Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Kura-kura Raksasa.


__ADS_3

Sedangkan tubuh Astara yang asli bersembunyi di balik bongkahan es untuk melihat kelemahan tehnik dewa angin. Astara terus mengamati gerakan dewa petir yang semakin lambat, aura emas yang menyelimuti tubuhnya pun semakin memudar. Ternyata, tehnik dari dewa petir memiliki batas waktu.


Astara melesat saat aura emas yang dimilki dewa angin hilang. Tinju dari Astara hampir mengenai wajah dewa angin. Astara tidak menyerah, dia kembali menyerang dengan tebasan angin pedang Narendra. Dewa angin mengeluarkan pedangnya untuk menangkis serangan Astara.


Astara terus menyerang dewa angin, tebasan pedang Narendra terus dilancarkan, namun dewa angin terlihat kabur mengulur waktu. Kejar mengejar di udara pun terjadi.


"Hadapi aku dewa pengecut!" pekik Astara.


Dewa angin tersenyum sinis melirik Astara, lalu berbelok di antara bongkahan es raksasa.


Astara berhenti sejenak. "Dimana kau dewa angin. tunjukan dirimu!"


"Hahaha ... aku tau saat kau mengunakan tehnik bayangan, kau sedang mencari kelemahan tehnik aura emasku. Tapi, aku tidak sebodoh yang kau pikir." Dewa angin tiba-tiba ada di belakang Astara dan menendang dengan kekuatan penuh.

__ADS_1


Astara melesat menabrak bongkahan es hingga terkubur reruntuhannya. Dengan kekuatan angin, dewa angin memadatkan bongkahan es yang menimpa Astara.


"Dengan ini selesai sudah." Dewa angin berbalik hendak pergi.


Namun, bongkahan es itu meleleh dengan aura merah dari tubuh Astara. Astara meningkatkan kekuatan pedang Narendra untuk menyerang dewa angin yang belum siap. Untung Tebasan angin pedang Narendra yang dilancarkan Astara hanya mengenai pelindung kepalanya.


Dewa angin mengerang mengeluarkan aura keemasan. Astara segera menggunakan tehnik membagi tubuh untuk mencegah pergerakan dewa angin. Ribuan cloning Astara menyerang bersamaan. Dewa angin dengan cepat mengalahkan bayangan Astara. Aura keemasan dewa angin terlihat meredup.


Dari pijakan danau yang sudah membeku, Aura merah terpancar terang menyelimuti Astara. Pedang Narendra dengan kekuatan penuh melesat membentuk aura singa berkepala tiga. Dewa angin dengan sekuat tenaga menahan aura ganas itu dengan telapak tangannya.


"Goroi!" Dewa angin memanggil hewan spiritual berbentuk kura-kura raksasa. Dengan tempurungnya kura-kura itu mampu menahan serangan pedang Narendra. Dewa angin terkulai lemas kehabisan tenaga.


Astara yang melihatnya terkejut. Seekor kura-kura raksasa mampu menahan serangan terkuatnya.

__ADS_1


"Dewa angin istirahatlah di dalam tempurungku," ucap Goroi dengan suara beratnya.


"Goroi, gantikan aku menghadapinya, aku butuh waktu satu jam untuk memulihkan kondisi," ucap dewa bumi masuk ke dalam tempurung.


"Tuan kura-kura, mohon serahkan dewa angin kepada saya biar bisa disadarkan kembali," ucap Astara.


Kura-kura itu meraung. "Aku hanyalah hewan spiritual, aku hanya mengikuti perintah tuanku. Kura-kura raksasa itu menyerang dengan ribuan pisau angin yang dikeluarkan dari mulutnya yang membuat kulit Astara tegores.


"Sial tenagaku sudah habis." gumam Astara.


Kura-kura itu melompat ingin menghancurkan tubuh Astara dengan tempurungnya. Astara berhasil menghindar dengan susah payah.


"Astara, biar aku yang menghadapi makhluk itu. Kau gunakan aura dari kristal hijau untuk memulihkan energimu." Changguan berbicara dari tubuh Astara.

__ADS_1


"Changguan!" Singa berkepala tiga keluar langsung berdiri di atas tempurung kura-kura itu. Changguan mengincar leher kura-kura raksasa itu. Namun, kepalanya tiba-tiba hilang bersembunyi dibalik tempurung kerasnya.


__ADS_2