Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Lubang Gravitasi.


__ADS_3

"Dimana kita bisa menemukan tabib jianli?" tanya Astara.


"Di kahyangan. Tabib Jianli adalah guru para dewa yang sedang menempuh pendidikan dasar," jawab Bailin.


"Jadi di kahyangan ada sekolahnya juga," ucap Xiao Yu merasa tetarik dengan cerita Bailin.


"Tentu saja. Para dewa juga sama seperti manusia pada umumnya. Tabib Jianli tau siapa yang akan menjadi dewa tingkat tinggi. Kau Astara, dulu sewaktu di kahyangan juga pernah belajar dengan tabib Jianli," ucap Bailin.


"Bagaimana caranya bertemu tabib Jianli?" tanya Astara.


"Mustahil kita bertemu dengannya. Sekarang kondisi di kahyangan sedang kacau. Kita menembus perbatasan langit saja para dewa sudah tau ada penyusup," ucap Bailin.


Astara menghela napas panjang, berdiri dari tempatnya, lalu berjalan pelan di bibir pintu.

__ADS_1


"Astara, kenapa kau tidak mencari dewi bulan ke dalam danau amer." Changguan berbicara lewat dada Astara.


"Ada apa dengan danau amer?" Astara terkesiap.


"Saat aku mengambil lumpur di dasar danau amer, aku melihat sekilas cahaya biru di sana, tapi karena aku sedang terburu-buru membantumu, aku mengabaikan cahaya itu," ucap Changguan berbicara di dalam diri Astara.


Astara terkekeh, mengucapkan terima kasih kepada Changguan.


"Teman-teman besok kita cari dewi bulan ke danau amer," ucap Astara.


"Changguan baru saja memberitahuku kalau di dasar danau ada bongkahan batu berwarna biru terang."


Xiao Yu dan Bailin terlihat gembira, tanpa sadar mereka berdua saling berpelukan. Astara berdehem melihat spontanitas dari tubuh mereka berdua. Xiao Yu salah tingkah, sedangkan Bailin hanya menatap dengan wajah datar.

__ADS_1


"Baiklah kita teruskan pencarian esok hari. Sekarang kita istirahat dulu," ucap Astara.


Di istana langit, Raja kegelapan Soma merasa kesal dengan dewa petir karena sampai saat ini belum juga kembali ke kahyangan.


"Yang Mulia kegelapan, biar hamba melihat apa yang terjadi di bumi sana," ucap dewa angin.


"Baiklah, aku perintahkan kamu pergi ke bumi, jika ada yang mencurigakan, selesaikan di tempat," perintah kaisar kegelapan.


"Hamba dewa angin menerina perintah dari Yang Mulia Kegelapan." Dewa angin pun turun ke bumi melihat apa yang terjadi. Bola pengintai sudah tidak bisa di gunakan lagi. Itu sebabnya, dewa yang ada di langit tidak bisa mengetahui kabar kelakuan dewa petir.


Esok harinya, Astara dan Bailin menyelam ke sungai amer atas petunjuk singa berkepala tiga. Sedangkan, Xiao Yu dan Jiarong menunggu di tepi danau. Walaupun dunia di penuhi aura kegelapan, warna air biru danau amer tetap terjaga. Penduduk di sini beruntung tidak kesulitan air karena danau amer tidak pernah kering. Berbeda dengan sebagian penduduk bumi lainnya yang mulai kelaparan dan kesulitan air karena tercemar aura kegelapan.


Bailin dan Astara terus menyelam menyusuri danau. Dari dasar danau terlihat sinar biru menyala terang. Astara dan Bailin menuju sinar itu. Sebuah bongkahan batu besar menyala terang berwarna biru. Bailin memegang batu itu, tapi dia terkena sengatan listrik yang cukup kencang.

__ADS_1


"Batu ini dilindungi energi pelindung," ucap Bailin.


Astara menggunakan energi ki untuk mengangkat batu besar itu. Sebuah lubang seukuran sumur terlihat, lubang itu mengeluarkan tarikan yang kuat sehingga Astara dan Bailin tersedot masuk ke dalam lubang itu. Air yang ada di danau amer juga terserap hingga mengering.


__ADS_2