
Bailin dan Xiao Yu yang sedang mencari petunjuk dewi bulan melihat nyala merah di ujung timur, begitupun dengan Astara dan Jiarong. Padahal, jarak dari tempat mereka begitu jauh.
"Pasti sedang terjadi pertarungan hebat di sana," ucap Bailin.
"Sudahlah, lebih baik kita segera temukan dewi bulan itu. Sudah tidak ada waktu lagi," ucap Xiao Yu
Bailin mengangguk.
Bagian timur, Astara pun ingin melihat apa yang terjadi. Cahaya merah itu begitu terang. Namun, Jiarong melarangnya karena harus mencari dewi bulan. Mereka berempat seharian mencari, tapi tidak ada petunjuk sama sakali.
Para penduduk negeri salju juga tidak ada yang berani keluar rumah karena awan gelap yang menyelimuti bumi. Mereka berempat kembali ke kuil saat hari mulai malam.
"Apa Benar dewi bulan berada di negeri salju?" tanya Xiao Yu yang mulai ragu.
"Aku kenal siapa dewa bintang. Dia orangnya jujur dan selalu berpikir lebih maju," jawab Bailin.
"Kita sudah mencari ke segala arah, bahkan energi ki ku sampai terkuras. Tetap tidak ada petunjuk," keluh Xiao Yu.
Bailin berdecak sambil mengibaskan tangan ke udara.
"Kita kurang teliti mencarinya, besok kita mulai lagi pencarian. Lebih baik kita makan dulu," ucap Jiarong yang sudah menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Bailin dengan cepat mengambil makanan yang ada di meja, lalu makan di teras kuil. Xiao ikut menemani Bailin makan
"Aku tidak suka sayur bayam. Ini aku berikan untukmu," ucap Bailin.
Xiao tersenyum wajahnya bersemu merah, dengan lirih dia mengucapkan terima kasih. Xiao Yu membalas dengan memberikan daging ayam untuk Bailin.
"Kau memberi daging untukku?" Bailin serasa tidak percaya.
Xiao Yu mengangguk menyunggingkan senyum.
"Bailin, besok kira-kira mau mencari dewi bulan kemana?" tanya Xiao Yu sambil memperlihatkan senyum tebaiknya.
"Kemana saja tempat yang belum kita temui," jawab Bailin datar.
"Tentu saja, kita 'kan berbagi tugas dengan Astara dan Jiarong," ucap Bailin dengan nada tinggi.
Xiao Yu mendekati Bailin bersandar di pundak Bailin.
"Kau kenapa?" Bailin merasa heran.
Xiao tidak menjawab dia terlanjur nyaman berada di dekat Bailin. Astara datang berdehem saat melihat Xiao Yu dan Bailin berduaan. Xiao segera memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Pendekar Astara," ucap Xiao Yu terkaget melihat Astara.
"Ehem ... kalian sudah selesai makan, kan?" Aku ingin bicara dengan kalian berdua." Astara masuk ke dalam di susul Bailin dan Xiao Yu.
"Kalian melihatnya, kan?" tanya Astara.
Bailin dan Xiao Yu mengangguk.
"Aku yakin para dewa yang telah dirasuki aura kegelapan pelakunya," jawab Bailin.
"Ledakannya begitu hebat, Bagaimana dengan penduduk yang ada di sekitar," ucap Astara.
"Kita lebih baik tidak usah ke sana, yang lebih penting adalah menemukan dewi Jingga supaya aura hitam bisa dinetralkan," ucap Xiao Yu.
"Tapi, kita tidak menemukan petunjuk sama sekali. Aku takut jika kita terlalu lama mencari, dunia ini akan hancur," ucap Astara.
"Apa kau ingin menggunakan tehnik pelindungmu lagi untuk melindungi bumi ini. Itu akan menguras energimu, Astara." Bailin memperingatkan Astara.
"Itu bukan jalan yang baik," jawab Astara.
"Sebenarnya ada satu orang yang tau keberadaan dewi bulan," ucap Bailin.
__ADS_1
"Siapa?" Astara dan Xiao Yu penasaran.
"Tabib Jianli, dia adalah tabib langit yang tau semua tentang tiga alam ini. Pengetahuannya tidak di ragukan lagi," jawab Bailin.