kok Yang."


"Tidak apa, aku takut kamu jatuh," jawab Alan sambil tersenyum.


"Kamu berlebihan," kata Tania sambil terkekeh. Meskipun begitu ia sangat menyukai perhatian dari sang suami.


"Ternyata hamil tu seperti ini." Gerutu Tania.


Sesampainya di rumah Alan mengabari orang tuanya. "Kamu tahu sayang mereka sangat excited lho dengan kehamilan kamu," kata Alan sambil membungkuk mencium perut istrinya yang masih rata.


"Ayah nggak sabar buat main sama kamu sayang," bisiknya di depan perut Tania.


"Ayah?" Tanya Tania.


"Iya aku pengen dipanggil ayah sayang," jawab Alan.


"Baiklah, ayah apakah kau mau memenuhi keinginanku?" Tania bertingkah manja.


"Aku ingin makan buah mangga muda," kata Tania.


"Ya ampun cari penjual buah malam-malam gini dimana sayang, besok saja ya," Alan memohon pada istrinya.


"Hiks," Tania mulai terisak. "Iya, tapi besok harus nemu ya," pinta Tania manja.


Keesokan harinya ibunya Alan datang bersama sang suami. "Bu, kebetulan sekali ibu ke sini, Tania ingin makan buah mangga muda," kata Alan.


"Nyarinya dimana Bu kalau tidak musim begini," jawab ayahnya Alan dengan ragu-ragu.


***


"Mas, kok ayah lama sekali sih?" Rengek Tania.


"Kamu udah pengen makan buah itu banget ya?" Tanya Alan yang menatap iba pada istrinya. Tania mengangguk.


Tak lama kemudian ayah Alan datang dengan membawa buah yang dimaksud. "Nih buahnya," Ayahnya Alan menyodorkan sekilo buah mangga muda tadi.


"Kamu nyarinya dimana sih Mas kok lama banget," protes ibunya Alan.


"Jauh banget ya dari sini," kata suaminya.


"Yang, aku kupasin ya?" Tanya Alan.


"Aku udah nggak mau makan itu Mas, aku mau makan yang lain," kata Tania.


***


Kini kehamilan Tania memasuki trimester tiga. Fase mual muntah sudah terlewati bahkan sebentar lagi dia akan melahirkan. Tubuh Tania menjadi lebih berisi karena perutnya sudah membuncit.

__ADS_1


"Mas, hari ini ada banyak kerjaan ya?" Tanya Tania. Alan mengangguk.


"Iya semoga bulan depan aku sudah bisa menabung, kamu doain daddy ya supaya daddy urusan daddy lancar," ucapnya pada bayi yang ada di dalam perut Tania


"Iya Ayah," Tania mewakili anaknya menjawab omongan sang suami.


"Oh ya nanti malam jadi nyari baju buat dipakai ke acara nikahnya temenku?" Tanya Tania


"Iya aku usahakan pulang cepat. Setelah dari toko aku akan membawamu belanja," kata Alan sambil mengelus pipi istrinya. Lalu ia mencondongkan tubuhnya dan meraih bibir istrinya yang membuatnya candu.


"Mas..." nafas Tania tersengal-sengal saat Alan melepas pagutannya.


"Aku jadi malas kerja" kata Alan sambil mengusap bibir istrinya yang basah.


"Jangan begitu."


"Habisnya kamu selalu menggodaku. Apalagi setelah kamu hamil, kamu terlihat semakin seksi," bisik Alan di telinga Tania hingga wanita hamil itu meremang.


"Sudah sana!" Tania mendorong tubuh Alan sambil terkekeh.


***


Hari ini Tania menghadiri pernikahan temannya.


"Ya ampun bumil, makasih ya udang dateng ke acara pernikahan gue," kata teman Tania yang tampak mengagumi perut istri Alan itu.


"Mas aku jadi ingin cepat-cepat hamil kaya Tania." Semua orang terkekeh mendengar candaan mempelai wanita.


Tiba-tiba Tania merasa mulas. "Mas aku capek berdiri bagaimana kalau kita duduk dulu," kata Tania sambil memegangi perutnya.


Ia mengira itu hanya kontraksi palsu. Karena akhir-akhir ini ia sering merasakannya. Tapi yang ia rasakan saat ini semakin lama semakin sakit.


"Mas Alan aku ingin melahirkan," teriak Tania. Alan dan tamu yang hadir di acara pernikahan itu pun sontak kaget.


"Bagaimana ini?" Alan sangat panik. Apalagi melihat istrinya kesakitan.


"Bos biar gue yang nyetir, kita bawa istri lo ke rumah sakit sekarang," kata salah seorang yang dia kenal.


Tania sedari tadi meremas tangan suaminya untuk mengalihkan kesakitan yang ia alami.


"Mas, sesakit ini ya kalau melahirkan, aku hampir nggak kuat Mas," Tania menitikkan air mata. Begitu juga dengan Alan, dia tak tahan melihat sang istri yang selalu ceria kini malah menangis terus menerus.


"Ibu," teriak Tania.


"Udah sampai bos," Pria yang menolong itu berhenti di parkiran mobil. Alan segera turun dan menggendong istrinya meskipun sekarang beratnya makin bertambah tapi tak ia hiraukan.


"Kamu bertahan aku akan hubungi orang tua kita."


Alan menemani Tania di ruang bersalin. "Pak anda yakin mau menemani istri anda?" Tanya perawat memastikan karena tidak semua suami tahan melihat istrinya tersiksa.


"Mas jangan pergi temani aku," kata Tania di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Aku di sini sayang," kata Alan sambil membungkuk. Ia melihat detik-detik sang istri berjuang melahirkan putranya.


Semua keluarga telah menunggu di depan ruang bersalin dalam keadaan cemas. Ketika terdengar suara tangis bayi, semua orang bersorak. Bahkan ibunya Alan yang tidak pernah menyapa besannya kini tiba-tiba berpelukan pada ibunya Tania.


__ADS_2