Click Your Heart

Click Your Heart
Part 117


__ADS_3

Cindy pulang ke rumah pada petang hari. Saat ia baru masuk ke dalam, Devon menyambut istrinya dengan bersidekap. "Sayang, apa kamu sengaja menghindariku?" Tanya Devon setengah mengintimidasi.


"Maaf, Mas." Tak banyak kata yang diucapkan Cindy untuk membela diri.


Raut muka Devon berubah ketika melihat istrinya itu seperti tidak bersemangat. "Apa ada masalah?" Tanya Devon.


Cindy mengulas senyum saat menatap suaminya. "Ah tidak ada, aku hanya capek," bohong Cindy.


"Baiklah, ayo aku antar sampai ke kamar." Devon merangkul bahu Cindy.


"Mama, mama kemana saja? Aku tadi cari mama," seru Cello saat menyambut kepulangan ibunya.


Cindy berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Cello. "Maafkan mama sayang, tadi mama ke toko. Cello tidak main dengan kak Ruby?" Tanya Cindy.


Cello menggeleng. "Kakak pergi sama teman-temannya," jawab Cello.


Lalu Cindy menoleh ke arah Devon. "Ruby kemana, Mas?"


Devon menggedikkan bahunya. "Entahlah, aku tadi keluar sebentar untuk menemui klien bersama Bayu."


"Apa sudah ditelepon?" Tanya Cindy kemudian.


"Handphonenya tidak aktif. Aku sudah berkali-kali menghubungi,"


Ting tong


Suara bel itu membuat Cindy dan Devon menoleh. "Mungkin itu dia?" Kata Cindy. Cindy pun membukakan pintu.


"Lho kalian berdua kok bisa bareng sama Ruby?" Tanya Devon ketika melihat kedua anak kakaknya datang bersama Ruby.


"Iya, om. Nggak sengaja ketemu di kafe tadi," jawab Julian dengan sopan.


"Masuk!" Cindy mengajak mereka masuk.


"Aku naik ke atas dulu," pamit Ruby. Devon dan Cindy saling bertukar pandang.


"Kenapa dia cemberut terus?" Tanya Cindy pada Julian.


Julian malah tertawa. "Jaden memaksanya pulang bareng. Dan di sepanjang jalan mereka terus bertengkar," jawab Julian. Cindy hanya menggelengkan kepalanya.


"Mau minum?"


"Sepertinya kita langsung pulang saja Tante," putus Jaden.

__ADS_1


"Ya sudah kalian hati-hati ya, salam buat kedua orang tua kalian," pesannya pada Jaden dan Julian.


"Baik, Tante."


"Mas, aku ke kamar Ruby dulu ya." Devon mengangguk. Lalu Cindy menyusul Ruby ke kamarnya.


Tok tok tok


"Ruby, boleh Tante masuk?" Teriak Cindy dari luar.


Ruby berjalan mendekat ke arah pintu lalu membuka engselnya. "Masuk, Tante."


"Kamu kenapa sih? Pulang-pulang kok tidak bersemangat seperti itu," tanya Cindy.


"Jaden tu Tan, ngeselin banget," adunya.


"Kalian ini selalu bertengkar kalau ketemu, jangan terlalu benci nanti malah jadi cinta lho," ledek Cindy sambil terkekeh kecil.


"Tante," rengek Cindy.


"Kenapa bukannya mereka sama-sama tampan, apa kamu tidak tertarik dengan mereka?" Tanya Cindy. Ruby menggeleng.


"Aku...aku," tiba-tiba lidah Ruby kelu saat ingin mengatakan jujur.


Cindy tersenyum. "Om sama Tante ketemu di biro jodoh yang Tante dirikan, saat itu om Devon sedang meminta bantuan Tante agar bisa mendapatkan wanita dalam waktu tiga hari untuk bisa diajak ke sebuah pesta pernikahan temannya," terang Cindy mengingat pertama kali bertemu dengan suaminya.


"Wah menarik sekali Tante, ceritakan lagi!" Ruby malah terlihat antusias.


"Waktu itu Tante sudah mengenalkan beberapa wanita padanya tapi tidak ada satupun yang cocok menurut om Devon. Lalu dia menawari Tante sebagai pasangannya."


"Tante menerima?" Sela Ruby.


Cindy menggeleng. "Awalnya Tante menolak, tapi om Devon menawarkan bayaran yang mahal, akhirnya Tante tergiur dengan penawarannya," ungkap Cindy dengan jujur.


"Sejak itu kalian jadian?" Ruby menyimak dengan baik cerita Cindy.


"Tidak, saat itu om Devon berpura-pura jatuh bangkrut untuk mendekati Tante."


"Alasannya apa?" Tanya Ruby tak mengerti.


