Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Cari Cara.


__ADS_3

Yang Guo tanpa sengaja melihat kemesraan Astara dan Jiarong. Sontak tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. Dia pergi dari keramaian karena tidak kuasa melihat kemesraan Jiarong dan Astara.


"Aku harus bisa memisahkan Astara dan Jiarong," ucap Yang Guo dengan napas yang menggebu.


Sekembalinya di penginapan, Xiao Yu melihat Yang Guo dengan wajah masam masuk ke dalam kamar.


"Pendekar Yang Guo!" Panggil Xiao Yu mengetuk pintu.


Yang Guo membuka pintu dengan kuat hingga Xiao Yu terperanjat. Yang Guo masih terbawa api cemburu saat di danau amer.


"Ada apa?" Tatapan mata tajam Yang Guo membuat Xiao Yu bergidik.


"A-aku hanya ingin bertanya dimana putri Jiarong dan pendekar Astara." Xiao Menunduk tidak berani menatap mata Yang Guo.


"Kau cari saja sendiri." Yang Guo kembali menutup pintu kamar dengan keras.


Xiao Yu kembali terperanjat, lalu menjauh dari kamar Yang Guo. Tatapan tajam dari Yang Guo membuat Xiao Yu mengurungkan niatnya. Sebenarnya Xiao Yu ingin mengajaknya jalan-jalan. Namun, melihat wajah masamnya, dia menjadi berubah pikiran.


Xiao Yu mondar-mandir sambil menggigit ujung bajunya di kamar Bailin.

__ADS_1


"Kau ini kenapa, bikin pusing saja," ucap Bailin dengan suara pelan.


"Diam kau, lebih baik perbanyak istirahat biar kondisimu cepat pulih," cibir Xiao Yu.


"Bagaimana aku bisa istirahat jika kau terus mondar-mandir di depanku," ucap Bailin.


Xiao Yu bertolak pinggang menatap Bailin kesal. "Jadi kau ingin mengusirku."


Bailin terbatuk. "Siapa yang ingin mengusirmu? Kau bilang aku harus istirahat, aku tidak bisa istirahat kalau kau mondar-mandir di depanku. Lebih baik kau duduk kipasin aku."


Xiao Yu mendengkus, dia pergi dari kamar Bailin. Di lorong kamar, Yang Guo berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangannya. Xiao Yu dengan wajah cemberut berhenti sejenak menatap Yang Guo, lalu kembali berjalan.


Xiao Yu menghentikan langkah, lalu berjalan mundur menyungingkan senyum. Tampak raut wajah ceria terpancar dari senyumnya.


"Malam ini bulan purnama, di luar sangat ramai, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan," ajak Yang Guo.


Xiao terperangah, perasan gugup bercampur senang saling beradu. "Ka-kalau pendekar memaksa apa boleh buat."


Mereka berdua keluar di malam hari. Yang Guo membelikan Xiao Yu beberapa kue basah kesukaannya. Tanpa di sengaja Astara dan Jiarong berpapasan dengan mereka berdua. Yang Guo terlihat kikuk, Astara berdehem.

__ADS_1


"Mau kemana kalian?" tanya Astara bermaksud untuk menggoda mereka berdua.


"Kami mau jalan-jalan sebentar," jawab Yang Guo.


"Xiao Yu, pipimu merah," goda Jiarong.


Xiao Yu langsung memegang pipinya, lalu menyembunyikan wajahnya di depan Jiarong. Jiarong terkekeh melihat expresi Xiao Yu.


"Pendekar Yang Guo, aku titip Xiao Yu ya. Sepertinya dia tampak senang malam ini," ucap Jiarong menyeringai.


Xiao Yu sudah tidak bisa menahan wajah merahnya, dia memilih pergi menunggu Yang Guo di ujung jalan.


Jiarong tertawa. "Sepertinya dia malu."


Astara menegur lembut Jiarong karena tertawa keras di depan Yang Guo.


"Kalau begitu aku mau menemui Xiao Yu dulu," ucap Yang Guo menghampiri Xiao Yu.


"Menurutku mereka cocok," ucap Jiarong.

__ADS_1


"Kalau mereka saling mencintai mau bagaimana lagi. Biarkan mereka berdua saling mengenal terlebih dahulu. Pendekar Yang Guo orang yang adil dan bijaksana, pasti Xiao Yu bahagia jika bersamanya," ucap Astara.


__ADS_2