
Setelah upacara pemakaman sang guru. Sesuai perintah dewa bumi, Astara hendak berkelana mencari kristal Narendra. Pelukan hangat disertai doa dari sang ibu dan ayah terlantun di setiap langkah. Astara dan Bailin pergi meninggalkan sekte bunga teratai menuju negeri bambu.
"Berapa lama kita sampai ke negeri bambu?" tanya Astara.
"Tergantung kalau kira berjalan menyusuri sungai, mungkin satu bulan. Tapi, kalau memakai kekuatan sihir bisa sekejap mata," ucap Bailin sambil menaik-turunkan alisnya.
"Apa kau bisa menggunakan kekuatan sihir?" tanya Astara lagi.
"Tentu saja bisa, kami para siluman sangat mahir menggunakan ilmu sihir." Bailin mencengkram tangan Astara, dengan sekejap mata Astara dan Bailin sampai di negeri bambu.
Terlihat banyak orang yang memakai pakaian tidak biasa bagi Astara. "Pakaian apa yang dipakai para penduduk negeri bambu?"
"Namanya hanfu, ini pakaian khas dari negeri bambu. Aku juga lahir di sini, jadi aku tau budaya orang-orang negeri bambu," ucap Bailin sambil tertawa.
Astara lalu mencium bau harum dari seorang pedagang makanan. "Harum sekali baunya makanan apa itu?"
"Ini bau bakpao, itu makanan khas negeri bambu. Apa kau mau coba?" tanya Bailin riang.
Astara tersenyum sambil mengangguk. Bailin membeli dua buah bakpao, mereka berdua mulai menikmati makanan khas negeri bambu.
"Lebih baik ganti pakaianmu, supaya tidak dikira orang aneh," ucap Bailin.
"Dimana kita cari toko pakaian?" tanya Astara.
__ADS_1
Bailin dengan ilmu sihirnya mengganti pakaian Astara dengan baju pendekar, Astara tersenyum tampak menyukai baju yang dikenakan.
"Tidak buruk,"
Mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah keramaian, Astara melihat wanita cantik berambut panjang dengan membawa pedang di kelilingi para pria dengan baju yang sama. Astara tertegun melihat kecantikan wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah melihat Astara dari kejauhan, lalu kembali berpaling melanjutkan perjalanannya.
Astara yang masih penasaran diam-diam mengikuti wanita cantik itu. Sampailah dia di sebuah perguruan silat bertuliskan Lin'an. Bailin dari belakang menepuk pundaknya yang membuat Astara terperanjat.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Bailin.
Astara jadi salah tingkah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "A-aku hanya tersesat."
Astara menatap serius tempat itu. "Berarti di sana banyak orang-orang sepertiku?"
"Tentu saja."
"Aku mau masuk kesana," ucap Astara riang.
"Ehhh, mau kemana. Tidak gampang untuk memasuki sekte Lin'an tanpa ada izin."
__ADS_1
"Siapa nama ketua sektenya?"
"Aku tidak tahu," jawab Bailin.
Astara pun tetap ingin masuk. Kedua penjaga gerbang menahan Astara.
"Siapa kamu!?" tanya salah satu penjaga gerbang.
Astara merapatkan kedua tanganya, badannya setengah menunduk kememberi hormat. "Namaku Astara dari Negeri Sabit, aku ingin bertemu dengan ketua sekte."
Kedua penjaga itu menatap penampilan Astara. "Kamu orang asing, tidak boleh sembarangan bertemu dengan ketua."
"Izinkan saya bertemu dengan ketua," desak Astara.
"Tidak boleh!" pekik penjaga gerbang.
Astara menatap tajam kedua penjaga itu.
Bailin menepuk pundak Astara. "Lebih baik kita pergi dari sini."
Astara menghela napas, mengalah untuk sementara.
"Baik, kami akan pergi. Dasar pelit," gumam Bailin.
__ADS_1
"Kenapa orang-orang sekte Lin'an tidak ramah?" tanya Astara.
"Aku juga tidak tau, mungkin karena dunia sedang tidak baik-bauk saja. Kaum Asyura meneror perguruan yang ada di dunia," ucap Bailin.