Click Your Heart

Click Your Heart
Part 69


__ADS_3

Cindy menuruni tangga dengan langkah gontai. Ia masih tidak percaya suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Ketika berjalan di tangga terbawah ia berhenti sejenak dan memandang suaminya. Cindy menggengam erat pegangan tangga.


Hatinya bergemuruh, kenapa banyak sekali ujian rumah tangga yang harus ia jalani. Padahal rumah tangganya baru saja menghangat setelah kerusuhan yang dibuat Siska dan putrinya.


Cindy berjalan mendekat ke arah putranya. "Cello, sudah malam kita bubuk dulu yuk nak," Cindy mneggendong Cello tanpa menghiraukan suaminya yang sedang mengajaknya bermain.


Devon menjadi heran dengan perubahan sikap istrinya itu. Lalu Devon mendekati Cindy. Ia memeluk Cindy dari belakang sambil mencium bahu istrinya itu. Cindy tersentak kaget. Ia hanya bisa menghela nafasnya berat karena hatinya sedang bergejolak. Ingin sekali ia menepis tangan Devon yang memeluknya.


"Aku merindukanmu sayang." Ucapan Devon membuat hati Cindy memanas. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu jika dia bermain dengan wanita lain di luar sana. Cindy berusaha menahan air matanya.


"Aku sedang kedatangan tamu Mas," ucap Cindy beralasan untuk menolak ajakan suaminya bercinta.


Devon membalik badan Cindy. Ia menatap wajah cantik istrinya itu. Namun, Cindy memalingkan mukanya. "Hei kenapa menangis?" Tanya Devon.


Cindy menatap Devon dengan mata yang sudah berair. "Katakan pergi kemana kau kemaren malam?" Ucap Cindy dengan nada yang bergetar. Pertanyaan Cindy tentu saja membuat Devon kaget.


"Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu?" Batin Devon yang mulai gusar.


"Seperti katamu kemaren aku ke luar kota," jawab Devon.


"Bohong."


"Katakan siapa wanita yang bersamamu kemaren?" Tanya Cindy.


"Tidak ada perempuan manapun yang bersamaku sayang," Devon terpaksa berbohong agar Cindy tidak marah padanya.


"Baik, aku akan cari tahu sendiri, aku bukan wanita yang bisa kau bodohi." Cindy berlalu meningalkan suaminya. Devon meremas rambutnya frustasi.


Cindy menutup pintu kamarnya lalu menangis tersedu-sedu. "Hal yang paling kusesalkan adalah mempercayaimu yang aku kira tak akan pernah menyakitiku," batin Cindy. Hatinya terasa disayat dengan belati yang tajam.

__ADS_1


Devon mengetuk pintu kamarnya yang tertutup. "Sayang kumohon percayalah padaku." Tak ada respon dari istrinya, Devon memutuskan untuk tidur di kamar putranya.


Keesokan harinya Cindy bersikap dingin pada suaminya. Ketika ia melihat Devon masih tertidur ia biarkan begitu saja. Cindy mengambil Cello yang sudah terbangun lalu memandikan balita itu.


Devon mengerjapkan mata. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Pagi ini Cindy tak membangunkannya. Devon melirik ke samping ternyata Cello sudah tidak ada di dalam boxnya.


Devon kembali ke kamarnya. Hari ini Cindy tak menyiapkan baju untuknya bekerja. Ia juga tak membantu Devon memasangkan dasi seperti biasa. Namun, Cindy tetap menyiapkan sarapan untuk Devon.


Ketika berada di meja makan Cindy memberikan nasi yang ia ambilkan tanpa berbicara sepatah kata pun pada suaminya.


"Sayang, tidak bisakah kau percaya padaku?" Devon mendapatkan tatapan tajam dari Cindy.


"Bagaimana aku bisa percaya jika ada bekas lipstik yang menempel di kemejamu." Devon mati kutu. Ia tak menjawab lagi.


Devon bangun setelah ia menyelesaikan sarapannya. Ia sangat menyesal telah mengkhianati istrinya tapi nasi sudah menjadi bubur ia tak dapat menghindari kejadian yang telah berlalu.


Devon berangkat setelah mencium Cello yang sedang berada di dalam stroller. Devon hendak mencium Cindy tapi istrinya itu menolak.


