Click Your Heart

Click Your Heart
Baba 168


__ADS_3

Hari ini Devon dan seluruh karyawannya kembali ke kantor pusat karena pembangunan kantor usai kejadian pembakaran tersebut sudah selesai.


"Apa semuanya sudah bisa kembali bekerja seperti dulu?" Tanya Devon pada asisten pribadinya.


"Semua terkontrol dengan baik, Pak," jawab Bayu.


"Menyenangkan sekali rasanya kembali ke kantor sendiri daripada harus bergabung dengan karyawan kantor cabang," ucap salah satu karyawan.


"Iya kamu bener, mereka menyebalkan mentang-mentang kita numpang di kantornya terus kita diperlakukan seenaknya. Awas saja nanti kalau mereka ada meeting di sini aku juga tidak mau berbaik hati kepada mereka," yang lain menimpali.


Ketika Bayu dan Devon lewat kedua orang yang sedang berdiskusi itu menghentikan obrolannya.


"Apa pekerjaan kalian sudah selesai?" Tanya Bayu dengan nada dingin.


"Maafkan kami, Pak" jawabnya dengan menundukkan kepala karena merasa bersalah.


"Sudah tidak apa-apa, Bayu hari ini kamu boleh pulang cepat. Bukankah akan ada acara syukuran di rumahmu nanti malam?"


"Terima kasih banyak Pak. Setelah saya mengerjakan pekerjaan saya, saya akan pulang cepat," jawab Bayu.


Bayu dan Irma mengadakan syukuran aqiqah untuk anaknya. Dia mengundang Devon dan istrinya, Tommy dan keluarganya serta kolega kolega bisnisnya juga.


"Acaranya sangat meriah," kata Cindy saat hadir di acara aqiqah anak Bayu.


"Ya kamu benar," jawab Irene.


"Ngomong-ngomong apakah anakmu itu sepantaran dengan anak Irma?" Tanya Cindy penasaran.


"Ya kau benar, kalau tidak salah mereka lahir hanya selisih beberapa hari," terang Irene. Dia tidak membawa Kevin karena mamanya memilih tinggal.


"Kapan kalian akan mengadakan syukuran juga?" Tanya Devon yang ikut bergabung.


"Iya aku lupa nanti akan aku bicarakan dengan mama dan Mas Tommy."


"Jangan lupa undang kami."


"Tentu saja."

__ADS_1


"By the way siapa nama bayi kalian?" Tanya Cindy.


"Namanya Kevin. Baby Daisy sudah bisa apa sekarang?"


"Dia mulai belajar merangkak," jawab Cindy. Daisy berada di gendongan sang ayah.


"Wah sudah pandai ya," puji Irene sambil mencolek pipinya yang gembul. Daisy tertawa mendapatkan cubitan kecil dari Irene.


"Sayang, aku ke sana dulu ya menemui Bayu," Devon meminta izin.


"Oh ya, Apa kamu tahu aku mempekerjakan Alan untuk menggantikan kamu dan Irma."


"Apa? aku belum tahu. Sejak kapan?" Tanya Irene. Sudah lama dia tidak mendengar kabar Alan.


"Belum ada sebulan ini. Aku bingung harus mencari karyawan baru ke mana lagi setelah Lisa pergi. Akhirnya aku minta Alan untuk bekerja di toko rotiku," terang Cindy.


"Baguslah lebih baik mempekerjakan orang yang sudah kita kenal daripada kita mempekerjakan orang yang berkhianat seperti Danu. Apa kabarnya dia? apakah kamu tidak melaporkannya ke polisi?"


Cindy menggedikkan bahu. "Entahlah, aku tidak tahu kabarnya setelah dia kupecat. Aku rasa dengan memecatnya tanpa pesangon sudah cukup, tidak perlu sampai melibatkan polisi," jawab Cindy.


"Semoga saja tidak ada karyawan lain yang seperti Danu."


"Mas bisakah kamu luangkan waktu untuk anak-anak, kita sudah lama tidak berlibur bagaimana kalau kita ajak anak-anak ke pantai misalnya?" Cindy memberikan usul.


"Boleh tapi jangan ke pantai, bagaimana kalau kita ajak mereka ke wahana permainan saja?"


