
Cello masih menghadap orang tuanya. "Lalu apakah Cello harus diam saja melihat teman Cello yang mengalami kesulitan?" Tanya Cello pada orang tuanya. Dia melihat Devon dan Cindy bergantian.
Cello memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain sehingga melihat temannya mengalami kesulitan dia tidak bisa tinggal diam.
"Bukan begitu sayang, kami tahu kamu tulus membantu mereka tapi ada segelintir orang yang memang sengaja memanfaatkan kebaikan kita." Cindy memberikan Cello pengertian.
"Tapi Anwar dan ibunya bukan orang seperti itu Ma," bantah Cello karena tidak terima temannya dituduh memanfaatkan kebaikan dirinya.
Devon berdiri lalu menepuk bahu putranya. "Papa ingin Cello menjadi anak yang suka menolong orang lain tapi alangkah baiknya kalau kita tidak ikut campur urusan orang lain. Cukup sampai di sini saja kamu membantu keluarga Anwar. Papa yakin mereka tidak akan ada habisnya meminta uang darimu."
Cello ngambek dan kembali ke kamarnya. Dia tersinggung saat orang tuanya meragukan kebaikannya pada keluarga Anwar.
Devon menggelengkan kepalanya. "Aku akan meminta bank untuk memblokir ATM Cello sementara, Ma. Besok kasih saja dia uang cash seperlunya." Cindy mengangguk setuju dengan keputusan suaminya. Cindy juga khawatir Cello akan diperas oleh orang lain.
*
*
*
Sementara itu, Anwar kembali ke rumahnya. "Anwar," panggil sang ibu. Dia menitikkan air mata melihat anaknya kembali dengan selamat.
"Kamu baik-baik saja nak?" Tanya Murni pada putranya. Anwar mengangguk lemas.
"Ayo kita makan pasti kamu belum makan." Murni mengajak anaknya masuk ke dalam.
Usai makan Murni mengajak Anwar berbicara. "Apa kamu diperlakukan dengan baik oleh ayahmu? Apa dia menyiksamu?" Cecar Murni dengan mata berkaca-kaca tak tega melihat anaknya yang tampak kurus.
Anwar menangis mengingat ketika dirinya berada di rumah ayahnya. "Dia tidak menyiksaku tapi dia tidak memberiku makan."
"Keterlaluan! Padahal sudah ku beri uang," geram Murni.
"Darimana ibu mendapatkan uang sebanyak itu? Apa ibu berhutang ke bank?" Tanya Anwar. Setahunya gaji yang didapat dari upah mencuci baju tak seberapa, bagaimana bisa mendapatkan uang dalam waktu sehari, pikir Anwar.
"Tidak, temanmu yang pernah datang ke sini memberikan uang itu untuk ibu agar kamu bisa dibebaskan oleh ayahmu." Murni berkata dengan jujur.
Anwar membulatkan matanya. "Apa?" Anwar terkejut mendengar pengakuan ibunya. "Kenapa ibu menerima uangnya? Bagaimana cara kita membayar hutang pada Cello." Anwar merasa tidak enak karena merepotkan Cello padahal dia tulus berteman dengan anak itu.
"Lalu ibu harus bagaimana? Ibu hanya memikirkan keselamatanmu. Lagipula kita bisa membayarnya dengan cara mencicil."
__ADS_1
"Apa gaji ibu sebagai buruh cuci cukup untuk membayar hutang pada Cello sedangkan untuk membeli keperluan kita sehari-hari saja kita masih kekurangan."
Murni memeluk anaknya. "Bantu doa ya supaya ibu bisa mengembalikan uang yang dipinjamkan temanmu pada ibu." Anwar memejamkan matanya.
"Aku tidak bisa tinggal diam, mulai besok aku harus bekerja agar ibu bisa melunasi hutangnya pada Cello," batin Anwar dalam hati.
Keesokan harinya Anwar kembali ke sekolahnya. "Anwar," teriak Cello memanggil temannya.
Anwar merasa tidak enak. Tapi menghindar juga akan membuat Cello salah paham dengannya. "Apa kamu baik-baik saja? Aku khawatir padamu."
"Iya, baik. Terima kasih," ucapnya sambil menunduk.
