
Hari ini Tania mengadakan syukuran di rumah barunya. Dia mengundang beberapa orang untuk datang ke acara syukurannya. Tommy, istri dan anaknya juga datang ke acara syukuran rumah baru Tania.
Hari ini Alan menunggu kabar dari Tania karena mereka sudah janji akan bertemu untuk menyerahkan uang penjualan rumah.
"Kenapa dia tidak menghubungi aku sampai jam segini?" Gumam Alan. Lalu dia mencoba menghubungi Tania lebih dulu. Namun, tidak ada respon sama sekali.
"Apa dia membatalkan perjanjian jual beli? Apa aku menawar harga terlalu murah? Tapi dia sudah setuju kemarin. Kenapa tidak ada kabar hari ini?" Alan terlihat risau karena Tania tak kunjung menghubunginya.
Sambil menunggu kabar dari Tania Alan kembali membereskan barang-barangnya. Dia mulai packing semua barang.
"Apa perlu aku bantu?" Tanya tetangga Alan yang sedang berdiri di ambang pintu saat ini.
Alat tersenyum. "Tidak usah, sini duduk dulu!"
"Kenapa kamu pindah?" Tanya temannya.
"Aku sudah dapat tempat tinggal baru. Ya, bukan rumah baru juga sih tapi aku hanya ingin memiliki tempat tinggal tetap," ungkapnya.
"Iya juga sih, nggak selamanya kan kita tinggal di tempat kost seperti ini. Kamu enak tabungan kamu sudah cukup untuk membeli rumah. Aku kerja dari tahun ke tahun tapi tabungan nggak nambah-nambah," gerutu temannya.
"Ya sabar kamu perlu bekerja keras lagi supaya bisa cepat beli rumah sendiri?"
"Alamatnya di mana? Nanti jangan lupakan aku jika kamu sudah pindah ke rumah barumu," pesan tetangga Alan padanya.
Tania masih sibuk mengurusi rumahnya yang berantakan usai mengadakan syukuran di tempat tinggalnya yang baru. Saat ia mengecek handphonenya. Ada panggilan dari Alan sebanyak dua kali yang tidak terjawab.
"Ya ampun aku sampai lupa. Aku hubungi dia atau tidak ya? Tapi besok saja lah tidak sopan kalau jam segini aku menghubungi dia. Pasti dia sudah tidur," gumam Tania.
"Kenapa Tan?" Tanya sang ibu.
"Ini Bu, aku lupa menghubungi orang yang akan membeli rumah kita"
"Kamu menjualnya berapa?" Tanya sang ibu penasaran.
"85 juta," jawab Tania.
__ADS_1
"Kenapa murah sekali?" Protesnya.
"Tidak apa-apa Bu lagi pulang kita sudah memasang iklan lama sekali tapi baru sekarang ada yang beli. Syukur-syukur rumah itu laku jadi aku lepas meskipun harganya tergolong murah."
"Apa kamu tidak akan menyesal melepas rumah peninggalan ayahmu dengar harga yang murah?"
"Sudahlah Bu, meskipun ayah sudah tidak ada tapi kenangan dengannya semasa hidup masih kita simpan di memori otak kita, jadi tidak usah merepotkan masalah rumah lagi. Toh kita sekarang sudah bisa membeli rumah yang sebagus ini. Apalagi yang kurang untuk disyukuri?" Tania memeluk ibunya agar lebih tenang.
"Kamu benar."
"Setelah ini kamu hanya perlu mencari pendamping hidup, Nak," batin sang ibu yang tidak mau melukai perasaan anaknya.
Tania adalah seorang janda tanpa anak karena setelah 5 tahun menikah dengan suaminya mereka tidak kunjung dikaruniai anak. Ibu mertua Tania meminta anaknya menikah lagi dengan wanita lain. Tentu saja Tania tidak terima jika dia dimadu. Lalu Tania memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. Yang dia sesali adalah suaminya sama sekali tidak mempertahankan dirinya. Justru mantan suaminya itu mendukung keputusannya bercerai.
