Click Your Heart

Click Your Heart
Part 113


__ADS_3

Cindy mengajak Cello masuk. Ia membuatkan susu lalu memberikannya pada Cello. Kini anak itu mulai tenang.


Saat akan memasuki mobil di bagian kursi kendali, Cindy melihat Lisa yang berjalan ke arah mobilnya. Dengan cepat ia menyusul Lisa.


Plak


Cindy menampar pipi kanan wanita itu. "Kamu pantas mendapatkannya," ucap Cindy dengan dada naik turun.


Lisa memegangi pipinya yang terasa perih. Namun, ia menarik ujung bibirnya tersenyum sinis. "Kenapa kamu tidak suka aku bermesraan dengan suamimu hah?" Tantang Lisa.


"Kamu tidak capek mengejar suamiku?" Sindir Cindy.


"Aku? Aku suka mengejar suamimu karena yang akan kudapat sebanding dengan usahaku," jawab Lisa dengan santai.


"Kamu itu dasar tidak tahu malu," cibir Cindy.


"Hei, tahu apa kamu tentang malu? Malu tidak membuat perutmu kenyang."


"Jadi kamu mengakui kalau kamu hanya mengincar harta suamiku saja?" Tanya Cindy.


Lisa tak menjawab, dia memilih masuk ke dalam mobilnya. Lalu melajukan mobil melewati Cindy begitu saja. Cindy terlihat kesal.


"Baik, kamu lihat saja siapa yang akan dipilih oleh suamiku," gumam Cindy.


Sesaat kemudian ia ingat meninggalkan anaknya di mobil. Rupanya Cello sudah tertidur lebih dulu.


Cindy pun menyalakan mesin mobilnya, berjalan pulang ke rumah.


Sementara itu Devon tidak bisa fokus karena ia terus memikirkan Cindy. "Arrgh..." teriaknya tanpa alasan.


"Maaf," Devon menyadari kalau ia membuat dirinya malu di depan kliennya.


Bayu menyadari kalau atasannya itu sedang memikirkan sesuatu.


Usai meeting selesai Devon menuju ke perusahaan yang sementara diambil alih olehnya karena owner-nya meninggal dunia.


"Hah, kau tahu Bayu, mengurus banyak perusahaan membuatku lelah," ucap Devon ketika berada di dalam mobil.


"Saya tahu, Pak."

__ADS_1


"Aku jadi ingin mengusulkan pada Ruby untuk menjual sahamnya pada orang lain, tapi aku tidak tega itu artinya ia akan kehilangan semua warisan keluarganya."


"Anda sudah berbuat benar, Pak. Bersabarlah sampai nona Ruby bisa memimpin perusahaannya sendiri. Lagipula anda seharusnya tidak perlu banyak menangani sendiri pak. Percayakan pada anak buah Kuta untuk mengurusnya." Bayu memberi saran.


"Ya kau benar tapi aku juga tida mau lalai lalu kecolongan sedikitpun Bayu. Kau ingat dulu aku hampir saja bangkrut kalau bukan abangku yang menolong."


"Pak kita sudah sampai," kata Bayu ketika berada di sebuah hotel bintang lima yang akan menjadi milik Ruby kelak.


...***...


Cindy tiba di rumah. Ia menggendong putranya dengan hati-hati. "Mbak Nana tolong temani Cello ya," perintah Cindy pada pengasuh Cello.


"Ibu mau pergi lagi?" Tanya Nana.


"Iya, saya ingin membeli sesuatu," kata Cindy.


Lalu ia pergi ke sebuah butik dan memberi beberapa lingerie. "Apa aku harus menggodamu dengan ini sehingga kau mau bertekuk lutut padaku Mas?" Gumam Cindy seraya memegang lingerie berwarna merah.


Pada malam harinya, Cindy sengaja tak menunggu kepulangan suaminya. Devon pulang seperti biasa hampir larut malam ia sampai di rumah. Lalu laki-laki itu langsung masuk ke dalam kamar.


Ia melihat lampu di kamarnya mati. "Tumben Cindy mematikan lampu," gumamnya.


Lalu saat dinyalakan Cindy tidur meringkuk di bawah selimut. Devon mendekat ke arahnya. Ia duduk perlahan di samping Cindy lalu memperhatikan wajah cantik istrinya itu.


