Click Your Heart

Click Your Heart
Part 110


__ADS_3

...Jangan hanya diam dan mengamati ...


...jika aku sedang tersakiti,...


...buktikan kalau kamu peduli,...


...Selama ini aku tidak pernah mendapat dukungan penuh darimu,...


...aku bertahan sendirian,...


...Seandainya aku ini pohon mungkin aku akan mudah roboh....


...♥️♥️♥️...


Cello tiba di rumahnya. Ia langsung mencari sang ibu. "Papa, dimana mamaku?" Tanya Cello.


" Mama sedang tidur nak."


"Cello pengen intip mama sebentar boleh ya?" Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.


Devon mengulas senyum. Ia tak tega melihat anaknya memohon seperti itu. "Mau papa gendong?" Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya. Cello melompat.


"Jom," Cello menirukan kata-kata yang sering dipakai di serial televisi anak-anak.


Mereka membuka pintu kamar Cindy dengan pelan. Cello mendekat ke arah mamanya. Ia langsung memeluk mamanya posesif.


"Cello biarkan mama tidur," kata Devon.


"Mama pengen tidur dipeluk sama Cello," kata anak kecil itu. Devon menahan tawa mendengar kata-kata ajaib anaknya.


"Kalau gitu kita tidur sama-sama di sini oke?" Devon meminta pendapat.


"Sini, Pa." Cello menepuk bagian kasur yang kosong.


Cindy merasakan ada yang memeluknya. Ia tahu itu tangan anaknya karena terasa mungil. Cindy seolah lupa akan rasa kecewa dan kesal yang sempat ia rasakan setelah mendapat pelukan hangat dari anaknya.


"Kamu memang pengobat segala keluh kesah ku, nak," batin Cindy.


Semarah apapun orang tua jika mereka sudah bertemu dengan anaknya maka kemarahan itu akan menguap seketika.


Keesokan harinya Cindy bangun lebih dulu. Ia sengaja bangun dan menyiapkan keperluan suami dan anaknya.


"Mas, bangun." Perlahan ia membangunkan suaminya.


"Sayang, kamu sudah tidak marah lagi?" Tanya Devon. Cindy tersenyum.


"Tidak, Mas. Tapi jangan buat aku marah dan sakit hati lagi."


Devon tersenyum lebar lalu memeluk istrinya. "Terima kasih sayang."

__ADS_1


"Cello mau dipeluk juga," rengek Cello yang baru terbangun.


Devon dan Cindy saling bertukar pandang lalu tergelak. Kemudian mereka berpelukan.


"Sudah, sudah waktunya mandi lalu sarapan."


"Come on boy kita mandi bareng," ajak Devon pada putranya.


"Main bisa kaya dulu itu ya, Pa?" Tanya Cello antusias.


"Jangan lama-lama ya nanti telat sekolahnya," kata Cindy memperingatkan.


Usai mandi keduanya turun lalu menuju ke meja makan. "Ma, aku mau diantar sama papa ke sekolah," kata Cello sambil makan. Cindy sedang menyuapinya.


"Yuk, Cello berangkat sekarang!" Ajak Devon.


Setelah berpamitan pada Cindy mereka berangkat bersama. Cindy sangat bahagia karena baru kali ini Devon bisa mengantarkan anaknya ke sekolah.


"Tuhan, semoga keluarga kami selalu diliputi kebahagiaan," harapan Cindy.


...***...


Alma tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Ia bahkan sering melamun karena masih memikirkan kesalahan yang ia perbuat.


"Dok, ada masalah apa? Kenapa sering melamun?" Tanya perawat yang sedang berjalan bersama.


"Ah, tidak sepertinya saya perlu cuti. Saya terlalu sibuk akhir-akhir ini," kilah Alma.


"Ginjalnya semakin membengkak dok." Alma menoleh. Tak lama kemudian Siska terlihat kejang. Alma dan perawat itu melakukan sesuatu yang mereka bisa.


Dari luar ruangan Ruby baru saja kembali membeli makanan. Ia menjatuhkan makanan yang ia pegang ketika melihat ibunya dalam keadaan sekarat.


"Mama," teriak Ruby sambil berjalan mendekat ke arah Siska.


"Kita perlu tindakan operasi," kata Alma pada Ruby.


