
Bailin dan Xiao Yu beristirahat di sebuah gua dengan api kecil sebagai penerangan.
"Tidak kusangka, di hutan ini banyak sekali buah-buahan segar." Xiao Yu menggigit apel merah yang dia ambil di hutan.
Bailin dengan penciuman tajamnya mencium bau seseorang di sekitar sini. Bailin keluar gua ingin melihat siapa yang datang. Rupanya dia adalah seorang pencuri yang mengambil barang milik salah satu penduduk.
"Serahkan barang itu," sergah Bailin.
Pencuri berjubah hitam itu tersenyum sinis. "Enak saja, aku susah payah mengambil barang ini. Aku tidak akan memberikan barang ini padamu.
Bailin menyerang dengan sebuah pedang. Pencuri itu bisa menghindarinya, lalu kabur. Namun, Xiao Yu sudah berada di depan pencuri itu.
"Minggir kau gadis kecil, atau kau akan celaka," ancam pencuri itu.
"Coba saja kalau kau bisa." Xiao Yu menyerang dengan tehnik ularnya.
Pencuri itu masih bisa menghindar. Bailin membantu Xiao Yu menghadapi pencuri itu. Dua lawan satu, pencuri itu akhirnya menyerah dan memberikan barang curiannya.
"Maafkan aku, tolong jangan bunuh aku." Pencuri itu terlihat takut, berlutut memohon agar dia dilepaskan.
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi aku akan memakanmu." Bailin menyeringai menakuti pencuri itu.
Pencuri itu semakin ketakutan, mundur beberapa langkah dari hadapan Bailin.
__ADS_1
Bailin terkekeh. "Xiao Yu ,bawa pencuri ini ke dalam gua. Aku akan mengembalikan barang ini ke pemiliknya."
"Nona, tolong jangan bunuh saya. Saya masih mempunyai anak yang masih kecil." Pencuri itu terus memohon agar tidak dibunuh.
"Sudah, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya ingin bekerjasama denganmu," ucap Xiao Yu menyeret pencuri itu ke dalam gua.
"Nona, apa yang kau harapkan dariku. Aku hanya penduduk miskin yang tidak punya apa-apa," ucap pencuri itu.
"Diam kau! Tunggu suamiku datang, baru kau boleh bicara," bentak Xiao Yu.
Tak berselang lama Bailin datang, lalu duduk di hadapan pencuri itu. "Siapa namamu?"
"Sa-saya Carasco, Tuan," jawab Carasco singkat.
Carasco mengangguk pelan.
"Kalau kau penduduk negeri salju, pasti kau tau tentang putra mahkota yang besok mau mengadakan ulang tahun," ucap Bailin
"Tentu saja aku tau, dia adalah pangeran yang baik dan selalu membantu rakyatnya," balas Carasco dengan nada tinggi.
"Hey, kenapa kau terlihat marah padaku?" Bailin merasa heran.
"Tidak, Tuan. Saya hanya keceplosan."
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya ingin tau informasi darimu. Bagaimana cara masuk ke istana tanpa memiliki identitas warga?" tanya Bailin dengan tatapan tajam.
"Kenapa Tuan mau kesana?" tanya Carasco.
Bailin mencengkram jubah Varasco. "Kau jangan banyak tanya, jawab saja pertanyaanku."
"Ti-tidak ada, Tuan. Karena istana negeri Salju memilki pelindung sihir," jawab Carasco.
"Kalau begitu aku mau pinjam identitas penduduk negeri saljumu," ucap Bailin melepas cebgkramannya.
"Tidak bisa, Tuan. Saya pernah masuk penjara akibat ketahuan mencuri. Kartu identitas saya sudah tidak berguna lagi di sana," ucap Carasco.
"Apa kau tau tentang api biru?" tanya Xiao Yu.
"Tentu saja!" seru Carasco.
"Beritahu kami siapa orang pemilu api biru di negeri salju ini," ucap Xiao Yu.
"Dia adalah putra mahkota kerajaan salju pangeran James," jawab Carasco.
Xiao Yu dan Bailin saling menatap seolah apa yang dipikirkan Bailin sama dengan apa yang dipikirkan Xiao Yu.
"Kau bohong. Aku pernah bertarung dengan perdana menteri mesum, dia juga memiliki api biru," ucap Bailin.
__ADS_1