
Mereka berdua duduk di tepi danau amer sambil melihat ribuan lilin dengan anyaman bunga teratai mengambang indah.
"Hari ini ada festival kembang merah. Aku dengar dari warga, jika kita melakukan permohonan di sungai ini, semua hajat kita bisa terkabul," ucap Yang Guo.
"Benarkah, aku juga ingin memohon sesuatu." Xiao Yu merapatkan tangan berdoa di tepi danau.
Setelah berdoa, dia menanyakan kepada Yang Guo tentang doa yang dia panjatkan.
Yang Guo menghela napas panjang. "Aku tidak berdoa."
"Kenapa?" tanya Xiao Yu.
Yang Guo tersenyum. "Itu tidak terlalu penting dalam hidupku."
Xiao Yu mencoba memahami ucapan dari Yang Guo.
"Danau ini sangat indah, ditambah pancaran bulan purnama semakin membuat tempat ini terasa indah." Yang Guo mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Xiao Yu mengangguk. "Aku teringat danau Lin'an, cuma tempatnya tidak seramai ini."
"Xiao Yu, maukah kau membantuku?" tanya Yang Guo lirih.
"Tentu saja, Pendekar."
Yang Guo memegang tangan Xiao Yu yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Astara adalah reinkarnasi dewa Narendra, tapi dia tidak mengingat masa lalunya sama sekali. Bisakah kau memberikan pil ini ke dalam minumannya Astara." Yang Guo memperlihatkan sebuah pil berwana hitam dengan bau yang tidak sedap.
"Pil apa ini? Kenapa baunya tidak sedap?" tanya Xiao Yu sambil menutup hidungnya.
"Tak kusangka pendekar Yang Guo bisa melakukan kultivasi tahap akhir dengan usia semudah ini." Xiao Yu kagum dengan Uang Guo.
"Sebenarnya tugasku adalah untuk membantu pendekar Astara menemukan kembali kekuatannya. Itulah kenapa aku selalu berada di dekat kalian. Dengan meminum pil ini, ingatan masa lalunya akan pulih dan dia bisa segera mendapatkan kekuatannya, rendam pil ini menggunakan sari mawar untuk menghilangkan baunya," ucap Yang Guo.
"Aku mengerti maksud pendekar. Tidak kusangka pendekar Yang Guo punya tugas yang mulia." Xiao Yu mengambil kotak kecil itu.
__ADS_1
Yang Guo merangkul lengan Xiao Yu. Xiao Yu yang tertarik dengan Yang Guo pun tidak keberatan. Dengan Tatapan yang dalam, mata mereka saling beradu. Xiao Yu terlihat pasrah memejamkan matanya tatkala bibir Yang Guo semakin dekat dan dekat di bibir Xiao Yu.
Lidah mereka saling bertaut di bawah bulan purnama. Yang Guo sengaja melakukan ini supaya rencananya untuk mencelakai Astara berhasil. Xiao Yu yang tertarik dengannya dimanfaatkan untuk menjalankan misi pribadinya.
Kilatan petir tiba-tiba mengagetkan Yang Guo, Xiao Yu dan penduduk yang ada di tepi sungai. Yang Guo pun melepas tautan bibirnya. Dia paham dengan tanda itu, tidak semestinya seorang dewa bersentuhan dengan siluman. Itu melanggar aturan langit.
"Lebih baik kita kembali ke penginapan," ajak Yang Guo sedikit terrgesa-gesa.
Xiao mengikuti apa kata Yang Guo. Xiao Yu berjalan sambil bersandar di pundak Yang Guo.
"Kali ini aku harus memanggilmu apa?" tanya Xiao Yu pelan.
Yang Guo tersenyum tipis. "Panggil aku Yange aku akan memanggilnya Xiaoer."
"Terima kasih untuk malam ini," ucap Xiao Yu dengan penuh penghayatan.
Yang Guo mengusap kepala Xiao Yu. "Aku berharap padamu, jangan lupa pesanku."
__ADS_1
"Tentu saja aku akan melakukannya untuk kebaikan Astara." Xiao Yu terlena dengan rayuan manis dari Yang Guo.