Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Ikan Paus Yang Besar.


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba ada api di sini?" tanya Xiao Yu.


"Kau tenanglah Xiao Yu. Walaupun gunung ini hancur, mereka tidak akan menemukan kita selama kita tidak keluar dari sini," ucap dewa bintang.


"Kenapa mereka begitu kejam? Apa mereka tidak berpikir tindakan mereka akan menghancurkan tumbuhan dan hewan yang ada di gunung ini?"


"Mereka dirasuki aura kegelapan, yang ada dipikiran mereka hanyalah menghancurkan demi mendapat tujuan," jawab dewa bintang.


"Kita harus melawan mereka, sebelum seluruh pohon yang ada di gunung emei habis terbakar." Xiao Yu hendak keluar melawan dewa pagoda dan dewa hujan.


"Kau tenanglah Xiao Yu, kita tidak mungkin menang melawan mereka berdua. Astara terluka parah, aku juga terluka. Ini sengaja mereka lakukan untuk memancing kita keluar," ucap dewa bintang.


Xiao Yu melunak saat melihat luka di bahu kiri dewa bintang.


Di sisi lain, dewa pagoda terus membakar hutan yang ada di gunung emei sampai tak tersisa. Semuanya hangus dengan sekejap. Hewan dan beberapa siluman yang lemah lari ketakutan.


"Sepertinya dewa bintang memang tidak ada di sini," ucap dewa hujan.


"Kaisar kegelapan tidak mungkin salah, kita harus terus mencari mereka di sini," ucap dewa pagoda.

__ADS_1


Dewa hujan mengangguk mengikuti perintah dewa pagoda.


Sedangkan Bailin dan Suli terus berjalan ke arah timur menuju negeri bambu.


"Kalau kita berjalan seperti ini mau sampai kapan kita sampai ke negeri bambu," keluh Bailin.


"Sudah ... kau jangan banyak mengeluh," ucap Xiao Yu.


"Negeri bambu jaraknya ribuan mil dari sini, kalau kita berjalan seperti ini, kita akan sampai kesana dua bulan lagi," ucap Bailin.


Suli berhenti sejenak, lalu tersenyum sinis menatap Bailin. "Pantas saja di dunia manusia tikus sering dianggap hewan menganggu. Kini aku mulai mengerti keluh kesah para manusia."


Suli melipat kedua tangannya. "Dari tadi kau hanya mengeluh dan mengeluh tanpa memberi solusi."


Bailin terkesiap. "A-aku mengeluh supaya punya solusi."


"Kau jangan banyak alasan." Suli berjalan sampai ke ujung tebing.


"Kenapa kita malah ke sini." Bailin terus saja mengganggu.

__ADS_1


"Diam kau tikus busuk," cibir Suli.


Bailin berdecak membelakangi Suli. Suli merapatkan telapak tangan di dada membaca sebuah mantra. Tak berselang lama, seekor ikan paus yang besar berada di bawah tebing. Suli tersenyum melambaikan tangan kepada ikan paus yang meraung seolah memanggil Suli.


Bailin yang melihatnya terkejut menatap ke bawah melihat ikan paus besar itu. "Apa dia hewan spiritualmu?"


"Bukan, dia adalah teman lamaku, namanya Li Shu," jawab Suli.


"Sejak kapan kau punya teman ikan paus, apa dia memangsa manusia?" Bailin masih tidak percaya.


"Kau jangan mengarang, Li Shu ini hanya memakan ikan kecil," jawab Suli.


Li Shu berputar-putar di laut di atas tebing. Bailin mulai melambaikan tangan memanggil ikan paus itu.


"Li Shu, bisakah kau mengantar kami ke negeri bambu!?" teriak Suli.


Li Shu melompat-lompat di air tanda gembira melihat Suli, lalu ikan paus besar itu membuka mulutnya lebar-lebar. Suli mendorong Bailin terjun dari tebing masuk ke dalam mulut besar Li Shu. Di susul Suli yang ikut melompat.


"Kita ada dimana, gelap sekali di sini?"

__ADS_1


"Kita ada di mulutnya Li Shu." Suli menyalakan penerangan yang membuat Bailin terperanjat.


__ADS_2