
"Apa, dewa pagoda?" tanya dewa bintang.
"Jika tungku penyedot itu diambil, maka akan ada letusan hebat di gunung itu. negeri sabit akan tertutup oleh asap panas yang bisa membunuh para penduduknya."
"tapi, membiarkan Zhuyan terus merusak bumi juga sangat membahayakan. Dengan cepat mereka memakan apa yang ada di depannya," ucap dewa petir.
"Aku bisa melakukannya." Dewa hujan menawarkan diri.
Semua mata pun tertuju ke arah dewa hujan.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya dewa pagoda.
"Aku bisa menggunakan kristal es yang ada di dalam tubuhku untuk menghentikan magma itu," jawab dewa hujan.
"Tapi, itu sangat berbahaya untukmu. Kau bisa ..."
"Tidak ada cara lain, hanya ini satu-satunya cara untuk menahan letusan gunung purba." Dewa bintang memotong omongan dewa angin.
"Baiklah, kita akan berangkat. Kalian tetaplah bertahan," ucap dewa bintang dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Suamiku, hati-hati." Dewi bulan memeluk dewa bintang.
"Tenanglah istriku, semuanya akan baik-baik saja," ucap dewa bintang menenangkan dewi bulan.
"Kalian cepatlah pergi, kami sekuat tenaga akan menahan Zhuyan di sini." pekik dewa pagoda.
Dewa bintang dan dewa hujan melewati menggunakan pegasus.
Sedangkan Astara, Jiarong dan Suli sudah berada di bumi bagian tenggara. Suli menunjuk sebuah menara yang terletak di tengah lautan. Astara pun segera melesat, dan benar saja, tanda V yang ada di kening Astara menyala. Kali ini Astara tidak merasakan sakit. Cahaya putih itu sudah menyatu dengan Astara.
Tiba-tiba laut bergemuruh, sebuah kristal putih keluar menemui tuannya. Astara tersenyum, kristal putih itu pun masuk kedalam tubuh Astara. aura putih yang dingin telah di dapatkan. Jiarong dan Suli yang melihat Astara pun gembira. Semua kekuatan dewa Narendra telah sempurna. Astara menghampiri Jiarong dan Suli ke tepi pantai.
Astara tiba-tiba tersentak, dia merasakan energi jahat ke arah timur.
"Kita harus ke negeri bambu, aku merasakan energi jahat yang aneh," ucap Astara.
"bukankah di sana sudah ada para dewa?" tanya Jiarong.
"Aku hanya merasakan energi dewa bintang dan dewa hujan sedang menuju ke arah selatan. Energi jahat ini semakin lama semakin besar jumlahnya dan terus bertambah," jawab Astara.
__ADS_1
"Kita harus pergi ke arah timur," ucap Jiarong.
Suli dan Astara mengangguk mantap. Astara memegang tangan Jiarong dan Suli menggunakan aura hijau untuk melesat menuju negeri bambu. Dengan sekejap mata Astara sudah sampai di gunung emei.
Mereka bertiga pun terkejut saat melihat makhluk menjijikan bermata satu mengerubungi mereka bertiga. Dengan buasnya Zhuyan menyerang mereka bertiga.
"Maklum apa ini!?" pekik Suli sambil menusuk Zhuyan dengan cambuk api birunya.
"Makhluk ini tidak bisa dibunuh, mereka akan bertambah banyak jika kita melumpuhkannya," ucap Astara.
"Tapi, tidak ada cara lain. Kalau kita bertahan makluk aneh ini akan menggigit kita," balas Jiarong.
"Kalian semua pegang pundakku." Astara kembali menggunakan aura hijau melesat jauh ke perguruan Lin'an.
Terlihat Gongfu dan murid sekte Lin'an, membuat dinding pelindung untuk menghalau Zhuyan. Jiarong dan Suli masuk ke paviliun untuk membantu Gongfu.
"Jiarong, kau sudah kembali." Gongfu terlihat senang melihat kehadiran putrinya.
"Ayah."Jiarong menggunakan energi ki untuk mempertebal dinding pelindung itu. Suli pun tidak ketinggalan membantu.
__ADS_1