
"Anak-anak karena ada rapat antar guru-guru, hari ini kita pulang lebih awal," kata wali kelas Jaden dan Julian.
"Yes kita bisa mampir ke tempat tante Cindy kalau gitu, gue nggak sabar pengen mencincipi kue butan tante Cindy," kata Jaden sambil mmebayangkan kelezatan kue yang dibuat oleh Cindy.
"Oke, kita berangkat ke sana bareng aja pakai mobil gue," ajak Julian. Jaden dan Julian meskipun kembar tapi memang berbeda selera.
"Motor gue gimana?" Tanya Jaden.
"Titip dulu sama satpam, nanti suruh supir buat ngambil oke?" Usul Julian.
"Baiklah," jawab Jaden pasrah.
Tak butuh waktu lama, kini Julian memasuki halaman rumah Devon. Keduanya turun setelah mobil terparkir dengan sempurna.
"Assalamualaikum tante," Jaden dan Julian memberi salam secara bersamaan.
"Eh, kok kalian jam segini sudah pulang sekolah?"
"Iya tante, sedang ada rapat penting antar guru," jawab Julian.
"Yuk masuk, kebetulan sekali tante sedang membuat kue," ajak Cindy.
Jaden melihat seorang gadis yang tidaj ia kenali. "Dia siapa tante?" Tanya Jaden.
"Owh itu Ruby anak teman om Devon yang dititipkan di sini," jawab Cindy.
"Hai," sapa Jaden. Tapi Ruby cuek. "Jutek banget," cibir Jaden. Ruby terlihat cuek. Setelah ia selesai memecahkan telur, Ruby mencuci tangan lalu naik ke atas.
"Maafkan dia, Ruby memang anaknya cuek," kata Cindy membela Ruby.
"Emang kenapa dia dititipin di sini tante, dia kan udah besar," tanya Julian.
"Ibunya sedang ke luar negeri, setiap orang tua pasti khawatir kalau anak ceweknya ditinggal sendirian, dia tidak punya saudara," kata Cindy.
"Tante lanjutin bikin kuenya kalian tunggu sebentar atau main bersama Cello di kamarnya." Kedua anak kembar itu mengangguk.
Di saat yang bersamaan rupanya Ruby mengajak main Cello. Jaden dan Julian masuk dan ikut bergabung. Tapi Ruby malas mengenal orang asing.
"Sepertinya kita pernah bertemu," seru Julian. Ruby menoleh. "Jangan mengada-ada," jawabnya.
Gadis berambut panjang itu memutar memori di otaknya tapi ia merasa tidak pernah bertemu dengan anak kembar itu.
"Kau dulu pernah tinggal di apartemen kan?" Julian memberikan bukti kalau dia pernah bertemu Ruby.
"Aku tidak ingat," jawab Ruby ketus.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang pelupa, dulu kami bertetangga denganmu ketika baru pertama kali tinggal di Indonesia," ucapan Julian membuat Ruby mengerutkan keningnya.
"Memangnya kalian sempat tinggal di planet mana?" Ejek Ruby.
"Sialan ni cewek, dia kira kita alien, ganteng gini," sahut Jaden yang sekarang bersuara.
"Sudahlah, lebih baik kita berteman, gue Julian," Julian mengulurkan tangannya.
"Ruby," sambut Ruby tapi tidak dengan ramah.
"Jaden," Jaden juga mengulurkan tangan. Ruby mencibir.
"Gak usah gue sebutin lagi nama gue, elo udah denger," jawab Ruby dengan ketus.
Julian menertawakan Jaden. Entah kenapa dari tadi Ruby selalu ketus terhadapnya.
"Kamu makannya apa sih? Kenapa jutek banget sama aku?" tanya Jaden yang tidak terima.
"Mukamu itu menyebalkan." Ruby bangun setelah mengatakan itu.
Jaden meremas bantal yang ia duduki. "Kalau bukan cewek udah gue ajakin duel di sini," kata Jaden dengan kesal.
Tak lama kemudian Cindy memanggil. "Ruby mana?" Tanya Cindy pada kedua ponakannya itu.
"Keluar tante, apa kuenya sudah matang?" Tanya Julian antusias.
"Eh kok gue baru ngeh ya, tante apa Ruby tidak sekolah?" Tanya Jaden.
"Dia libur dua hari," jawab Cindy.
"Dalam rangka apa?" Mereka berbincang sambil berjalan menuju ke ruang makan.