"Lakukan apa yang terbaik untuk mama saya. Kami tidak punya keluarga lagi jadi dokter tidak perlu meminta pendapat dari orang lain selain saya," kata Ruby di sela tangisannya.


...***...


Devon sedang berada di kantor Tommy. Mereka sedang membicarakan masalah bisnis.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang tertulis di ponselnya. Ia segera mengangkat ketika Ruby menelepon.


"Ada apa sayang?"


"Sayang, apa itu telepon dari Cindy?" Tanya Tommy dalam hati.


"Baiklah, aku ke sana sekarang." Devon terlihat buru-buru. Ia keluar tanpa berpamitan dengan Tommy. Tommy sampai mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Devon.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu dengan istrinya? Ah kenapa aku ikut khawatir," gumam Tommy.


Saat itu kebetulan Bayu tidak ikut meeting bersama Devon. Dia jadi leluasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai ke rumah sakit.


Ruby mengabarkan kalau ibunya dalam keadaan kritis sekarang. Devon peduli pada Ruby jadi dia datang untuk memberikan dukungan padanya. Selain itu karena dia merasa kasihan Ruby yang tidak memiliki saudara yang bisa diandalkan olehnya.


"Ruby bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Devon yang baru sampai.


"Sedang dioperasi, Om," jawab Ruby. Matanya sudah sembab karena menangisi ibunya.


Devon membawa Ruby ke dalam pelukannya.Tanpa mereka sadari Alma memperhatikan interaksi keduanya.


"Sebenarnya apa sih hubungan antara Tuhan dengan Siska dan anaknya?" Alma bertanya-tanya dalam hati.


Devon melihat anak baru keluar dari ruang operasi. Lalu Devan mengurai pelukannya. "Bagaimana keadaan Siska?" tanya Devon pada wanita yang beberapa waktu lalu mengungkapkan perasaan padanya. Devon percaya dengan lugas sekolah ia tak pernah memiliki masalah dengan Alma.


"Operasinya berjalan lancar tapi kondisi pasien menurun jadi kita tunggu beberapa saat jika dia bisa melewati masa kritis kemungkinan dia akan sembuh tapi jika dia tidak bisa melewati masa kritis kemungkinan dia akan kehilangan nyawanya," terang Alma.


Ruby tahu apa yang dimaksud Alma, secara singkat ibunya diambang kematian. Ruby hampir saja limbung jika Devon tidak segera menangkap tubuhnya.


Alma merasakan sedikit sesak meski wanita yang dipeluk oleh Devon adalah gadis belia yang jauh sekali umurnya.


Devon membawa Ruby ke tempat duduk. "Perbanyaklah berdoa untuk kesembuhan ibumu Ruby," kata Devon dengan lembut.


"Om, bagaimana jika sesuatu buruk terjadi padanya aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini om." Ruby menangis sesenggukan di hadapan Devon.


...***...


Di tempat lain Cindy menyiapkan makanan untuk suaminya. Devon bilang akan pulang cepat hari ini. Usai menidurkan anaknya Cindy menyempatkan waktu untuk membuat camilan khusus untuk suaminya.


"Mas Devon pasti senang aku membuatkan kue ini untuknya."


"Bu, sebaiknya anda beristirahat saja, biar saya yang lanjutkan sisanya," kata Mbok Nah.


Mbok Nah memang orang yang sangat baik. Meski belum lama bekerja di rumah Cindy tapi ia sudah menganggap Mbok Nah seperti ibunya sendiri.


Cindy menunggu di meja makan. Namun, yang ditunggu tak juga datang. "Katanya mau pulang cepat hari ini," gumamnya kesal.


Cindy masih gelisah. Diambilnya handphone lalu ia mencoba menghubungi suaminya. "Kenapa tidak dijawab padahal aktif," gerutu Cindy sambil melihat ke layar handphone.


"Apa dia ada meeting penting?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tak lama kemudian sebuah telepon dari Tommy berdering. "Tumben sekali dia menelepon. Hallo," Cindy mengangkatnya.


"Cin, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Tommy melalui sambungan telepon.


"Ya, aku baik. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku takut terjadi sesuatu padamu. Devon terburu-buru meninggalkan meeting setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Dia memanggilnya sayang, kupikir itu kamu."

__ADS_1


Deg


Cindy merasakan sesak di dadanya mendengar perkataan Tommy.


__ADS_2