Cello mengulas senyum ia tahu maksud Anwar. "Iya sama-sama bukankah teman harus saling membantu?"
Cello merangkul bahu Anwar dan mengajaknya ke kelas. Tapi tak lama kemudian seorang siswa memanggil Anwar agar menghadap wali kelasnya di ruang guru.
"Kamu temui saja pak guru, jelaskan pada mereka dengan jujur agar mereka bisa memaklumi sehingga kamu tidak mendapatkan sanksi." Anwar mengangguk mendengar nasehat Cello.
Sementara Anwar menemui wali kelasnya di ruang guru, Cello masuk dan duduk di bangkunya. Tiba-tiba Mita memberikan kue untuk Cello.
"Aku beli kue kelebihan, ini untuk kamu saja," ucapnya dengan nada datar.
Cello bingung dengan sikap Mita tapi dia tetap menerima pemberian Mita agar Mita tidak tersinggung. "Terima kasih."
Sementara itu di ruang guru.
"Anwar kenapa kamu tidak masuk dua hari tapi tidak izin pada bapak?" Tanya wali kelasnya.
"Saya menunggui ibu saya yang sakit pak," jawab Anwar berbohong.
"Kamu tidak bohong kan?" Tanya wali kelasnya memastikan. Anwar menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Sudah baikan," jawabnya kembali berbohong.
"Baiklah bapak maklumi tapi bapak tetap memberikan kamu sanksi karena kamu bolos dua hari. Kamu diskors dua hari. Besok dan lusa kamu belajar sendiri di rumah."
"Terima kasih, Pak."
__ADS_1
Wali kelas Anwar jadi bingung kenapa dia malah berterima kasih di saat diberikan hukuman. "Ya sudah sana kembali ke kelas."
"Aku akan menggunakan dua hari besok untuk bekerja," gumam Anwar dengan lirih setelah keluar dari ruang guru.
Anwar kembali ke tempat duduknya di samping Cello. "Bagiamana?" Tanya Cello pada Anwar sambil berbisik karena mereka sedang diajar oleh guru mata pelajaran.
"Aku diskors dua hari."
"Kamu yang sabar ya," Cello berniat menghibur temannya.
Lalu usai pulang sekolah Cello mengajak Anwar pulang bareng tapi dia tidak mau. "Maaf siang ini aku mau betulin sepedaku yang rantainya bermasalah." Anwar beralasan agar Cello tidak mengikutinya.
"Baiklah, kamu hati-hati ya aku pulang duluan," pamit Cello sambil melambaikan tangan dibalas Anwar.
Setelah itu Anwar berkeliling mungkin saja ada yang membuka lowongan pekerjaan untuknya. Ada sebuah banner yang berisikan informasi lowongan pekerjaan di tempat cuci motor. Anwar pun mencoba melamar pekerjaan di sana. Meski belum cukup umur, dia berharap pemilik cucian motor tersebut mau menerimanya.
"Permisi, Mas. Apa betul di sini ada lowongan pekerjaan?" Tanya Anwar pada salah seorang pegawai yang sedang mencuci motor.
"Masuk aja ke dalam tanya langsung sama pemiliknya."
Anwar pun memberanikan diri untuk menemui pemiliknya. "Kamu siapa?" Tanya seorang laki-laki yang tinggi besar.
"Saya Anwar saya mau melamar kerja di sini."
Laki-laki yang diduga pemilik cucian motor dan mobil itu memindai tubuh Anwar dari kaki sampai kepala.
"Kamu ini masih SMP kan mana mungkin kerja di sini."
"Saya mohon pak saya butuh pekerjaan ini. Saya janji akan bekerja dengan rajin."
"Baiklah kamu boleh kerja di sini sepulang sekolah."
"Terima kasih banyak pak. Saya bisa mulai kerja hari ini juga pak."
"Tidak usah kerja saja mulai besok."
"Baik pak saya janji saya akan rajin bekerja mulai besok."
Setelah itu Anwar pulang. "Anwar dari mana saja kamu?" Tanya ibunya.
__ADS_1
"Ada ekstrakurikuler Bu,"
"Ya Allah hari ini aku banyak berbohong semoga engkau ampuni segala dosa-dosaku," batin Anwar.