
Dewa bumi pun terluka parah memuntahkan darah. Sedangkan, Jiarong terus menangkis serangan dari dewi bulan. Jiarong tidak bisa menyakiti dewi bulan karena ikatan guru dan murid yang kuat diantara mereka.
"Dewi bulan sadarlah!" Jiarong tidak henti mengucapkan kalimat itu
Soma yang melihatnya tampak gembira melihat pertarungan mereka berdua.
"Teruslah bertarung untukku guru Jingyi, aku tidak salah memilihmu sebagai guruku. Kau selalu melindungi jika aku ada masalah." Soma tertawa.
Di perbatasan langit, Astara mulai membuka mata dari meditasinya. Dia langsung merasakan kekuatan jahat hebat yang ada di atas sana. Astara segera melesat menuju sumber kekuatan itu. Namun, di tengah perjalanan Astara melihat para dewa terkapar tidak berdaya.
"Dewa bintang, apa yang terjadi?" tanya Astara.
"Soma, terlaku kuat untuk kami," jawab dewa bintang dengan suara parau.
Astara menoleh melihat tubuh seorang wanita yang kurus kering tinggal tulang.
"Suli?" Astara mendekat, lalu memeriksa keadaan Suli. "Dia masih hidup." Astara menyalurkan energi kristal putih untuk melakukan penyembuhan. Jantung Suli yang mulanya berdetak pelan, kini mulai normal.
Seorang tinggi besar keluar dari reruntuhan mendongak dengan mata tajamnya. Astara terkejut melihat sosok itu.
__ADS_1
"Kau adalah, Rabah?"
"Tenanglah, aku ada dipihakmu." Orang utu menoleh.
"Siapa kau, kau bukan Rabah?" tanya Astara dengan tatapan waspada.
"Aku Kakak dari Rabah, namaku Birawa," jawab raja asyura.
"Kakak ... kau adalah raja asyura!" teriak Astara terkejut.
"Kita harus Menyelamatkan dewi bulan dan dewi kesuburan. Mereka dalam bahaya," ucap raja asyura.
"Dimana mereka?" tanya Astara khawatir.
"Aku merasakan energi kuat dan jahat di sebelah barat," ucap Astara.
"Kita kesana," ucap raja asyura.
Sebelum pergi, Astara menyebarkan energi kristal putih untuk menyembuhkan para yang terluka.
__ADS_1
"Hey, kenapa kau bisa berpihak kepada kami?" tanya Astara saat terbang.
"Adik dan kaumku telah dibunuh oleh empat ksatria langit yang dipengaruhi aura kegelapan. Aku terluka parah dam butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku," jawab raja asyura.
"Kenapa kau tidak terluka sama sekali? Jangan-jangan kau ada tujuan tertentu?" Astara curiga.
Raja asyura tersenyum simpul. "Di masa lalu aku pernah memakan buah persik, tubuhku bisa melakukan penyembuhan dengan energi buah persik."
"Jadi kau orang yang telah memfitnahku di masa lalu," ucap Astara dengan nada tinggi.
"Aku melakukan itu karena diperdaya oleh Soma. Dia orang yang licik dan akan melakukan apa saja untuk kepentingan pribadinya," jawab raja asyura.
Di tempat lain, Jiarong mulai kelelahan. Berbagai hantaman dari dewi bulan membuat Jiarong tersungkur ke tanah. Soma dengan gelang emasnya mengikat Jiarong di tanah.
"Lepaskan aku!" Jiarong berusaha keluar dari ikatan gelang emas, tapi gelang itu semakin mencengkram kedua tangan dan kaki Jiarong sampai Jiarong tidak bisa bergerak.
Soma tertawa menyeringai mendekati Jiarong. "Sekarang giliranmu, Sayang. Makanlahbpil pengaruh ini, maka kau akan menjadi milikku selamanya."
Jiarong sekuat tenaga menutup mulutnya supaya Soma tidak bisa memaksanya menelan pil pengaruh itu. Soma pun menjadi geram dan menampar pipi Jiarong sampai berdarah. Mulut Jiarong mulai terbuka, Soma memasukan pil pengaruh itu ke dalam mulut Jiarong. Namun sebuah kilatan petir mengenai punggung Soma hingga memekik.
__ADS_1
Soma menoleh. "Kurang ajar, rupanya kau masih punya nyali untuk melawanku."
"Lepaskan mereka, dasar makhluk laknat," ucap raja asyura.