Sejak setahun yang lalu Tania menjadi janda. Luka yang dia simpan di hatinya belum sembuh meski kejadian itu telah lama terjadi. Tidak ada keinginan untuk mencari pendamping hidup. Saat ini hanya ingin fokus untuk mengejar karir dan kesuksesan.
Keesokan harinya sebelum dia berangkat bekerja, Tania mengirim pesan singkat kepada Alan.
Maaf kemarin saya lupa. Apakah anda bersedia bertemu saya hari ini? Jika anda tidak keberatan temui sayang di cafe xxx pada jam lima sore, setelah saya pulang kerja. (Tania)
"Semoga ini awal yang baik," harap Alan sambil membayangkan wajah Tania yang cantik.
Sejak pertama kali bertemu di minimarket Alan terus memikirkan dunia bahkan bayangan Irene hampir tidak ada lagi.
Alan selalu ingin dekat dengan Tania dia juga penasaran dan ingin mencari tahu soal kehidupan Tania.
Setelah menutup toko Alan mengendarai sepeda motornya menuju ke tempat ditentukan oleh Tania. Rupanya Tania datang 10 menit lebih awal dari Alan.
"Apakah kamu sudah menunggu lama?" Tanya Alan yang baru sampai.
Tania tersenyum. "Maaf, kemarin saya lupa mengabari anda."
"Oh ya ketika saya ingin mengambil sejumlah uang tersebut, pihak bank menyarankan kepada saya untuk langsung mentransfer melalui mobile banking. Apakah anda keberatan?" Tanya Alan pada wanita yang masih memakai setelan kerja itu.
"Saya rasa itu lebih baik, saya juga berpikir demikian tapi entahlah kemarin saya tidak fokus jadi saya lupa memberitahu anda soal pembayaran melalui m-banking."
__ADS_1
"Baiklah akan saya transfer uang ke rekening anda. Bisakah anda menunjukkan berapa nomor rekening anda?" Pinta Alan.
Tania mengeluarkan handphone dan menunjukkan nomor rekeningnya. Alan memulai memproses pembayaran melalui mobile banking.
"Coba cek apakah sudah masuk?" Tania mengangguk menjawab pertanyaan Alan.
Lalu Tania menyerahkan sertifikat rumah kepada Alan. "Kalau anda perlu bantuan untuk mengubah nama pemilik rumah yang baru, anda bisa hubungi saya," Tania menawarkan bantuan.
"Apakah ada seorang notaris?" Tanya Alan yang penasaran dengan pekerjaan yang digeluti oleh wanita yang dia taksir.
"Bukan, saya seorang sekretaris tapi saya kenal seorang notaris yang bisa mengurus surat-surat semacam itu dengan cepat."
"Baiklah kalau begitu sekalian saja tolong katakan padanya saya ingin mengubah nama pemilik rumah ini menjadi nama saya."
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan. Selebihnya akan diurus oleh pegawai notaris tersebut. Anda bisa kontak beliau secara langsung," jawab Tania.
Tania memang wanita yang kompeten. Ketika dia berbicara dengan orang lain dia selalu bersikap seolah berbicara dengan klien jadi dia terlihat berkarisma di mata orang lain. Alan ikut terpesona dengan kepiawaian dunia adalah berbicara.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan saya akan pulang ke rumah." Kata Tania mengakhiri pertemuan mereka.
"Apakah lain kali kita bisa bertemu?" Tanya Alan.
"Dalam hal apa ya?" Tanya Tania yang tidak mengerti dengan maksud Alan.
"Oh ya barangkali ada ingin mampir ke tempat kerja saya. Saya bekerja di sebuah toko roti yang lumayan terkenal. Barangkali anda ingin membeli roti di sana. Nanti akan saya kasih bonus."
"Oh ya di mana ada bekerja?"
"Saya bekerja di Cindy bakery sebagai kepala toko."
"Oh jadi ada anak buahnya Bu Cindy, istrinya pak Devon ya?"
Alan mengangguk. "Apakah anda mengenalnya?"
"Tentu saja karena atasan saya juga bekerja sama dengan Pak Devon."
__ADS_1
"Wah, Apakah ini tandanya..." Alan tak mau meneruskan kalimatnya. Dia takut Tania tersinggung.