
Astara palsu pun terkejut dengan kecepatan dewa petir. Dia menjauh dari dewa petir untuk menghindari serangannya.
"Aku adalah dewa petir, dewa tercepat di alam semesta." Dewa petir melayang mendekati Astara palsu. Matanya menyala terang, sebuah kilatan petir berada ditangannya, lalu dilempar ke arah Astara palsu.
Astara palsu menghindari serangan petir itu dengan susah payah.
"Mau lari kemana kau." Dewa petir terus mengikuti Astara palsu. Petir dari langit terus mengikuti Astara palsu yang terus berlari menjauh dari gua magma.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, semoga dewa jahat itu tidak menemukan mereka," gumam Astara palsu.
Dewa petir menambah kecepatan terbangnya mengejar Antara palsu.
"Kali ini kau tidak akan aku lepaskan," ucap dewa petir saat berada di depan Astara palsu.
Desa petir melompat, lalu melempar palu dewa dengan kiatan petir mengenai dada Astara palsu. Darah segar mengalir di mulutnya. Astara palsu tergeletak lemas terkena hantaman palu dewa petir.
"Aku pikir akan dapat perlawanan sengit, ternyata kau mengecewakanku. Terimalah kematianmu." Dewa petir menancapkan sebuah petir tepat di jantung Astara palsu.
"Ka-kau akan menyesal." Kata terakhir beruang kutub yang mengubah wujud menjadi Astara. Beruang kutub memejamkan mata untuk selamanya.
__ADS_1
Dewa petir memendam tubuh Astara palsu ke sungai amer. "Bereinkarnasilah kembali menjadi lebih kuat."
Soma sang kaisar kegelapan yang menyaksikan pertarungan dewa petir dan Astara palsu melalui bola pengintai milik dewa pagoda pun tertawa karena dia merasa Astara telah dikalahkan dewa petir.
kaisar kegelapan melakukan telepati kepada dewa petir untuk segera menangkap Jiarong hidup-hidup. Dewa petir segera mencari Jiarong dengan ilmu terbangnya.
Di tempat lain, Astara dan teman-temannya terus berjalan menyusuri aliran magma. Jiarong terlihat kelelahan karena dia sudah tidak mempunyai energi ki lagi. Di tambah panas magma yang menguras tenaga.
"Jiarong kau tidak apa-ap?" Tanya Astara memeluk tubuh Jiarong.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah. Kita harus segera sampai di ujung sungai," ucap Jiarong dengan wajah sayu.
"Jiarong telah memberikan inti roh untuk menyelamatkanmu," timpal Bailin.
"Benarkah, pantas saja kau terlihat lelah, Jiarong. Kau mengorbankan nyawamu demi aku," ucap Astara dengan tatapan penuh makna.
Jiarong tersenyum tipis. "Aku tidak ingin kehilangmu, Suamiku."
Astara terlihat senang dengan kata-kata Jiarong. "Biar aku menggendongmu. Tanpa energi ki kau tidak akan kuat menahan aliran magma ini."
__ADS_1
Jiarong memegang lembut pipi Astara. "Suamiku memang pengertian."
"Astara, ayo cepat. Kita harus segera sampai ke ujung aliran magma ini!" Bailin memanggil Astara yang ada di belakangnya.
Astara berlari menyusul teman-temannya yang berada di depan.
"Panjang sekali aliran magma ini, ujungnya saja belum terlihat. Padahal kita sudah berjalan sangat jauh," keluh Bailin.
"Kau jangan mengeluh, Bailin. Ikuti saja aliran magma ini, nanti ujungnya juga terlihat," bantah Xiao Yu.
"Iya, iya. Aku 'kan cuma berusaha menghibur kalian."
"Dewa bumi, apa yang terjadi di istana langit?" tanya Astara.
"Istana langit sedang mengalami kekacauan. Aura kegelapan merasuki para dewa yang ada di sana," jawab dewa bumi.
"Aura kegelapan, apa itu?"
"Aura kegelapan terlahir dari kebencian dan dendam yang tertimbun di dasar neraka, jika seorang dirasuki aura kegelapan, maka orang itu akan menjadi jahat."
__ADS_1