"Dia ingin meyakinkan dirinya kalau Tante ini wanita baik-baik yang tak tergiur dengan hartanya saja. Tante tidak pernah memandang seseorang berdasarkan statusnya karena Tante sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kecil Tante sudah ditinggal orang tua Tante dan hanya diasuh oleh nenek. Bahkan Tante harus bekerja sambil kuliah agar bisa mencapai cita-cita tante. Dan om Devon yakin pada Tante setelah sebuah kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang tapi Tante berhasil menggantikannya."


Ruby berkaca-kaca mendengar cerita Cindy. "Cerita Tante seperti dalam novel saja. Aku kira Tante dan om Devon dikenalkan seseorang dulu. Dan maaf aku pernah membenci Tante karena menganggap Tante Cindy sebagai penghalang hubungan antara mama dan Om Devon. Jujur Tante, meski mama dekat dengan beberapa laki-laki tapi tidak ada yang sebaik om Devon saat itu."

__ADS_1


"Ehem, kalian lagi curhat ya?" Suara itu membuat kedua wanita yang beda generasi itu menoleh.


"Ditunggu Cello di bawah buat makan malam bareng," ucap laki-laki yang tak lain suami Cindy itu.


"Baiklah kita ke bawah. Oh ya Mas, aku dengar Tommy dan Irene akan menikah. Apa Tommy sudah mengabarimu?" Tanya Cindy sambil menuruni anak tangga.


"Oh ya? Dia belum menyampaikan kabar gembira itu."


"Benarkah?" Devon mengangguk.


...***...


Waktu yang ditunggu pasangan Tommy dan Irene akan tiba seminggu lagi. Mereka sangat sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Namun, Irene melupakan seseorang. "Ah, aku belum memberikan undangan pada Alan," gumam Irene seorang diri.


Usai pulang kerja Irene menyempatkan diri bertemu Alan. Laki-laki itu sudah pindah tempat tinggal sejak dia memiliki pekerjaan baru. Alasannya agar dekat dengan tempat kerjanya yang sekarang.


"Alan," panggil Irene saat melihat Alan akan memasuki pagar rumah kontrakannya. Alan menoleh saat mendengar suara yang dikenal.


Alan tersenyum menyambut kedatangan wanita yang dia sukai. Sudah lama mereka tidak bertemu. Itu karena Lama menjaga jarak sebab Irene kembali pada Tommy.


"Long time no see," kata Alan.


"Ya, kamu apa kabar?" Tanya Irene basa-basi.


"Seperti yang kamu lihat. Ada apa datang menemuiku?" Tanya Alan antusias.


"Aku ingin memberikan ini," Irene memberikan sebuah undangan pada Alan. Alan menerimanya dengan tangan bergetar. "Apa kamu akan menikah?" Tanya Alan dengan wajah sendu. Irene mengangguk cepat.


Alan menghembuskan nafas berat saat mengetahui kenyataan yang ia dengar. "Ren, bolehkah aku jujur sama kamu. Aku tidak ingin memendam rasa ini sendirian. Aku menyukai kamu sejak dulu tapi aku menyembunyikannya," ungkap Alan dengan jujur sambil menggenggam tangan Irene.


Irene terpaku di tempatnya. "Apa ini Lan? Kamu berusaha menggagalkan pernikahanku?" Ucap Irene dengan nada bergetar.


"Tidak, Ren. Aku bahkan tidak berharap kau membalas cintaku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa selama ini aku mencintaimu. Setidaknya kamu tahu perasaanku yang sebenarnya."


Irene masih tidak menyangka Alan bisa menyukai wanita padahal sehari-hari dia terlihat kemayu.


Irene meneteskan air mata. "Apa kamu sadar kalau ucapanmu membuat kita canggung bila bertemu lagi. Apa kamu ingin aku menjauh darimu?"


Alan menggeleng. "Aku ingin kita selalu dekat seperti dulu. Tapi itu tidak mungkin karena kamu juga akan menikah dengan laki-laki pilihanmu," ucap Alan sambil menunduk.


Irene tiba-tiba memeluk Alan. "Terima kasih Lan kamu telah mencintaiku," sesaat kemudian gadis itu mengurai pelukannya. "Tapi aku tidak bisa membalas cintamu. Cukuplah kita bersahabat saja. Aku menyayangimu Lan karena kita sudah kenal lama. Aku nggak mau hubungan kita menjadi renggang hanya karena aku tidak membalas cintamu." Alan tersenyum mendengar kata-kata Irene. Meski Irene tak membalas cintanya, tapi ia merasa lega sudah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada wanita yang ia cintai.

__ADS_1


Dari kejauhan nampak seseorang nampak memperhatikan dari kejauhan. Ia mengepalkan tangan karena tidak suka melihat kedekatan Alan dan Irene.


__ADS_2