Entah berapa kali ujian rumah tangga yang akan mereka hadapi yang jelas salah satu di antara mereka harus mengalah.


Devon tiba di lobi hotel tempatnya bekerja. Bayu menyambut kedatangan atasannya itu. Namun, ia melihat atasannya itu sedang tidak baik-baik saja. "Ada apa, Pak?" Tanya Bayu seraya menyamakan langkah Devon.


Devon tidak bisa menjawab pertanyaan Bayu karena ia tidak mungkin mengaku telah bermalam bersama tunangannya. "Tidak ada apa-apa," jawab Devon berbohong.


Sebulan setelah kejadian salah sasaran itu Lisa mengetes urinnya dengan alat tes kehamilan. "Ck, kenapa tidak hamil padahal dia tidak pakai pengaman," gerutu Lisa. Dia berharap ada buah yang tumbuh di rahimnya dari hasil berhubungan dengan Devon.


"Baiklah, aku punya cara lain agar dia percaya kalau aku memgandung anaknya, aku tidak akan melepaskan mangsa besar sepertinya," gumam Lisa sambil menarik ujung bibirnya.


...***...

__ADS_1


Di hari lain Maya mengajak Lisa berbelanja. Ia ingin lebih mendekatkan diri dengan wanita yang akan menjadi calon kekasih anaknya itu. Lisa menuruti keinginan Maya kebetulan Lisa sedang mengadakan fashion show di mall tempatnya mereka janjian.


"Tante," Lisa melambaikan tangan ketika melihat Maya dari kejauhan.


Lisa mengerutkan keningnya saat melihat Cindy yang juga diajak bersamanya. Namun, sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah, Lisa menarik ujung bibirnya.


"Kamu sudah selesai fashion show?" Tanya Maya.


"Oh ya aku mengajak Cindy dan juga anaknya kami tidak sengaja bertemu ketika makan di restoran siang ini," kata Maya.


Cindy mengangguk. "Dia kan tunangannya Bayu, darimana dia kenal tante Maya? Apa mereka berkenalan saat bertemu di acara pernikahanku? Mereka terlihat akrab. Waktu itu mereka datang ke acaranya." Cindy bertanya-tanya dalam hati ketika menatap Lisa.


"Oh iya tidak apa-apa Tante," jawab Lisa. "Aku akan menggantikan posisimu berpuas-puaslah menikmati hidupmu yang sekarang," batin Lisa sambil menatap Cindy.


"Kita kemana nih?" Tanya Maya meminta pendapat.


"Bagaimana kalau kita lihat bazar di sana tante ada yang jual kosmetik juga," usul Lisa.


"Cindy apa kau juga ikut?" Tanya Maya pada Cindy. Cindy mengangguk setuju. Lagipula dia tidak ada pekerjaan jadi apa salahnya menghabiskan waktu bersama orang yang ia kenal. Sekalian menyenangkan hatinya, mengingat Maya sangat berjasa di kehidupan Cindy.


Mereka pun berjalan ke stand kosmetik. Cindy yang sedang menggendong Cello bersamanya tampak kesulitan saat akan mengambil lipstik yang tak sengaja tersenggol tangannya ketika sedang berjalan.


Lisa membantu Cindy mengambil lipstik itu lalu menaruhnya kembali di tempatnya. "Warnanya bagus kamu mau coba? Aku juga pakai merk itu?" Kata Lisa pada Cindy sok akrab.


Cindy mencoba lipstik itu sesuai saran Lisa. Ketika ia membuka lipstik yang ia pegang sekilas tampak seperti warna lipstik yang menempel di kemeja Devon. "Ini kan?" Batin Cindy.


Cindy melihat bibir Lisa, ia memperhatikan warna lipstik yang ia pakai. "Mungkinkah? Ah tidak mungkin dia kan tunangannya Bayu, mana mungkin berani berselingkuh dengan suamiku, aku tidak boleh salah sangka sebelum ada bukti," gumam Cindy dalam hatinya.


"Cindy, kenapa kamu berdiri disitu saja?" Tanya Maya ketika melihat Cindy yang berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


"Ah iya tante," Cindy berjalan mendekat ke arah Maya dan Lisa.


__ADS_2