
"Yutang kau tidak boleh seperti itu," hardik Jiarong.
"Tapi dia yang telah membuatku seperti ini," balas Yutang.
"Kau ..."
"Sudah-sudah, aku memaklumi kemarahan saudara Yutang." Astara pun keluar dari ruangan Yutang.
"Kau ini tidak punya terima kasih, kalau tidak ada Astara yang mengambil air penyembuhan sebanyak satu wadah, kau tidak akan selamat dari luka dalammu," ucap Jiarong.
"Kau ini kenapa, selalu saja membelanya!" Dada Yutang kembali terasa sakit karena terlalu memaksakan diri.
"Sudahlah, aku tidak mau merawatmu lagi." Jiarong ikut pergi. Yutang berteriak memanggil namanya, tapi Jiarong sama sekali tidak menoleh.
Yutang sedari kecil mencintai Jiarong, itu sebabnya dia berlatih dengan keras supaya menjadi murid terbaik di sekte Lin'an. Yutang kecewa dengan perubahan sikap Jiarong setelah mengenal Astara. Wajah Merah dan Rahang yang mengeras, mengisyaratkan kebenciannya kepada Astara.
Sedangakan, Bailin masih curiga dengan Hai Xuan. Dari kemarin dia tidak melihatnya. Bailin curiga dengan sikap Hai Xuan yang muncul secara tiba-tiba.
"Astara apa kau tidak curiga dengan Hai Xuan?" tanya Bailin berjalan beriringan di lorong ruangan.
__ADS_1
"Curiga apa?"
"Dari kemarin aku mencarinya dia tidak ada."
"Mungkin senior Hai Xuan sedang ada tugas di luar," jawab Aatara.
"Mana mungkin, sekte Lin'an habis diserang kaum asyura, tidak mungkin ketua sekte menugaskannya secara tiba-tiba," ucap Bailin.
"Kita hanya tamu di sini, tidak pantas kita curiga dengan senior Hai Xuan."
Di tempat lain, Rabah dan ratusan prajurit asyura tengah menuju samudra india mencari guci dewa naga laut timur.
"Disana raja asyura dikurung paduka," tunjuk salah satu prajurit.
"Kalian kaum terkutuk hanya menjadi sampah tiga alam." Naga itu berontak mengibaskan ekornya mengenai belasan prajurit asyura.
Rabah takjub dengan kekuatan naga itu. Dia mengeluarkan pedang dan zirah tempurnya. Dengan mempelajari gulungan dari langit Rabah berusaha melawan naga raksasa itu. Namun, naga itu masih terlalu kuat untuk dihadapi
Rabah dan prajurit asyura kwalahan menghadapi naga itu. Rabah membaca mantra yang dipelajari dari gulungan langit untuk mengurung naga itu. Sebuah rantai emas pengikat kekuatan dewa di lempar, lalu mengenai mulut naga hijau itu.
__ADS_1
Naga raksasa itu merasakan sakit yang sangat. "Dari mana kau dapatkan rantai dewa."
"Kau tidak perlu tau." Rabah kembali melempar rantai emas ke arah naga itu dan mengenai badannya. Naga pelindung guci itu pun terjatuh dan menghilang ke langit.
Prajurit asyura bersorak, Rabah segera mengambil guci itu.
"Kakak apa kau bisa mendengarku?" seru Rabah melihat ke dalam lubang kecil dari guci itu.
"Siapa kau?" tanya raja asyura.
"Aku Rabah, adikmu."
"Kau bisa mengalahkan naga itu, kemampuanmu sudah meningkat rupanya," ucap raja asyura
"Ini berkat gulungan langit itu kakak, aku telah mempelajarinya, dan bisa mengubah tubuhku menjadi manusia."
"Hahaha ... Kau memang bisa diandalkan Rabah. Tubuhku masih lemah, aku belum bisa bertarung. Aku butuh energi Ki yang kuat untuk mengembalikan tubuh asliku.
"Bagaimana caranya aku bisa mengembalikan tubuhmu, Kakak."
__ADS_1
"Carikan aku sepuluh darah dewa, lalu masukan darah itu kedalam guci ini, maka kekuatanku akan pulih kembali."
"Dengan kondisi kaum asyura yang belum stabil, mustahil bisa melakukannya, Kakak," jawab Rabah.