Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Cerita Tentang Manusia Yang Dikutuk


__ADS_3

"Sepertinya pendekar bukan orang sini?" tanya pria paruh baya itu.


Astara dan Bailin menoleh, lalu tersenyum. "Kami kesini sedang mencari seseorang, Paman."


"Siapa yang pendekar cari, siapa tau aku bisa membantu?"


Astara dan Bailin saling menatap, dengan nada pelan Astara mengucap nama Tao Feng. Pria paruh baya itu pun terkejut dan mulai ragu untuk memberitahu kepada Astara dan Bailin.


"Ikutlah denganku." Pria paruh baya itu mengajak Bailin dan Astara menuju tempat tinggalnya. Pria paruh baya itu menutup pintu dan jendela rapat-rapat.


"Kenapa, Paman!" tanya Bailin.


"Duduklah sebentar," ucap pria paruh baya itu.


Bailin dan Astara duduk dengan perasaan heran.


"Minumlah dulu." Pria paruh baya itu memberi sebotol sake untuk Bailin dan Astara.


"Sake, aku sudah lama tidak meminumnya." Bailin tanpa ragu menenggak sake itu.


"Paman bisa kau beritahu dimana Tao Feng tinggal," ucap Astara.

__ADS_1


Pria paruh baya itu duduk berhahadap dengan Bailin dan Astara.


"Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan tentang Tao Feng," ucap lirih pria paruh baya itu.


"Kenapa, Paman?" tanya Astara lirih.


"Dia adalah peramal yang terkena kutukan, setiap orang yang melihatnya maka orang itu akan terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dia juga penyebar wabah di kota ini, makanya dia diasingkan di puncak gunung kulun. Aku sarankan pendekar jangan kesana, terlalu berbahaya. Disana juga banyak perompak yang tidak segan membunuh orang," ucap pria paruh baya.


"Paman di sini tinggal sendirian?" tanya Astara.


Pria paruh baya itu menunduk sedih. "Lima tahun yang lalu, Tao Feng menyebarkan wabah yang membuat istri dan dua orang anakku meninggal."


"Wabah apa itu, Paman?" tanya Astara.


"Apa paman pernah melihat orang yang bernama Tao Feng itu?" tanya Bailin.


Pria paruh baya itu menggeleng dengan pelan.


"Aku jadi penasaran dengan orang yang bernama Tao Feng itu," ucap Bailin.


Angin malam berhembus semilir di pohon bambu belakang rumah pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu menawarkan Astara dan Bailin untuk menginap di rumahnya. Namun, Astara masih penasaran tentang cerita dari pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Sebaiknya, urungkan niat kalian, sebelum hal buruk terjadi kepada kalian berdua," ucap pria paruh baya itu.


"Tenanglah, Paman. Kami akan baik-baik saja. Temanku ini adalah ..."


Astara menepuk pundak Bailin, memberi kode untuk jangan memberitahu siapa dirinya sebenarnya.


"Paman, kalau begitu kami pamit dulu, terima kasih atas perjamuannya." Astara memberi salam penghormatan kepada pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu seperti tidak rela jika Astara dan Bailin pergi, tapi apa mau di kata, Bailin dan Astara tetap pergi ke puncak gunung.


"Menurutmu, kenapa Tao Feng bisa menyebarkan wabah seperti itu?" tanya Bailin.


"Entahlah, Bailin. Sebelum kita bertemu dengan Tao Feng, kita belum tau," jawab Astara.


Setengah perjalanan, lima kapal kecil meluncur di tanah yang berpasir. Mereka yang berjumlah lima belas orang tertawa mengepung Astara dan Bailin.


"Perompak pasir," ucap Bailin dengan tatapan waspada.


"Sudah lama kita tidak menemukan mangsa," ucap salah satu peromoak itu.


"Minggir atau kalian berakhir di sini," ancam Bailin.

__ADS_1


"Hahaha ... Dasar bodoh. Ini adalah daerah kekuasaan perompak. Kalian yang akan mati."


__ADS_2