Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Sebuah Gua.


__ADS_3

"Kau ini, gampang sekali melupakanku," ucap Bailin.


"Apa kau tau dimana dewi bulan, Bailin?" tanya Tao Feng.


"Mana aku tau, seribu tahun semenjak dewi bulan dikurung aku belajar dengan dewa bumi. Sekarang aku juga seorang siluman tikus," jawab Bailin.


"Siapa yang membuatmu menjadi siluman?"


"Dewa perang keparat itu pelakunya," ucap Bailin dengan Nada emosi.


"Maksudmu Soma?"


"Siapa lagi, dia juga yang membuat Astara dan dewi Jingga turun ke bumi menjalankan hukumannya," ucap Bailin.


"Tidak kusangka Soma bisa melakukan hal seperti itu," ucap Tao Feng.


"Saudara Tao Feng, setelah aku menemukan istriku, aku berjanji akan mencari dewi bulan," ucap Astara.

__ADS_1


Tao feng berlutut terlihat senang. "Terima kasih atas kebaikan pendekar Astara. Setelah saya keluar dari gunung ini, saya akan membantu dewa Narendra menemukan keadilan."


Astara dan Bailin naik di punggung Changguan. "Kami pergi dulu. tunggu kami kembali."


Changguan terbang melesat seperti kilat.


"Berapa lama kita sampai di negeri salju, Changgguan?" tanya Astara


"Satu hari," jawab Changguan.


Di negeri salju sendiri Jaiarong mulai gerah dengan sikap Xiao Yu yang selalu memamerkan harta yang didapat dari sisik ularnya itu. Jiarong sudah mengingatkan Xiao Yu berkali-kali jangan terlalu mencolok di depan banyak orang. Akibatnya, orang pemerintahan dari negeri salju datang hendak membawa Xiao Yu dan Jiarong ke istana untuk dimintai keterangan.


"Nona sangat meresahkan negeri ini karena mempunyai kristal hijau yang banyak. Padahal, kristal hijau itu hanya ada dua jenis," ucap salah satu prajurit.


"Aku tidak mau ke pemerintahan!" Xiao Yu berontak.


"Kalau kalian tidak mau, kami terpaksa membawa kalian secara paksa." Prajurit pemerintahan menyerang Xiao Yu dan Jiarong.

__ADS_1


Mereka berkelahi di lorong penginapan tempat mereka tinggal. Xiao Yu dan Jiarong tentu saja bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Prajurit pemerintahan itu pun lari dan hendak memanggil kekuatan yang lebih besar lagi.


"Xiao Yu lebih baik kita pergi dari sini," ajak Jiarong.


"Aku tidak mau. Aku sudah mulai nyaman tinggal di sini," jawab Xiao Yu.


"Tapi, Xiao Yu. Kalau kita tinggal di sini prajurit pemerintahan akan kembali menyerang kita." Jiarong berusaha membujuk.


"Aku tidak peduli, kau lihat sendiri 'kan kita bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Satu negeri ini menyerang kita pun, aku yakin kita bisa mengatasinya," balas Xiao Yu.


"Kau ini, semenjak tinggal di sini sudah mulai seenaknya sendiri." Jiarong kehilangan kesabarannya.


"Kalau kau mau pergi dari sini, silahkan. Aku tetap di sini menjadi ratu di negeri ini," ucap Xiao Yu.


Ingin rasanya Jiarong menampar wajah Xiao Yu, tapi mengingat kebaikannya selama ini, Jiarong hanya bisa menggeleng sambil menatap sembab Xiao Yu. Jiarong berlari keluar dari penginapan tanpa meninggalkan apapun.


"Aku berharap kau akan segera sadar Xiao Yu." Jiarong menatap penginapan dengan perasan sedih.

__ADS_1


Sedangkan Xiao Yu tidak peduli apa yang akan terjadi dengan Jiarong. Dia masih terbawa dengan kenikmatan yang dia miliki.


Jiarong terus berjalan ke arah hutan dengan salju yang semakin tebal. Mantel tebal dan pelindung kepala membuat tubuhnya tetap hangat. Di tengah hujan salju, Jiarong melihat sebuah gua yang cocok untuk berteduh. Jiarong segera berlari masuk di gua yang berada di tengah hutan itu.


__ADS_2