"Baiklah, aku setuju. Bagaimana kalau kita ajak si kembar Jaden dan Julian juga mungkin akan tambah seru."


"Itu ide yang bagus kalau perlu ajak orang tuanya sekalian untuk berlibur."


"Ah mendengar kata berlibur aku ingin suatu saat kita bisa berlibur ke luar negeri." Cindy membayangkan bisa liburan ke sana.


"Tentu saja bisa tapi kita tunggu anak-anak besar dulu karena kasihan kalau mereka jet lag."


"Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Devon.


"Iya setelah pulang dari rumah Bayu mereka langsung masuk ke kamar mereka masing-masing, baby Daisy sudah tidur bersama pengasuhnya."

__ADS_1


"Apakah kita akan menghabiskan malam panjang ini berdua?" Tanya Devon sambil menyingkirkan rambut istrinya ke belakang.


"Tentu saja." Cindy mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Apa kau ingin menggodaku?"


"Apa tidak boleh sekali-kali aku menggoda suamiku sendiri."


"Tentu saja boleh aku lebih suka kalau kamu yang mau mulai lebih dulu."


Mereka mulai dengan menyatukan bibir hingga membuat Cindy terbuai dan secara tidak sadar telah berada dalam kungkungan tubuh suaminya.


Devon melepas kaos yang ada di badannya saat mengapit paha sang istri. Lalu mencondongkan diri pada wanita yang berbaring di hadapannya sekarang.


Devon tersenyum dan meraih tangan Cindy agar menempel di dadanya yang telan*jang. Seketika darah Devon berdesir ketika merasakan sentuhan lembut istri cantiknya itu.


Mereka sudah jarang melakukannya, sedikit sentuhan saja bisa memicu gairah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Perlahan Devon melepas kancing piyama yang dikenakan oleh Cindy. Cindy memejamkan mata saat pria yang ada di atasnya kini menenggelamkan wajahnya di leher. Hembusan nafas Devon yang terasa panas dilehernya membuatnya terbuai. Ada sensasi geli tapi begitu menyenangkan bagi wanita itu.


Devon meninggalkan jejak di leher jenjang Cindy hingga membuat Cindy menggigit bibir bawahnya untuk menahan l*ng*han yang keluar dari mulutnya. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh suaminya sungguh membuatnya mabuk kepayang.


Cindy mencengkeram apa saja yang dapat dijangkau oleh tangannya ketika Devon mulai bermain-main di atas perutnya yang rata. Kemudian berpindah ke punggung Cindy yang mulus untuk membuka penutup pabrik su su. Cindy sudah tidak bisa menahannya lagi hingga d*sah*n dan le*g*han lolos begitu saja dari bibirnya.


"Emmph mas, emmph,"


Tangan Devon mulai menjangkau daerah sensitif milik istrinya. Kemudian membasahi bibirnya yang kering dengan lidah. Devon mendongak kemudian berkata "kamu basah."


Devon kemudian melucuti bagian yang masih tertutupi lalu membuka pakaian yang masih dikenakan oleh Cindy. Devon mendekatkan tubuhnya dan menautkan jari jemarinya menyalurkan rasa aman pada sang istri.


"Aku masuk ya," izinnya.


Devon menggenggam tangan Cindy kemudian menciumnya. Ia pun melakukannya dengan hati-hati. Cindy melenguh saat penyatuan berlangsung. Wanita itu menggigit bibirnya dan mencengkeram punggung suaminya. Devon menciumi leher dan bibir istrinya bergantian.


Sesaat kemudian Devon merasakan sensasi panas di sekujur tubuhnya. Ia benamkan wajahnya di ceruk leher sang istri dan memeluknya perlahan kemudian berkata "I love you."


Mendengar kalimat itu Cindy mengangguk pelan. Wajahnya bersemu merah. Ia sempatkan mengusap peluh sang suami yang ada di keningnya. Cindy pun tersenyum.

__ADS_1


Devon menjatuhkan diri di samping sang istri kemudian menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan selimut. Ia tidur sambil memeluk Cindy. Cindy mengenggam tangan suaminya lalu memejamkan matanya yang terasa berat.


Malam ini tidak ada gangguan sama sekali sehingga mereka sangat puas bermain.


__ADS_2