Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 194


__ADS_3

"Ya aku memang tidak mengantarkan pesanan seperti yang aku katakan." Alan mengaku kepada Tania.


"Apa itu karena wanita yang bersama kamu di toko roti waktu itu?" Tanya Tania.


"Kamu tahu siapa wanita yang kamu maksud itu?"


"Aku tidak peduli siapa dia, yang jelas kamu membuat aku cemburu. Apa kamu berselingkuh dengannya?" Tuduh Tania.


Alan tertawa mendengar tuduhan Tania. "Bagaimana bisa aku berselingkuh dengan gadis yang usianya jauh di bawah aku."


"Bisa saja kamu tertarik kepada wanita yang lebih muda. Bukankah dia lebih cantik daripada aku?"


"Dia itu...." Belum selesai Alan berbicara Tania sudah menyela.


Tania berdiri. "Aku ingin istirahat bisakah kamu pulang saja sekarang?" Usirnya pada sang ibu kekasih.


"Tidakkah kamu memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskannya? Kenapa aku tidak menemui kamu hari ini?" Alan memohon pada Tania.


"Apa yang kulihat sangat jelas."


Alan menghela nafas berat lalu dia pamit pulang pada ibunya Tania. Saat ini percuma saja dia menjelaskan jika Tania masih cemburu buta.


*


*


*


Di suatu kesempatan Tommy dan Tania datang ke sebuah perusahaan yang baru dirilis. Saat itu Tania bertemu dengan wanita yang kemarin menemui Alan di depan toko rotinya Cindy.


Tommy tersenyum pada gadis itu. "Long time no see," sapa Tommy pada Ruby.


"Apa kabar Om?" Tanya Ruby.


"Baik, seperti yang kamu lihat. Bukankah kamu memiliki perusahaan peninggalan orang tuamu? Kenapa kamu memilih menjadi asisten pribadi orang lain?" Tanya Tommy penasaran.


"Aku masih belajar Om. Perusahaan yang diwariskan untukku masih dipegang papa sampai aku siap untuk memimpin sendiri," jawab Ruby.


Tania berbisik pada Tommy. "Pak, apa anda mengenal gadis itu?"


"Tentu saja kenal. Dia itu anak angkatnya Devon lebih tepatnya anak dari mantan pacarnya dulu."


Tania membulatkan matanya ternyata dia salah sangka waktu itu. Pantas saja Alan akrab dengan wanita itu, ternyata dia adalah anak angkat Cindy.


"Kenapa Tan?" Tanya Tommy.


"Ah tidak Pak."


"Dia ini sebenarnya pewaris perusahaan peninggalan orang tuanya tapi entah kenapa dia masih percaya pada Devon untuk memegangnya. Padahal dia lulusan luar negeri."


"Background pendidikan yang sangat baik," gumam Tania.


Sebenarnya dia takut jika Alan lebih memilih seorang gadis dibandingkan janda.

__ADS_1


"Aku harus minta maaf pada mas Alan," batin Tania.


Setelah itu Tania menyempatkan diri ke tempat kerja Alan.


"Bisakah kita bicara sebentar?" ucap Tania ketika dia sudah bertemu dengan Alan.


"Ada apa sayang?" tanya Alan.


"Maaf aku telah salah sangka dan cemburu kepadamu. Aku sudah tahu siapa wanita yang bersamamu kemarin"


"Aku baru mau menjelaskan kepadamu tapi kamu sudah salah sangka duluan."


"Maafkan Aku."


"Sudah dimaafkan. Sebenarnya saat itu aku ingin menjelaskan kenapa aku menghindar dari kamu. Karena aku sebenarnya minder apakah aku masih pantas untuk berdampingan dengan kamu."


"Kenapa ngomongnya seperti itu?"


"Kamu tahu sendiri kan gajiku tidak seberapa. Maksud aku gajimu lebih besar dariku. Aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu setelah kita menikah."


"Ngomong-ngomong soal nikah kapan Mas Alan mengajakku menemui orang tuamu?" tanya Tania.


"Sebenarnya aku masih ragu. Aku takut kamu berubah pikiran."


Tania memegang kedua tangan Alan untuk meyakinkan. "Aku tidak akan pernah berubah pikiran. Meski kamu bukan yang pertama untukku tapi kamu jadi yang terakhir buatku."


