
"Setiap kali aku bermain seruling ini, hatiku terasa damai," ucap Jiarong.
"Setiap kali aku mendengar suara seruling itu, aku mengingat sesuatu di masa lalu. Aku merasa kita pernah ditakdirkan bersama," ucap Astara.
Jiarong menatap ke arah langit. "Malam ini bulan terlihat indah, mungkin dia sedang tersenyum melihat kita."
Astara tersenyum menatap lekat Jiarong, lalu mencium keningnya.
Jiarong kembali mendekap dada bidang Astara. "Jika kau pergi dari sini, ajaklah aku berkelana."
Astara hanya tersenyum, mengisyaratkan sebuah rahasia. Mereka berdua lalu turun dari atap bangunan bergandengan tangan mesra sambil duduk di gardu taman.
Zhang Yutang tidak sengaja melihat mereka berdua bermesraan. Jiarong bersandar di pundak Astara, itu membuat Yutang cemburu buta. Emosinya tidak bisa terbendung lagi, dengan api kemarahan Zhang Yutang menyerang Astara dari belakang. Astara yang tidak siap, menerima telak pukulan tenaga dalam dari Zhang Yutang.
"Zhang Yutang, apa yang kamu lakukan!" pekik Jiarong sembari menolong Astara yang mengeluarkan darah di mulutnya.
Dengan amarah Zhang Yutang kembali menggunakan tenaga dalam untuk menghabisi Astara. Namun, Bailin datang menolong Astara yang sedang terluka. Zhang Yutang dan Bailin pun bertarung, berbagai macam jurus di keluarkan. Pertarungan terlihat berimbang.
__ADS_1
"Berhenti!" Gongfu dan beberapa murid sekte Lin'an menghentikan pertarungan antara Bailin dan Zhang Yutang.
"Apa yang kalian lakukan!?" pekik Gongfu.
"Astara lancang telah berani berduaan di tempat sepi dengan Jiarong," ucap Yutang membela diri.
"Kau yang lancang, aku telah merestui hubungan mereka berdua!" hardik Gongfu.
Zhang Yutang pun terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang gurunya katakan. Sekian tahun dia mencintai Jiarong, tapi hancur seketika karena ulah Astara. Zhang Yutang pun berdiri lemas menatap kosong ke depan.
Bailin tersenyum sinis menatap Yutang. "Hey anak nakal, kau sudah dengar 'kan penjelasan dari ketua sekte?"
Zhang Yutang menoleh pelan ke arah Gongfu. Dia masih shock dengan gurunya yang merestui Astara dan Jiarong.
"Murid yang melanggar harus dihukum. Bawa Yutang ke penjara, berikan hukuman cambuk seratus kali," perintah Gongfu.
Zhang Yutang tidak melawan, dia masih menatap Jiarong dan Astara sambil langkahnya digiring menuju penjara.
__ADS_1
Sedangkan, Jiarong segera mengobati Astara dengan air penyembuhan masuk ke dalam tubuh Astara. Seketika itu Astara sembuh. Jiarong pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Astara, kau sudah pulih?" Jiarong menatap lamat-lamat wajah Astara, dia masih tidak percaya air penyembuhan bisa mengobati Astara dengan cepatnya.
"Jiarong." Astara memegang erat tangan Jiarong.
"Astara kau tidak apa-apa," ucap Bailin sambil membantu Astara bangun.
"Ada apa denganku? Aku seperti merasakan pukulan tenaga dalam," ucap Astara yang terlihat bingung.
"Kau tadi terkena pukulan dari Zhang Yutang, untung saja Jiarong segera menyembuhkan," ucap Bailin.
Astara semakin tidak mengerti. "Mana mungkin orang yang terkena pukulan tenaga dalam bisa sembuh secepat ini."
"Aku juga tidak mengerti, tapi aku senang kau baik-baik saja." Jiarong secara spontan memeluk Astara.
"Ehem ...." Gongfu berdehem sambil mengelus janggut panjangnya.
__ADS_1
Jiarong segera melepas dekapannya dengan wajah bersemu merah. Astara terlihat kaku karena dipeluk secara tiba-tiba oleh Jiarong.
Gongfu tertawa. "Urusan sudah beres, lebih baik kembali beristirahat. Besok bisa diteruskan lagi."