
Diam-diam tangan Astara mengepal kuat, sehingga ototnya yang besar itu keluar.
"Pertandingan pertama dari kelempok satu naik ke atas gelangang!" seru Gongfu.
Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang. Mereka naik ke arena, bertarung satu sama lain hingga tersisa satu orang yang bertahan. Astara melihat dengan serius berbagai macam jurus dari para pendekar yang berada di atas arena.
Satu jam sudah berlalu, arena pertarungan tinggal satu orang yang bertahan. Pemenangnya akan menghadapai kelompok dua yang akan bertarung setelah ini.
"Pemenangnya pendekar li dari sekte bangau!" ucap seorang wasit.
"Berikutnya dari kelompok dua silahkan naik ke atas gelanggang!" seru Gongfu.
Astara terbang berada di tengah arena. Para pendekar menyerangnya, namun dengan tehnik tingkat tinggi yang Astara kuasai dari sekte bunga teratai, dia bisa menghindar dari berbagai macam pukulan. Astara dengan kuda-kuda dan tangannya yang terbentang mendorong kesembilan pendekar itu jatuh keluar arena.
Wasit menghentikan pertandingan, dengan cepat Astara memenangkan pertandingan itu. Para penonton yang melihatnya pun bertepuk tangan, kagum melihat kemampuan Astara.
"Kau hebat Astara, tidak kusangka kau bisa mengalahkan para pendekar itu dengan cepat," ucap Bailin menepuk dada Astara.
Astara hanya tersenyum simpul
__ADS_1
Berikutnya dari kelompok tiga, empat sampai dengan delapan, pemenangnya sudah di tentukan. Para pemenang dari masing-masing kelompok naik ke arena memberi salam untuk besok dimulai pertandingan.
Para pendekar yang terluka diobati oleh tenaga medis yang di ketuai oleh Jiarong. Astara memperhatikan bagaimana Jiarong menggunakan air penyembuhan yang di ambil dari sungai di tengah bukit Lin'an itu. Airnya mampu menymbuhkan luka para pendekar dan meresap menjadi obat yang ampuh. Dalam waktu hanya sehari luka luar maupun luka dalam bisa sembuh.
Astara menghampiri Jiarong. "Nona Jiarong."
"Pendekar ikat kepala, sini aku obati lukamu."
"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat saja," ucap Astara.
"Kau hebat sekali, bisa mengalahkan kesembilan pendekar dengan satu serangan," puji Jiarong dengan rona pipi merah.
"Hey Jiarong kau jangan terlalu memuji Astara, dia bisa melakukan itu karena lawannya lemah," celetuk Yutang.
"Hey Yutang, kau diam saja, lukamu belum sembuh benar," balas Jiarong.
"Luka seperti ini sih, tidak ada artinya bagiku," ucap Yutang.
Jiarong menatap sinis Yutang. "Aku malas bicara denganmu."
__ADS_1
"Jiarong, kau mau kemana?" Yutang mengejar nya.
Malam harinya, Astara duduk bersila di kamarnya melakukan meditasi untuk menyegarkan tubuhnya. Bailin sedang asyik duduk melihat Astara.
"Hey Astara, apa kau tidak bosan bermeditasi terus," ucap Bailin.
Astara membuka matanya. "Jika kau bosan keluarlah."
"Kau gila ya, aku sudah di intai Hai Xuan dan Zhang Yutang. Kalau aku keluar sendirian, dikira aku mau mencelakai manusia," ucap Bailin.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Astara beranjak dari tempatnya keluar kamar dengan Bailin.
Diluar masih banyak pendekar yang mengemasi barangnya karena kalah di putaran pertama.
"Ternyata masih cukup ramai ya," ucap Bailin.
Dari belakang Astara dan Bailin di kagetkan dengan kedatangan Hai Xuan. "Kenapa kalian keluar kamar lagi."
"Kau ini bikin jaket saja, kami bosan berada di kamar," ucap Bailin.
__ADS_1
"Besok pertandingan akan di mulai, pendekar yang menang dilarang keluar dari sekte ini," ucap Hai Xuan.