
Tommy semakin hari semakin memikirkan Irene. Sejak pertemuannya di acara pernikahan Cindy dan Devon, hati Tommy seolah berbelok ke Irene yang tampak cantik tanpa menggunakan kacamata.
Bug
Tommy yang tidak fokus berjalan, tak sengaja menabrak Irene yang sedang lewat. Irene terjatuh. Tommy terkejut ketika melihat gadis yang sedang ia pikirkan itu berada di hadapannya.
Ia berjongkok dan membantu Irene bangun. "Maaf," Tommy mengulurkan tangannya.
Irene yang merasa sungkan tidak menerima uluran tangan dari Tommy. Ia bangun sendiri sambil merapikan bajunya yang berantakan. "Tidak apa-apa, Pak," jawab Irene sambil menunduk lalu ia meninggalkan Tommy begitu saja.
Tommy melihat handphone Irene terjatuh. Ia hendak memanggil tapi ia berpikir ulang. "Ini kesempatan gue buat ketemu sama dia lain kali," gumam Tommy dengan lirih.
Ia pun memasukkan handphone Irene ke dalam sakunya lalu ia masuk ke dalam lift menuju ke ruangan Devon.
Ting
Lift berhenti di lantai lima tempat ruangan Devon berada. "Selamat pagi," sapa Tommy dengan sopan. Sejak Devon menikah dengan Cindy, Tommy seolah hanya partner bisnis bagi Devon. Bicaranya pun irit pada laki-laki yang kini menjadi suami Cindy.
"Tom, aku mengundangmu dinner di rumahku nanti malam," seru Devon sebelum Tommy keluar dari ruangannya.
"Ada acara apa?" Tanya Tommy. Tidak biasanya Devon mengundang makan malam.
"Syukuran anakku yang pertama, oh iya ajak juga ibumu, Cindy mengundangnya," jawab Devon.
"Baiklah, akan aku sampaikan ke mamaku," balas Tommy.
Lalu acara perayaan ulang tahun Cello yang pertama pun berlangsung di kediaman Devon. Awalnya Cindy dan Devon hanya ingin membuat syukuran tapi tamu yang diundang terlalu banyak hingga ia menyulap halaman belakang menjadi tempat yang didekor sedemikian rupa, penuh balon tapi yang diundang tak ada satupun anak-anak melainkan para orang tua.
Devon dan Cindy mengundang keluarga Darren, Siska dan Ruby, sahabat Cindy, Alan dan Irene, keluarga Tommy yang menurut Cindy sangat berjasa untuknya serta tak ketinggalan Bayu dan tunangannya.
Cindy yang kini mengenakan dress sepanjang mata kaki terlihat anggun saat menyambut kedatangan tamu-tamunya. Setiap orang yang datang membawakan kado untuk Cello.
Setelah acara tiup lilin Devon dan Cindy mempersilakan tamu-tamunya untuk menikmati hidangan yang tersedia. Tantu saja tidak hanya sekedar kue tapi juga banyak masakan yang menggugah selera yang mereka sajikan.
"Hai Ruby, kau juga diundang pamanku?" Tanya Jaden.
"Tentu saja, tante Cindy tak kan melewatkan aku, karena aku pernah tinggal di rumahnya," jawab Ruby sedikit angkuh.
__ADS_1
Lalu ia bersikap acuh dengan membalas pesan chat dari temannya. Julian tiba-tiba menyambar ponsel Ruby.
"Kembalikan!" Pinta Ruby.
Tapi ketika Ruby akan meraihnya Julian semakin meninggikannya. "Akan ku kembalikan," kata Julian ketika melihat Ruby mulai lelah merebut ponselnya.
Julian mengetik sesuatu di ponsel Ruby. "Aku sudah menyimpan nomor handphone ku di ponselmu," kata Julian.
"Sini aku juga mau berbagi nomor telepon," Jaden menengadahkan tangannya tapi Ruby malah memukul tangan Jaden lalu melenggang pergi.
"Dasar cewek sombong," umpat Jaden.
Di tempat lain, Bayu sedang membicarakan kelanjutan bisnis dengan Darren. Kebetulan pembicaraan mereka belum selesai ketika bertemu di kantornya tadi.
Keduanya pun meninggalkan pasangan mereka masing-masing. "Suamiku memang tidak tahu tempat kalau sudah menyangkut bisnis," gerutu Celine pada Cindy.
Cindy terkekeh mendengarnya. "Biarkan saja kita nikmati makanannya, bagaimana masakanku apa bisa direkomendasikan di restoranmu kak?" Gurau Cindy. Keduanya memang memiliki hoby yang sama.