Alan tersenyum. "Baiklah aku akan meminta orang tuaku datang ke sini."


"Kenapa tidak kita saja yang ke sana?"


Setelah itu Alan menghubungi orang tuanya agar mereka mau datang ke kota.


Kedua orang tua Alan bersemangat datang ke kota karena mereka mendengar Alan sudah menemukan pasangan hidup.


Saat ini orang tua Alan sedang berada di stasiun kereta. Alan menjemputnya menggunakan taksi.


"Ibu senang kamu sudah mendapatkan jodohmu. Jadi kapan kita bisa menemuinya?" tanya ibunya bersemangat.


"Sabar bu. Ibu dan bapak sebaiknya istirahat dulu."


Ibunya kaget ketika dia dibawa ke sebuah rumah yang sederhana. "Ini rumah siapa Nak?" tanya sang ibu.


"Ini rumah yang Alan beli dengan hasil jerih payah Alan sendiri. Maaf Bu, Alan hanya bisa membeli rumah sederhana ini."


"Kamu membuat Ibu bangga nak. Kamu bisa menyisihkan uangmu untuk ditabung hingga bisa membeli rumah sendiri. Ibu tahu harga rumah zaman sekarang itu tidak murah apalagi di kota seperti ini."


"Bapak dan Ibu silakan beristirahat. Alan akan kembali bekerja nanti malam aku akan mengajak calon istriku menemui kalian."


Sesuai janji Alan pada orang tuanya dia membawa Tania ke rumah. Tania datang sendiri ke rumah Alan.


Tetangga rumah Alan kembali nyinyir.


"Itu kan mobilnya Bu Tania. Kenapa datang ke rumah Pak Alan?"

__ADS_1


"Ibu-ibu belum tahu ya tadi siang saya lihat orang tuanya Pak Alan datang dari kampung."


"Jadi benar kan dia itu ada hubungannya dengan Pak Alan? Mereka memang berpacaran kan?"


"Benar, jadi waktu itu mereka memang sedang mesum tapi tidak mau mengaku." Salah seorang ibu terlihat jengkel.


"Lihat sekarang Pak Alan malah mempertemukan bu Tania yang janda itu dengan orang tuanya. Berarti kan mereka berhubungan serius?" Ibu-ibu itu mengangguk setuju.


Kembali ke rumah Alan


"Pak, Bu, ini Tania kekasih Alan."


Tania meraih tangan kedua orang tua Alan dan menciumnya. "Nama saya Tania."


"Cantik sekali kamu Nak. Berapa usiamu?" tanya sang ibu.


"Saya seumuran dengan mas Alan," jawab Tania.


"Mari silakan duduk! Apa kamu sudah makan kalau belum kita makan bersama-sama. Kebetulan ibu masak banyak hari ini."


"Apakah boleh?" tanya Tania.


"Tentu saja boleh."


Tania merasa senang karena dia disambut baik oleh kedua orang tua Alan.


Cukup lama Tania mengobrol bersama dengan kedua orang tuanya. Alan merasa senang karena dengan cepat Tania bisa akrab dengan kedua orang tuanya.


"Bagaimana Pak, Bu, apakah kalian merestui hubungan kami?" tanya Alan pada kedua orang tuanya.


"Tentu saja asal kamu bahagia." Ayahnya mengangguk setuju dengan omongan sang istri.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Bu," orang tua Alan mengangguk.


Keesokan harinya ketika ibunya Alan sedang menyapu di halaman rumah anaknya, seorang tetangga menyapanya.


"Orang tuanya Alan ya?" Dia mengangguk membenarkan omongan tetangganya itu.


"Jadi Pak Alan mau menikah dengan Bu Tania yang janda itu?"


"Janda??" tanya ibunya yang kaget dengan perkataan tetangga Alan.


Apakah yang terjadi selanjutnya apakah ibunya Alan menyetujui perubahan mereka


Hayuk mampir juga ke novel karya author CovieVy ini dijamin tidak membosankan.


Blurb :


Seperti biasanya, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.


Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh dikejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.


Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus ****** yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik suamiku?

__ADS_1



__ADS_2