"Diskors karena berkelahi dengan temannya," perkataan Cindy tidak membuat kaget Jaden dan Julian. Pasalnya mereka sudah bisa menebak kalau Ruby tipe gadis temperamental.
Jaden dan Julian menikmati makan siang di rumah Cindy. Ruby malas bergabung dengan mereka. Ia mengurung diri di kamar. Seusai makan siang kedua kakak beradik kembar itu pamit pulang.
"Tolong berikan kue ini pada mommy kalian," perintah Cindy seraya memberikan sebuah kotak berisi kue-kue buatannya.
"Terima kasih tante," kata Julian.
"Kami pulang dulu," kini ganti Jaden yang bersuara.
Cindy mengantarkan mereka sampai ke luar. Lalu ia masuk ke dalam rumah setelah memastikan keduanya pergi.
"Ruby kamu tidak makan siang?" Tanya Cindy yang melihat Ruby lewat di depannya.
__ADS_1
"Nanti saja tante," jawab Ruby.
"Ya sudah tante mau melihat Cello dulu, nanti jangan lupa makan ya," perintah Cindy dengan penuh perhatian.
Entah kenapa Ruby merasakan kehangatan seorang ibu. Siska memang ibu yang selalu memanjakan Ruby tapi dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak menyempatkan waktu walau hanya sekedar mengingatkan makan.
"Aku bantu beresi mejanya tante," kata Ruby.
"Tidak usah biar mbak Sari saja yang membereskan meja ini," jawab Cindy.
"Terima kasih tante," kata Ruby.
"Untuk?"
"Telah bersikap baik padaku meskipun aku selalu berbuat onar," kata Ruby sambil menunduk.
"Aku tahu kamu masih di usia labil, tante bisa maklumi itu, dulu tante juga seperti kamu, selalu ingin berbuat semau tante tapi tante menyesal tidak menghiraukan nasehat nenek tante, kadang orang tua itu mengingatkan kita demi kebaikan kita sendiri," kata Cindy.
"Ruby tahu tante Ruby banyak berbuat semau Ruby, maafin Ruby tante," Ruby tiba-tiba memeluk Cindy.
"Sudah jangan menangis," Cindy mengelus rambut Ruby dengan sayang.
Devon yang baru datang melihat Ruby sedang memeluk Cindy. "Apa mereka sudah akur?" batin Devon sambil mengulas senyumnya.
"Ehem," Devon berdehem keras untuk memberitahukan keberadaannya.
Cindy dan Ruby sama-sama menoleh ke arah Devon. Mereka merenggangkan pelukannya. "Mas, sudah pulang?" Tanya Cindy pada suaminya.
"Iya, hari ini pekerjaanku selesai lebih cepat jadi untuk apa berlama-lama di kantor," jawab Devon.
"Bagaimana kalau malam ini kita makan-makan di luar, Ruby kamu mau kan ikut dengan kami?" Tawar Devon.
Ruby merasa tidak enak menolak permintaan Devon. "Iya om Ruby mau sudah lama Ruby tidak makan malam di luar," jawabnya.
"Eh Ruby tadi kamu belum makan siang kan? Makan siang dulu!" Perintah Cindy.
"Nanti saja tante sekalian makan malam, aku tidak mau kebanyakan makan nanti gendut," semua orang terkekeh mendengar celoteh Ruby.
Mereka sudah mulai akrab satu sama lain layaknya sebuah keluarga yang utuh. Devon sengaja mengagendakan makan malam bersama Ruby agar istrinya juga lupa kalau Ruby sedang dititipkan.
Hari ini sebenarnya Devon pulang cepat karena dia khawatir Ruby akan berbuat ulah lagi. Ia tidak mau membuat istrinya risau dengan kehadiran Ruby di antara mereka.
Namun, hal yang tidak disangka malah terjadi. Rupanya istrinya itu sudah bisa berdamai dengan gadis remaja itu. Ia bisa lihat kalau istrinya itu tidak cemburu lagi pada Ruby.
..."Kadang menerima kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul itu tidaklah mudah, tapi yakinlah pasti ada hikmah dibalik semua kejadian yang ada, mencoba berdamai dengan keadaan lebih masuk akal dari pada harus menentangnya karena tak akan ada penyelesaian."...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
Semoga cerita othor menginspirasi para pembaca ya, dukung terus karya othor supaya othor waras ketika sednag menulis. Yang plagiat othor sumpahin kualat. Karena mikir itu tidak semudah menulis di atas kertas 🙏