Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Membantu Astara.


__ADS_3

Bailin menyeringai. "Coba saja kalau bisa, kau belum tau siapa aku."


Siluman rubah putih itu melotot ke arah Bailn. Astara kembali menghentikan mereka berdua.


Siluman rubah putih menatap Astara, lalu berlutut. "Saya mohon, izinkan saya ikut bersama dengan, Pendekar Astara. Ada yang harus saya selesaikan di luar sana."


"Mencari kristal Narendra sangat berbahaya, kau akan beradapan dengan para dewa. Nyawamu bisa terancam," ucap Astara.


"Saya tidak peduli, saya berjanji akan banyak membantu pendekar Astara."


Bailin berbisik. "Sepertinya dia serius."


Astara menghela napas. "Menurutmu bagaimana, Bailin?"


Bailin berdehem. "Baiklah kalau kau memaksa. Tapi ada syaratnya."


"Katakan saja, aku akan menyanggupinya."


"Kau harus mau jadi pembantu kami berdua. Mencuci, memijat, membawa barang-barang kami dll," ucap Bailin.


Astara melotot menatap Bailin. Bailin malah menaik-turunan alisnya sambil memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Asalkan aku bisa ikut bersama kalian, aku bersedia," ucap siluman rubah putih menyanggupinya.

__ADS_1


"Baiklah, mulai sekarang kau akan menjadi salah satu anggota kami," ucap Bailin.


"Siluman Rubah, siapa namamu?" tanya Astara.


"Panggil aku Suli."


"Kau bilang ada yang ingin kamu selesaikan di luar sana, bolehkah aku tau?"


"Ceritanya panjang, Pendekar Astara. Ini menyangkut saya dengan seorang dewa," jawab Suli.


"Dewa?" Astara menyelidik.


Suli tersenyum simpul.


Suli menggeleng. "Selama ini, saya tidak pernah keluar dari desa ini. Berita besar yang saya dengar adalah anda sendiri."


"Apa kau tidak melihat fenomena awan hitam dan hujan kerikil beberapa waktu yang lalu?" tanya Bailin.


"Aku melihatnya, aku pikir itu karena faktor alam," jawab Suli.


"Haiya ... kau ini sama sekali tidak peka. Di langit, seorang dewa jahat telah menguasai kahyangan. Makanya terjadi banyak bencana beberapa hari ini, untung ada kami." Bailin membusungkan dada.


"Oya ... melihat sikapmu yang temperamental, aku tidak percaya kau bisa mengalahkan para dewa," ledek Suli.

__ADS_1


"Kau jangan meremehkanku ya, bahkan dewa perang pun aku buat lari terkencing-kencing."


"Aku tidak percaya ucapanmu." Suli terlihat kesal mendengar ucapan Bailin yang bermulut besar.


"Seratus dua pukul tahun yang lalu aku dilahirkan di bumi. empat kekuatanku tersegel oleh sebuah kristal apa kau pernah melihat sebuah meteor jatuh."


Suli menggeleng. "Aku tidak pernah melihatnya, tapi aku bisa menemukan kristal Narendra, jika aku tau aromanya. Penciumanku ini sangat tajam, tidak seperti tikus itu."


"Dimasa lalu aku adalah seorang tikus dewa. Tingkatanku lebih tinggi dari pada pertapaanmu," timpal Bailin.


Suli melipat tangan ke dada, lalu memutar bola matanya merasa jengah dengan Bailin.


"Itu sangat berbahaya, Suli. Kalau aku mengeluarkan Aura dewa, maka kaisar kegelapan akan merasakan energi ki ku. Kita pasti akan mengalami kesulitan," ucap Astara.


"Bukankah cepat atau lambat pendekar Astara akan melawannya, kenapa harus takut?"


"Sekarang ini kekuatanku tidak bisa mengalahkannya, istriku yang biasa mengobatiku kini berlatih bersama dewi bulan untuk mendapatkan kekuatan dewanya lagi," jawab Astara.


"Kalau begitu, rentangkan tangan pendekar, jangan bergerak, percaya pada saya," ucap Suli


Astara merentangkan tangan dan memejamkan mata. Suli dengan sengaja mendekat di dada bidangnya, lalu merasakan dengan lembut energi ki yang terpancar dari diri Astara.


"Pendekar betul-betul seorang yang welas asih, aku bisa merasakan energi ki yang lembut dan menenangkan jiwa," ucap Suli.

__ADS_1


Astara membuka matanya.


__ADS_2