Sejak lama Celine memiliki usaha ayam geprek yang memiliki cabang restoran di mana-mana. Sedangkan Cindy badu-baru ini merintis usaha perkuean. Meski sudah menjadi istri Devon, Cindy tetap menjalankan usahanya tapi hanya sebagai pemantau. Ia menyerahkan semua urusan lapangan pada anak buahnya. Devon bahkan mendirikan sebuah toko kue dengan merk 'Cindy Bakery' di pusat pertokoan mewah di kotanya. Bukan karena gila uang melainkan usaha mewujudkan keinginan istrinya.
Di acara itu hanya Lisa yang terlihat sendirian. "Lisa, kamu datang ke sini juga?" Tanya Maya ketika mendekat
"Datang sama..." Lisa memotong omongan Maya.
"Tante, saya ambilkan minum ya untuk tante," sela Lisa. Wanita itu lalu mengambil minuman untuk Maya.
"Jadi sedekat apa kamu dengan Tommy?" Tanya Maya pada Lisa.
Lisa mengulas senyum licik. "Kami hanya teman biasa Tante," jawab Lisa pura-pura merendah padahal memang itu kenyataanya.
Maya berharap di antara Lisa dan Tommy memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Ia tidak tahu kalau wanita itu baru sekali bertemu dengan putranya agar Tommy tidak memikirkan Cindy lagi yang kini telah berstatus istri sah Devon. Tapi Lisa mengaku kalau mereka kenal sudah lama.
Di tempat lain Tommy sedang mengawasi Irene yang makan di pojokan bareng Alan. "Gue minder datang ke acara beginian, mana kado kita buat Cello cuma mainan murahan lagi," gumam Irene pada Alan yang sedang sibuk menyantap makanannya. Alan tidak menjawab membuat Irene kesal.
"Lan, Alan, elo denger nggak sih gue ngomong?" Irene memukul bahu Alan.
"Hai, boleh aku gabung di sini?" Suara itu membuat Irene menoleh.
__ADS_1
"Silakan pak, saya permisi ke toilet sebentar," pamit Alan lalu ia bangun dari tempat duduknya.
Tommy menggantikan tempat duduk Alan. Ia duduk di samping Irene. Irene nampak gugup berada di samping Tommy. "Kamu kenapa diam saja?" Tanya Tommy pada wanita yang masih melajang itu.
"Saya tidak tahu harus bicara apa pada anda, Pak," ungkapnya.
"Bagaimana kalau kita bertukar nomor ponsel? Mungkin suatu hari aku membutuhkan bantuanmu," kata Tommy.
"Maaf pak bukannya saya tidak mau tapi saya kehilangan ponsel saya," terang Irene.
"Apa seperti ini ponselmu?" Tanya Tommy dengan mengeluarkan ponsel Irene dari dalam sakunya.
"Benar, itu seperti milik saya," kata Irene.
"Kamu menjatuhkannya saat bertabrakan denganku tadi pagi," ungkap Tommy.
"Syukurlah, saya kira hilang, terima kasih pak sudah mengembalikan ponsel saya," Irene memeluk ponselnya.
Sikapnya itu berlebihan tapi tidak di mata Tommy. Irene terlihat menggemaskan. Tommy mengulas senyum tipisnya.
"Tommy mana ya?" Maya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan putranya. Lalu ia menemukan Tommy sedang duduk di pojokan bersama seorang gadis berkacamata.
Maya mengerutkan keningnya. "Jadi siapa sebenarnya yang sedang ditaksir oleh anak itu? Kenapa setiap wanita yang masih lajang dia dekati," gerutu Maya.
Maya berjalan mendekat. "Tom, kita pulang sekarang!" Ajak Maya.
"Ren, aku pulang dulu," pamit Tommy pada Irene. Irene hanya tersenyum menanggapinya. Maya menangkap tatapan tak biasa Tommy pada Irene.
Usai acara tersebut Cindy dan Devin nampak lelah. Begitu juga dengan Cello. Dia digilir oleh banyak orang sehingga dia tertidur pulas setelah acara.
"Sayang, apa Cello sudah tidur?" Tanya Devon yang berada di ambang pintu kamar anaknya.
"Sudah baru saja," jawab Cindy.
Kemudian laki-laki itu pun masuk. Ia menarik pinggang istrinya itu ke dalam pelukannya. "Aku menginginkanmu?" Goda Devon.
"Pindah kamar saja, jangan mengganggu Cello!" Jawab Cindy.
__ADS_1
Mereka pun berpindah ke kamar utama. Devon mengunci kamar mereka. Ia mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Cindy membalasnya dan percintaan mereka pun dimulai.