Cup


Sebuah kecupan berhasil mendarat sekilas di pipi Cindy. Devon tak mau mengganggu tidur istrinya. Namun, tiba-tiba tangannya ditarik hingga badannya jatuh menimpa Cindy.


Cindy tersenyum saat Devon berada di atas tubuhnya. Ia menyibak selimut yang sedang menutupi tubuhnya. Mata Devon melebar ketika tahu sang istri memakai lingerie.


Cindy memberi kecupan singkat di bibir Devon. Devon terkejut dengan perubahan sikap Cindy. "Apa kamu tidak marah?" Tanya Devon sambil menatap manik mata istrinya yang cantik itu.


"Marah, tentu saja aku marah. Kamu berkali-kali menyakiti hatiku dengan alasan yang sama," jawab Cindy sambil mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


Devon melirik ke bawah. Ia melihat bagian dada istrinya yang menyembul. Devon merasakan badannya memanas.


"Bagaimana kalau kau hukum aku sayang?" Tawar Devon.


Cindy membalik tubuh suaminya. Kini ia berada di atas. "Aku memang akan menghukummu," jawab Cindy sambil berbisik ke telinga Devon.

__ADS_1


Devon sudah tidak tahan lagi. Ia segera merapatkan tubuh sang istri lalu diciumi bagian lehernya. Tangannya sudah membuka lingerie yang istrinya pakai.


Lalu ia lanjutkan dengan mencium bagian dadanya yang indah itu. Devon sangat menyukainya. Bahkan sebenarnya dia tidak rela saat dulu harus berbagi dengan Cello.


Kini ia akan menikmati miliknya itu sepuasnya. Cindy juga sengaja bermain sedikit nakal. Ia meraba ke seluruh tubuh Devon lalu menyentuh milik suaminya itu.


"Ahh sayang, kau sungguh memancingku kali ini." Dia merasakan nikmat yang tertahan.


Cindy benar-benar liar malam ini. Ia sengaja menggoda sang suami agar tidak berpaling darinya. Cindy pikir inilah cara ampuh agar suaminya tidak melirik wanita lain.


"Aku akan menghukummu karena kau membuatku cemburu," kata Cindy dengan nada menggoda di telinga Devon.


"Aku sangat menyukai hukumanmu sayang. Aku rela kau hukum aku seperti ini tiap hari," katanya sambil tersenyum penuh arti.


Kegiatan itu berlangsung lama hingga menjelang pagi. Devon melihat istrinya kelelahan. Ia menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Cindy.


"Kau sungguh liar malam ini," ucap Devon sambil mengingat kejadian semalam.


Setelah itu Devon membersihkan diri. Tak lama kemudian Cindy bangun. Namun, ia tak mendapati sang suami yang berada di sampingnya.


Cindy beranjak dari tempat tidur memunguti pakaian yang tersebar ke mana-mana. Lalu ia mendengar suara berisik di kamar mandi. Tak lama kemudian air keran terdengar mati.


Ceklek


Devon membuka pintu. Cindy terkejut tiba-tiba suaminya ada di depannya sambil bertelanjaang dada.


"Mau ngintip?" Sindir Devon sambil tersenyum mengejek.


"Ya nggaklah Mas. Aku mencarimu lalu kudengar suara berisik di kamar mandi jadi aku mendekat."


Cup


"Aku mau berangkat pagi, nanti aku akan lembur lagi," kata Devon.


Cindy tak suka mendengarnya tapi mau bagaimana lagi. Ia tak menjawab sang suami. Cindy masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia harus menyiapkan kebutuhan anak-anak. Ya, ada Ruby yang kini menjadi anak angkat mereka.


Devon sudah rapi ketika Cindy baru keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono.


"Mas, jangan lupa sarapan. Apa kamu tidak terlalu memforsir tubuhmu untuk bekerja? Biarkan semua anak buahmu yang mengerjakan."

__ADS_1


Devon melihat kekhawatiran di mata Cindy. Ia mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Sayang, percayalah padaku yang kulakukan ini semua untuk kalian, orang-orang yang aku cintai. Lupakan kejadian kemaren. Aku sungguh tindak memiliki hubungan dengan Lisa. Di datang ke kantor dengan alasan yang tidak jelas. Dia hanya menggodaku tapi aku tidak akan tergoda olehnya karena aku tahu dia hanya mengincar hartaku," kata Devon panjang lebar.


"Aku janji sebelum makan malam aku akan pulang."


__ADS_2