
"Dewa, kenapa aku harus melawan dewa?" tanya Astara.
"Aku belum bisa mengatakannya, yang jelas tugas berat mengembalikan tiga alam seperti semula," ucap Changguan.
"Ini sudah menjadi takdir, aku akan berusaha," balas Astara memberi penghormatan kepada Changguan.
"Aku akan masuk ke dalam sarung pedangmu, jika kau membutuhkan kekuatanku panggil aku." Changguan meraung, lalu masuk ke sarung pedang bergambar dirinya sendiri.
Astara terduduk lemas karena menggunakan mode dewanya. Bailin segera membantu Astara menuju tepi sungai.
"Kau tidak apa-apa, Astara?" tanya Bailin.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lemas saja," jawab Astara.
"Ini telanlah. Ini pil dari Nona Jiarong." Xiao Yu memberikan pil ganoderma untuk Astara.
"Lebih baik kita istirahat di sini dulu," ucap Astara lirih.
"Pedang Narendra, kau berhasil mendapatkan kristal itu," ucap Bailin saat melihat pedang di tangan Astara.
"Aku dibantu Changguan."
"Siapa itu Changguan?" tanya Bailin.
__ADS_1
"Singa berkepala tiga, dia sekarang ada di sarung pedang ini menjadi hewan spiritualku," jawab Astara.
"Wah ... hebat. Itu artinya sebagian kekuatanmu sudah kau dapatkan," ucap Bailin.
Astara mengangguk tersenyum kepada Bailin dan Xiao Yu, lalu dia berdiri.
"Tubuhku sudah mulai membaik, ayo kita pulang." Astara memasukan pedang itu ke dalam dirinya, lalu melangkah pulang.
Di istana asyura, Zhang Yutang tampak marah saat dia tau kabar Astara dan Jiarong sudah menikah. Dia ingin menemui Astara untuk menantangnya bertarung. Namun, Liyan menghentikan tindakannya. Zhang Yutang tidak akan bisa mengalahkan Astara.
"Kau jangan gegabah, kita bukan tandingan Astara," ucap Liyan.
"Aku tidak peduli, aku ingin membunuh Astara. Dia telah merebut Jiarong dariku!" pekik Yutang.
"Aku tidak peduli, Aku akan bertarung dengannya sampai mati!" Zhang Yutang keras kepala.
Liyan dengan terpaksa mentotok pergerakan Astara supaya tidak melakukan tindakan gegabah.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku," ucap Zhang Yutang.
"Aku harus melakukan ini, sampai paduka Rabah datang ke sini," ucap Liyan.
"Ada apa kalian berteriak sampai terdengar ke dalam istana," ucap Rabah yang menemui Zhang Yutang.
__ADS_1
"Maaf paduka, saya hanya menjalankan perintah," ucap Liyan.
"Lepaskan dia," ucap Rabah.
Liyan melepaskan totokan Zhang Yutang.
"Kau jangan bertindak gegabah. Astara sudah mendapatkan pedang Narendra yang tersembunyi di danau Lin'an. Pedang ruyimu itu, bukan lawan Astara," ucap Rabah.
"Aku tidak peduli," balas Zhang Yutang.
Rabah langsung emosi mencekek leher Zhang Yutang. "Kau jangan bertindak sebelum ada perintah. Kalau kau macam-macam kau tidak akan pernah mendapatkan Jiarong. Tunggu perintahku."
Zhang Yutang tersedak dengan cengkraman tangan yang mengikat lehernya. Zhang Yutang meracau sulit untuk bernafas karena wajahnya mulai memerah. Rabah melepas cengkraman tangannya dengan rahang yang mengeras dan mata tajam menatap Zhang Yutang.
"Aku yang menyelamatkanmu dari keterpurukan, di hadapanku kau bukanlah apa-apa."
Zhang Yutang segera mengangguk mengiyakan ucapan Rabah sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit. Kekuatan iblis Zhang Yutang tidak akan keluar jika bertarung melawan sesama asyura.
"Maafkan saya, Paduka. Aku tidak akan berbuat lancang lagi," ucap Zhang Yutang dengan suara parau.
"Liyan."
"Hamba, Paduka."
__ADS_1
"Jaga dia, berikan ini padanya," Rabah memberikan obat padanya.